
Knock knock knock.....
Nona muda, tuan muda kendrick datang menjemput anda...ucap Malik.
Luca bangkit dan membawa buku yang ia pinjam bersamanya.
Nona apa anda akan membawa buku itu bersama anda tanya Malik seraya melirik anggara yang kini masih menatap punggung mungil Luca yang sudah menuju pintu keluar dari Ruang kerja papinya.
Mmmm... ini bayaran karena Tuan-mu itu sudah membuatku kesal hari ini....ucap Luca lalu berlalu berlalu begitu saja. Anggara menarik senyum dibibirnya lalu ia kembali pada bacaannya.
Tuan... tak bisakah anda jujur pada perasaan anda... ucap Malik yang masih di depan pintu setelah sang nona muda berlalu.
Aku selalu mengabaikannya, tak pernah ada untuknya, bukankah itu akan menjijikan baginya jika melihatku menunjukkan perhatianku padanya... apalagi anak-anakku yang lain...bukankah itu tak adil bagi mereka...ucap Anggara.
Pergilah, pastikan kau mengantar putri bungsuku dengan baik... ucap Anggara. Malik pamit, Anggara menutup bukunya, senyum dibibirnya menghilang. Ia melamun. Ia marah pada dirinya, kenapa ia begitu sulit mengatakan betapa ia rindu dan sayang pada putri bungsunya itu, mengapa begitu sulit baginya meminta maaf dan berusaha memperbaiki hubungannya dengan anak-anaknya yang lain. Ia tahu ia sudah begitu egois dan terlalu bersalah pada darah dagingnya sendiri.
Luca masuk kekamarnya, lalu membersihkan dirinya dan menganti pakaiannya dan menuju ruang tamu menemui tunangannya yang BUCIN itu.
Nona, apa kau akan datang berkunjung lagi.. tanya malik yang kini sedang menyisir rambut panjang Luca.
Mungkin, entahlah...sahutnya tersenyum tipis.
Tiba-tiba Saka memasuki kamar Luca, dan meminta sisir di tangan Malik, malik memberikannya. Saka menyisir rambut panjang Luca, hal yang selalu dilakukannya saat ia pulang dari bisnisnya.
Haruskah Mas menerima pertunangan dengan perempuan bodoh itu?...ucap Luca
Bukan aku yang menentukan....sahutnya
Lepaskan dia, bukankah mas juga sudah punya bisnis sendiri, kenapa masih mau jadi alatnya... tanya luca.
Kenapa kamu bicara begitu tadi...tanya Saka mengapaikan ucapan Luca
Itu Fakta....sahut Luca datar, Saka tersenyum tipis.
Karna ia buta & tuli...ucap Luca kesal. Ia benci dengan Maya yang tetap bertahan dengan lelaki yang takkan pernah membalas ketulusannya.
Mmmm kamu benar, dia memang perempuan buta dan tuli...jika tidak, tentunya ia takkan dengan bodohnya meminta ayahnya untuk menjodohkannya denganku....ucap saka.
Bukan Papi dan Mami...tanya Luca dengan kening berkerut.
mmm.. sepertinya tua bangka itu, mulai berhenti dengan hobinya, atau mungkin dia sudah mulai bosan dengan yang namanya kekuasaan...ucap Saka.
Luca pun berbalik dan mendongak pada Saka.
Kenapa?...ada yang kamu katakan pada mas mu yang tampan ini... ucap Saka tersenyum.
Putuskan pertunangamu dengan perempuan bodoh itu, dan menikahlah dengan wanita yang Mas cintai. Setidaknya sesorang yang membuat mas merasa nyaman dan ingin membangun keluarga bersamanya bukan dengan seseorang yang menganggapmu patung dewa yunani dan selalu memujamu....bersama seseorang yang seperti itu takkan berakhir baik... aku tak perlu menyebutkan siapa contohnya bukan...ucap Luca.
Saka tersenyum tipis, ia tak marah sedikit pun dengan ucapan Luca. ia tahu jelas Almarhuma kakak iparnya merekalah yang Luca maksud. Wanita lembah lembut yang begitu terobsesi pada Orion, memaksa menikahinya, selalu merasa insecure karna ketampanan sang suami hingga membuat Orion yang selalu setia padanya merasa kalau istrinya itu SAKIT, hingga ia segera mengiyakan permintaan Anggara untuk menceraikan sang istri, semua itu bukan karna ia takut pada Anggara tapi karna ia ingin melihat Istrinya itu kembali menjadi dirinya yang dulu, namun siapa sangka fikiran wanita itu begitu sempit hingga memilih mengakhiri hidupnya bersama kandungannya.
Bohong jika Orion tak terpuruk setelah kematian sang istri dan calon anak mereka, ia menyayangi istri dan calon anaknya, sangat, namun kecemburuan tak berdasar, ketakutan berlebihan hingga tak segan melukai diri sendiri hanya agar Orion tak meninggalkanya justru membuat Orion marah dan kecewa. Ya Orion marah dan kecewa, Orion memang bukan laki-laki baik dan begitu mudah menunjukkan perasaannya. Tapi Orion bukan seorang bajingan yang akan berselingkuh saat ia sudah memiliki istri yang cantik dan mencintainya dirumah menunggunya. Sekalipun Orion belum mencintai sang istri tapi Orion sangat menyayanginya, Orion menjadikan sang istri sebagai prioritas utamanya setelah menikah, namun cinta sang istri yang terlalu berlebih membuat Orion tertekan, namun sebagai seorang suami ia tak pernah mengeluh soal itu sampai ketika ia melihatke cemburuan dan rasa insecure sang istri apalagi tak mempercayainya. Padahal sebelum menikah Orion masih perjaka total, jangankan pacaran, menaruh hati pada seorang wanita pun tidak karna ia tahu pada akhirnya calon istrinya akan dipilihakan oleh orang tuanya. Baginya itu tak baik jika ia menaruh hati pada gadis lain saat ia akan dijodohkan.
Saka pun tak bisa membenci Orion, karna ia tahu betapa Orion menyayangi almarhum istri dan anaknya. Saka juga tahu dengan jelas bahwa sang kakak tak pernah bermain hati dengan perempuan lain. Bahkan setelah akhirnya ia menduda, dipaksa menikah lagi, lalu bercerai lagi, dan akhirnya bertunangan beberapa kali, tak sekali pun ia menemukan sang kakak tak menghargai atau menghianati komitmen dan janjinya pada tuhan saat menikahi pasangannya. Orion selalu berusaha keras memikul tanggung jawabnya. Namun para wanita yang dijodohkan dengannya selalu saja menjadikan layaknya barang mewah yang WAJIB DIPAMERKAN, padahal yang diinginkan Putra sulung Anggara itu hanya rasa nyaman dan ketulusan. Begitu juga halnya dengan Saka, Samudera, Amara & Anita.
Mmmm....Kamu benar, Mas akan putuskan pertunangan itu...kamu benar, sampai sekarang mas masih tetap tak bisa membuka hati untuknya, bukankan mas sudah sangat kejam dengan masih tetap mengikatnya sekali pun ia bersedia...ucap Saka.
Luca bangkit lalu mengambil tasnya dan memegang sebuah buku di tangannya.
Bukannya itu Bukunya Papi...tanya Saka melihat buku yang dibawa Luca, Luca mengangguk
Kamu mencurinya... tanya saka menyelidik.
Lebih tepatnya,"menyitanya"...ucap Luca lalau berlalu menuju ruang tamu diikuti saka yang mengantarnya.