
Ini adalah hari yang selama ini kau hindari.
🌹🌹🌹🌹
"Kak semua sudah siap, tapi Adamson belum meninggallkan markas." Ucap Gerald pada Galang.
"Gior, pergilah ke sana dengan menyamar. Kau harus memimpin mereka." Perintah Galang pada adiknya.
"Baik kak." Gior langsung bangkit.
"Jangan lupa aktifkan itu." Gerald menunjuk benda yang menempel di telinga Gior. Itu sebuah alat yang bisa menghubungkan mereka tanpa menelfon, mereka bisa dengar pembicaraan satu sama lain. Dan Luca juga tang membuatnya.
Lelaki itu langsung mengaktifkan dan pergi.
"Kak, cctv di sekitar sana sudah berhasil Luca retas." Galaxi menunjukan laptopnya.
"Kita pantau mereka semua." Galang menatap Layar itu, sebenarnya ia sangat khawatir meninggalkan Luca hanya dengan pengawasan anak buahnya. Tapi Luca menolak, ia mengatakan bahwa itu bisa menimbulkan kecurigaan jika Galang terus menempelinya.
"Kak, Adamson sudah pergi." Galaxi memberitahu.
"Kenapa dia selalu memakai masker? Padahal gue udah penasaran banget." Gerutu Galang menatap Layar.
"Hay Shina." Sapa Adamson pada perempuan yang sudah menunggunya lama.
"Aku sudah menunggumu sejak tadi." Ucap Shina.
"Aku masih ada urusan, sepertinya kau sangat tidak sabar bertemu denganku?" Ucap Adamson menatap Shina.
"Ya, aku ingin meminta perlindungan darimu. Aku sudah kabur-kaburan dari Galang selama ini."
"Itu masalahmu." Jawab Adamson sembari mengangkat tangannya memanggil waitres, ia memesan capucino dengan spagethi.
"Tapi aku melakukannya atas perintahmu." Jawab Shina mulai kesal.
"Kau yang bodoh Shina, kenapa menarikku ke dalam masalahmu."
"Tapi aku,,,,"
"Makanlah dulu." Ucap Admson menghentikan kalimat Shina.
Mereka menyantap makanan, tapi Shina masih tidak meerasa senang dan kembali menanyakan hal itu.
"Aku bisa memberitahu mereka kalau kau yang membunuh Katrina." Ancam Shina pada Adamson.
Lelaki itu melepas garpunya dan menarik nafas kasar. "Kau berani mengancamku?"
"Karena kau tidak mau melindungiku."
"Di serang?" Adamson menatap Shina kesal, ia sudah menduga perempuan itu mengkhiantainya.
"Beraninya kau." Adamson semakin memperkuat cekikannya di leher Shina, tapi kemudian ada beberapa orang yang menyodorkan pistol ke arahnya.
"Lepaskan dia." Ucap salah satu anak buah Galang mendekat.
"Sialan, kau mengkhianatiku seperti ini, kau akan menerimanyanya nanti." Adamson mendorong tubuh Shina hingga terjatuh dan berlari dari sana.
Ia segara mengemudikan mobil, di dalam markasnya ada begitu banyak barang berharga termasuk emas batang hasil penyelundupannya. Ia masih tidak mengerti bagimana mereka bia tau markasnya.
"Serang mereka sekarang." Ucap Adamson memerintahkan seseorang lewat telfon.
Jika meminta mereka mundur dan menjaga markas maka akan membutuhkan waktu yang lama, itupun mereka pasti akan terlambat. Dari pada tidak melakukan apapun, lebih baik ia tetap menyerang rumah Galang. Setidaknya ia tidak akan terlalu kalah telak.
"Shitt, kenapa bisa mereka merencanakan penyerangan lebih awal dariku." Adamson terus memukul setir karena kesal.
Ia terus berfikir keras agar bisa selamat dari semua ini.
"Cepat tarik mundur mereka yang mengawasi perusahaan, arahkan mereka untuk menangkap Luca." Adamson mengubah perintahnya, tadinya ia fikir akan menyerang setelah Luca sampai di rumah dan langsung menghancurkan mereka sekaligus.
"Gadis itu benar-benar cerdik."
Ia sendiri memutar jalurnya dan pergi ke arah sekolah Luca, ia harus memastikan perempuanitu berada di tangannya sekarang. Meskipun tidak bisa menghancurkan Galang, tapi gadis itu harus tetap di dapatkan.
"Tuan, anak buah kita akan segera kalah." seseorang menelfon dari markas.
"Tarik mereka yang masih hidup dan arahkan ke lokasi yang aku kirimkan." Adamson menutup telfonnya.
"Bersiaplah Luca, kau selalu senang mempermainkan ku."
.
.
.
.
.
Yuk sedekah komen dan likenya, semoga kita semua dilancarkan rezekinya🙏🙏