LUCA

LUCA
EPISODE 61



Rasa yang nyaman, hadir dari sebuah pelukan.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Karena kelelahan, Luca malah ketiduran saat ia sedang menonton di hpnya. Perlahan Luca membuka Matanya mengingat ia sedang menonton tadi. Tapi, ia seperti merasakan kehangatan di tubuhnya karena di peluk seseorang.


Galang?


Luca berbalik sedikit demi sedikit untuk melihat lelaki di sampingnya yang tengah tertidur. Perlahan Luca menyentuh wajah itu, lelaki ini yang selalu berhasil menghangatkan hatinya. Lelaki yang mampu memahami perasaan Luca tanpa banyak bertanya.


Ia merasa sangat beruntung di pertemukan oleh keluarga ini, keluarga yang mampu menerima baik dan buruk dirinya. Tanpa sadar, senyum mengembang di wajah Luca, ia begitu yakin dengan perasaannya saat ini. Tantu dia tidak mau kehilangan orang yang selalu memberikan rasa nyaman untuknya.


Luca mengusap rambutnya dengan hati-hati, Galang menggeliat seakan nyaman dengan sentuhan Luca di rambutnya. Gadis itu mencium kening Galang, biarkan kali ini dia yang melakukannya. Biarkan dia bersikap egois karena tidak mau kehilangan sosok itu.


"Kenapa senyum-senyum?" Galang membuka matanya saat merasa ada seseorang yang menyentuh dirinya sejak tadi.


"Ganteng." Ucap Luca dengan senyum yang belum pudar.


"Jangan mancing gue." Ucap Galang mempererat pelukannya.


"Entah kenapa, gue tiba-tiba takut kehilangan lo." Luca meberitahu kegelisahan hatinya.


"Lo gak bakal kehilangan gue." Jawab Galang meyakinkan.


"Kalo gue suka sama orang lain gimana?" Tanya Luca yang membuat Galang langsung melepas pelukannya dan menatap dirinya tajam.


"Gue ikat di kamar biar lo gak bisa ketemu cowok lain."


"Kalau gue sukanya sama Gerald gimana?" Goda Luca mengingat ucapannya di meja makan.


"Oke, gue bakal kirim Gerald ke luar negri." ketus Galang.


Luca tertawa melihat sikap Galang yang satu ini, dia seperti anak kecil saat cemburu.


"Lo sebenarnya suka apa nggak sih sama gue?" Tanya Luca serius.


"Belum saatnya Luca." Galang membelai rambut Luca lembut.


"Lo nunggu gue nikah sama orang lain?"


"Lo gak bisa nikah sama orang lain." Jawab Galang dengan santainya.


"Dih, bisa aja besok Gior ngelmar gue."


"Lo beneran minta gue hukum." Galang menyambar bibir Luca tanpa ampun sampai gadis itu kesulitan bernafas.


"Ikkkhhh." Luca memukul dada bidang milik Galang karena kesal.


"Makanya nurut." Galang malah tersenyum tanpa merasa bersalah.


"Gue tadi ngerasa ada yang ngikutin gue waktu di mall." Luca memberitahu kejadiannya.


Galang tampak berfikir, Saudaranya sudah mengatakan cerita Luca saat kejanggalan pada kematian ibunya.


"Lo tenang aja, gue pasti jaga lo." Galang kembali memeluk tubuh gadis itu.


"Gue bukan takut sama dia, gue takut dia ganggu kalian." Ujar Luca, dia memang sangat mencemaskan orang di sekelilingnya. Terlebih lagi, tadi dia bersama Elen. Siapapun sangat mudah menipu gadis itu.


"Luca, gak usah pikirin yang aneh-aneh." Galang mengusap punggung Luca. Sejujurnya, ia lebih takut jika sesuatru terjadi pada gadis ini. Apalagi Galang sangat mencurigai pelaku boneka itu.


"Gue yakin mama gak mati karena kecelakaan."


"Kenapa lo yakin banget?" Tanya Galang melepas pelukannya.


"Mama gak mungkin hilang gitu aja dari mobil dan berjalan sejauh itu dalam waktu yang singkat. Dan sekarang boneka itu datang dalam keadaan rusak, tentu seseorang sedang berusaha ngancam gue Galang. "


"Tenanglah." Galang mencium kening Luca.


"Yang gue tau, mereka sering berantem sejak kedatangan Helen sebagai sekretaris pribadi papa."


"Kita gak boleh nuduh tanpa bukti Luca."


"Gue gak nuduh dia, tapi semua ini pasti berhubungan."


"Sekarang lo tidur, gue bakal ngurus masalah ini."


Luca mengangguk menyetujuinya, ia memeluk tubuh Galang dan menyembunyikan wajah di dadanya.


Dia adalah satu-satunya tempat ternyaman dan oarang yang paling mengerti dirinya. Lelaki itu bisa membuat Luca menuruti semua perkataan tanpa membantah.


.


.


.


.


.


.


Nah gimana menurut kalian bab kali ini?


Silahkan like dan sampaikan tanggapan kalian pada kolom komentar๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™