
Jangan bermain dengan perasaan.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
"Baiklah, sekarang siapa yang merencanakan hal ini?" Tanya Galang yang sudah duduk di ruang tengah untuk menghakimi mereka.
Gior dan Galaxi langsung menunjuk Luca secara bersamaan.
"Ohhh, gadis ini rupanya. Jadi siapa membantunya?" Galang melirik Gior dan Galaxi.
Mereka diam membatu, mereka rasa akan mendapatkan masalah karena Luca. Habis sudah harapan Gior untuk mendapatkan maaf kakaknya.
"Baper banget sih, kita kan cuman mau bikin Gerald seneng. Iyakan Gerald?" Luca menekan kalimat terakhirnya.
"Iya kak." Ucap Gerald patuh, ia dengan polosnya menjawab pertanyaan Luca.
"Jadi lo seneng liat kakak lo kayak tadi?" Tanya Galang.
"Bukan gitu kak, aduh gimana sih Luca." Gerald melemparnya lagi kepada Luca.
Ting Tong
Bel berbunyi, itu seperti sebuah anugerah bagi mereka untuk lari dari pengadilan ini.
"Elen dateng." Ucap Luca semangat membuka pintu.
"Hay semua." Sapa Elen pada mereka, namun keedatangan Helen seperti sebuah tanda tanya bagi gadis itu yang belum mengenalnya.
"Duduk." Ujar Luca mengerti kebingungan Elen.
"Okay sekarang kita mulai aja, gue udah laper." Ucap Gerald selaku pemilik malam itu.
Elen melirik Gior, lelaki itu tampil berbeda malam ini. Dia mengenakan jas berwarna navy dan dan rambut yang tertata rapi, meskipun hanya makan malam keluarga, mereka sangat formal.
"Lo makan aja, gak usah malu." Ucap Luca pada Helen, rupanya es batu ini bisa mencair dan membuka percakapan terlebih dahulu.
Mereka makan dengan tenang, setelah selesai, makan Elen tiba-tiba memiliki ide di kepalanya.
"Omm boleh kasih saran gak?" Tanya Elen menatap Gerald.
"Boleh." Jawab Gerald.
"Kita main truth or dare yuk, biar bisa lebih seru." Ujar Elen dengan semangat.
"Setuju." Jawab Galaxi dengan lantang, sementara yang lain hanya mengangguk.
"Aku ke kamar aja ya." Ucap Helen tidak ingin mengganngu.
"Takut?" Luca tiba-tiba membuat langkah Helen terhenti.
"Ayo." Ucapnya mengurungkan niat ke kamar.
"Kita main di lantai aja ya biar lebih leluasa." Ajak Elen lagi.
Mereka semua berkumpul di ruang tengah dan menaruh satu botol di tengah mereka.
"Gue duluan." Ucap Luca memutar botol itu, dan ternyanta botol itu malah berhenti di Gerald.
"Truth."
"Kebohongan yang sering lo lakukan ke Galang." Ucap Luca.
"Gak ada." Jawab Gerald tenang, sementara Galang tersenyum mendengar jawaban Gerald. Ia tau Gerald adalah tangan kanannya dan satu-satunya manusia yang tidak mungkin menghianatinya.
"Masak sih? Lo gak pernah bohong sesuatu gitu? Atau lo kencan tanpa sepengetahuan dia?" Luca merasa heran dengan jawaban Gerald.
"Nggak, next." Rupanya botol itu berakhir pada Gior.
"Truth." Ucap gior.
"Kapan terakhir lo kencan?"
"Pas sama Luca." Jawabnya santai.
Kini Gior yang memutar botol itu dan berhenti pada Luca. "Rahasia terbesar lo?"
"Emang lo mau gue kasih tantangan?" Gior menatap licik.
"Semua rahasia gue besar, lanjut." Ucapnya bahkan tanpa melihat tatapan kesal Gior kareena tidak di jawab.
"Truth." Botol itu malah berhenti pada Helen.
"Kamar siapa yang paling bagus buat lo?" Luca seperti memiliki arti di balik pertanyaannya.
"Kamar Galang."
"Emang lo udah pernah ke kamar Luca? Kamar dia bagus." Tiba-tiba Galaxi menanyakan pertanyaan itu.
"Nggak." Jawab Helen cepat.
Jawaban itu jelas membuat Luca tau sekarang bahwa perempuan di sampingnya berbohong.
Saat Helen memutar kembali botol itu, rupanya mengarah pada Galang.
Tentu lelaki itu lebih memilih pertanyaan.
"Lo suka sama Luca?" Tanya Helen.
"Iya." Jawabnya singkat, padat dan jelas.
Hal Itu malah membuat Elen tersenyum dan mengguncang tubuh Luca, ia sperti menantikan hal ini.
"Kalo gue yang nanya lo gak pernah jawab." Teriak Luca kesal.
"Sssstt, yang penting lo udah tau. Nanti kita kasi pelajaran." Bisik Elen menenangkan sahabatnya.
Meraka memainkan itu dan sampailah ketika Gior memberikan pertanyaan pada Galaxi.
"Lo suka sama Elen apa cewek lain?" Tanya Gior, jelas hal itu langsung membuat Elen canggung.
"Cewek lain." Galaxi menjawab tanpa melirik Elen sedikitpun, gadis itu seperti merasa malu dan sakit hati.
Dan lebih gugupnya lagi saat botol Elen berhenti pada Galaxi.
"Umur lo sama kakak Lo berapa?" Tanyanya berusaha menutupi canggung.
"Kak Galang 32, kak Gerald 28, Gue 23, Gior 20." Jawabnya.
"Bushettt, cowok lo tua banget." Elen berbisik pada Luca sembari tertawa kecil.
"Yang penting ganteng." Jawab Luca dengan berbisik juga, mereka berdua malah tertawa cekikikan.
Saat Luca berhasil mengarahkan botolnya padanya Gior. Ia juga menanyakan lelaki itu.
"Lo suka sama Elen?" Tanya Luca.
"Dare." Tiba-tiba Gior mengganti pilihannya.
"Oke, anterin Elen pulang nanti."
Mereka meneruskan permainan itu sampai lelah, dan sesuai permainan Gior mengantar Elen pulang.
"Daaa semua." Elen melambaikan tangan pada mereka.
Entah mengapa ia merasa Gior sangat cuek sejak tadi, apa karena bersama karena keluarganya atau hal lain?
.
.
.
.
.
.
Oke komen dan likenya silahkan ya guyss...ππππ