LUCA

LUCA
Empat Mata



Ada apa ? kenapa memanggilku?... tanya Luca begitu memasuki ruang kerja sang papi. Luca berjalan mengikuti papinya keruang kerja sang papi sesuai permintaan sang Papi (Anggara)


Bagaimana kabarmu? tanya sang papi yang kini duduk di balik meja kerjanya, tanpa melihat sang putri. Luca memutar matanya, ia pun berjalan menuju Lemari Buku yang dipenuhi banyak buku tentang bisnis dan buku-buku dengan pembahasan berat lainnya.


Baik... ucap Luca sambil mengotak ngatik lemari buku koleksi Anggaranya yang sangat dilarang untuk disentuh siapapun. Anggara mengangkat kepalanya dan bersandar pada kursinya dan melihat semua gerak gerik putri bungsunya yang tumbuh dewasa tanpa pernah ada dia dan istrnya disamping sang putri.


Mendengar sang papi yang tak lagi bertanya, membuat Luca menoleh ke belakang, benar saja, sang papi sedang mengamatinya.


hhh.... Luca menghela nafas.


Tanpa ku beri tahu pun bukankah anda juga sudah tahu?! Bukankah orang-orangmu yang selalu mengawasiku itu selalu mengabarimu...ucap Luca datar.


Anggara tersenyum tipis, mungkin memang hanya Luca yang bisa mengetahui setiap tindakan papinya, walau ia takkan pernah mengerti mengapa papinya begitu haus kekuasaan hingga begitu tega membuat masa depan anak-anaknya sebagai alatnya.


Anggara berjalan mendekati Luca, Ia membantu Luca mengambil Buku yang tak bisa Luca Raih.


Keluaran pertama? tanya Luca saat melihat buku dalam bahasa Russia itu.


mmm... angguk Anggara lalu mengambil buku yang lain.


Ya, hanya satu kesamaan ayah dan anak itu, mereka begitu suka membaca dan berada dalam dunianya tanpa perduli yang lainnya.


Apa kau datang untuk kembali? tanya sang papi setelah beberapa saat terdiam dan fokus pada buku ditangan masing-masing.


hehehe... tentu saja tidak Tuan Anggara...apa aku begitu gila hingga masih bersedia kembali dan menetap di istana es mu ini??... ucap Luca lalu berjalan menuju Sofa diikuti sang papi. mereka duduk berdampingan.


Anggara memang sedikit bias, rasa bersalahnya pada Luca membuatnya mencari tahu segala hal tentang sang putri yang melarikan diri dari rumah. Ia menghancurkan semua barang di ruang kerjanya saat tahu sang putri terjebak didalam motel bersama seorang pria selama tiga hari 2 malam, walau pun mereka sudah bertunangan dan dan Lingga Kendrick yang tak pernah berhenti mencari Luca dan tak pernah berniat mengakhiri pertunangan mereka.


Tetap berjalan seperti biasanya... sahut Luca


Kau sudah menyukainya...tanya sang Papi


Aku menghargainya, setidaknya hanya ia yang tulus padaku selain Sasa, Dani, Malik dan pekerja disini...ucap Luca menyindir.


Kalau begitu kau akan tetap melanjutkan pertunangan kalian...tanya Anggara. Luca terdiam ia menoleh tajam pada sang papi yang ia kenal sebagai mahluk berdarah dingin yang bahkan takkan menangis jika dara dagingnya mati hanya untuk memperbanyak kekayaannya itu.


Kenapa? apa Tuan Anggara yang terhormat ini ingin menjualku lagi... tanya Luca dengan menatap sang papi yang tepat disampinganya dengan buku ditangannya.


Anggara mengangkat kepalanya dan menoleh pada si bungsu yang kini menatapnya tajam seakan ingin membunuhnya.


Anggara menutup bukunya dan menatap putri bungsunya dengan senyum menyebalkannya.


Menurutmu...ucap Anggara menantang Luca.


Luca menutup Bukunya, Luca menyeringai, membalas tatapan mengintimidasi dan menyebalkan sang papi.


Coba saja.... kira-kira apa yang akan dilakukan oleh tunangan bodohku itu... Dan saat itu terjadi, jangan pernah bermimpi aku akan memihak padamu TUA BANGKA... ucap Luca diambang batas kesabarannya.