LUCA

LUCA
EPISODE 47



Masa di mana aku harus menelan rasa pahit itu sendirian.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


"Halo Helen."


"Apa semua baik-baik saja Galang?" Tanya Helen, karena tidak biasanya Galang menelfon.


"Ya Helen. Gue mau nanya sesuatu sama lo."


"Apa?"


"Apa Luca selalu menangis jika membahas tentang Sandrina?" Galang melirik Luca yang masih terlelap. Semoga saja ia tak memimpikan hal buruk lagi.


"Kita gak pernah bahas mamanya lagi sejak itu, cuman dia biasanya marah kalau ada yang nyentuh boneka dari mamanya." Jelas Helen, tentu ia tau sebab dirinya cukup lama berada di keluarga itu.


"Apa benar boneka itu cuman ada dua? Dan dimana Luca menaruh boneka milik mamanya?" Tanya Galang mengingat boneka itu.


"Boneka itu di jahit husus Galang, tentu itu hanya ada dua. Itu adalah kado ulang tahunnya di umur 9 tahun. Dan boneka itu hilang bersama kejadian 10 tahun lalu."


"Lo yakin boneka itu hilang Helen?" Tanya Galang sekali lagi.


"Ya, Bram sempat mengkerahkan oengawalnya untuk mencari boneka itu karen Luca yang terus merengek. memangnya ada apa dengan Luca? Apa dia merindukan Sandrina?" Tanya Helen khawatir.


"Ya mungkin gadis itu merindukan mamanya Helen, minta Bram untuk menghubunginya nanti. Mungkin dia akan membaik."


"Baiklah Galang, gue minta banget sama lo jaga Luca. Gue gak mau dia kesepian lagi."


"Apa dia pernah cerita sesuatu sama lo? Atau kenapa dia bersikap dingin."


"Lo tau sendiri Galang, dia gak suka sama gue. Untuk anak 10 tahun pasti akan sulit baginya tumbuh tanpa ibu, terlebih lagi Bram tidak punya waktu untuknya."


"Tapi sikapnya berbeda Helen, seperti ada hal yang ia pendam." Galang terus menatap Luca di tengah pembicaraannya.


"Dia tertutup Galang, Lo udah sama dia kan? Lo pasti tau sikap dia gimana."


Galang mengangguk memahami maksud Helen.


"Baiklah Helen." Galang menutup telfonnya.


Ia tampak berpikir keras saat ini.


Tentu hal ini bukanlah kebetulan.


Boneka itu hilang dan muncul setelah 8 tahun, siapa sebenarnya yang mengambilnya.


Galang sudah mengecek cctv, dan sialnya ada yang mematikan sakering listrik rumah itu sehingga tidak ada rekaman yang ia dapat.


Bukankah terlalu jelas ini sebuah rencana?


Ia sendiri sudah meminta Gerald menyelidiki hal ini, pasti ada orang dalam yang membantu manusia itu.


Tapi siapa?


Galang tentu tidak pernah sembarangan memilih orang yanh bekerja di rumahnya.


"Luca, are you okay?" Galang menghampiri Luca yang bangkit dari tidurnya.


"Gue gak papa." Jawab Luca dingin.


"Luca, gue bakal selalu lindungi lo." Galang memeluk dan mengusap punggung Luca.


Luca hanya diam tanpa memeluk balik Galang, tidak ada senyum di bibirnya kali ini, tidak ada perdebatan atau menghindari Galang.


"Kakak, Luca harus makan." Gior datang mengantarkan makanan.


"Gue mau sendiri." Tolak Luca.


"Tapi lo harus makan." Gior berusaha membujuk Luca.


"Plis, tinggalin gue." Luca menutup matanya, ia benar benar butuh waktu.


"Kita biarin dia dulu." Galang mengajak Gior pergi.


Gior menaruh Makanannya di atas meja dan pergi.


Luca menarik nafas dan membuangnya.


"Siapa yang berani lakuin ini?" Luca menatap bonekanya.


Ia masih terus memikirkan kejadian itu, ia sangat takut dan marah.


Kenangan buruknya hadir kembali setelah susah payah ia kubur selama ini.


Luca mengambil belatinya di bawah bantal.


Itu adalah benda yang selama ini melindunginya, belati itu adalah milik ibunya.


"Lo harus bantuin gue." Ucapnya pada belati itu, ia melempar belati itu ke cermin dan berhasil menembus menghancurkan cermin riasnya.


.


.


.


.


.


.


KALIAN MAKIN PENASARAN GAK SIH?


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA.๐ŸŒน๐ŸŒน