
Bagaimanapun kita memiliki hak bersuara.
๐น๐น๐น๐น
"Luca? Ada yang bisa bapak bantu?" Tanya kepala sekolah itu melihat kedatangan Luca ke ruangannya.
"Ada pak, ada yang sangat bisa bapak bantu." Jawab Luca.
"Silahkan duduk dulu." Kepala sekolah mempersilahkan Luca duduk di kursi yang berada di depannya.
"Jadi apa yang membuat kamu ke sini?" Tanyanya lagi.
"Saya ingin melaporkan tindakan pelecehan guru kepada murid di sekolah ini pak, dan saya harap bapak bisa menanganinya." Tanpa basa basi Luca langsung menjelaskan tujuannya.
"Apa kamu punya bukti? Dan guru siapa yang melakukan tidak itu?"
Luca memberikan phonselnya menunjukan para korban menceritakan segalanya yang sudah ia rekam.
"Apa kamu fikir itu cukup untuk dibuat bukti?" Tanya kepala sekolah merasa lega karena Luca hanya memiliki hal itu.
"Tentu saya sangat tau bahwa ini tidak bisa di jadikan bukti, oleh karena itu saya datang ke sini agar bapak bisa menyelidiki hal ini secara tertutup."
"Laporan kamu tidak memiliki alasan yang kuat dan tidak ada bukti, mereka bisa saja melakukan kebohongan agar bisa menjatuhkan nama baik seorang guru." Kilah kepala sekolah.
"Saya kasih bapak waktu dua hari untuk melakukan penyelidikan dan mengumpulkan bukti, jika tidak saya bisa melakukannya sendiri." Luca beranjak dari duduknya dan menatap tajam kepala sekolah. Dari jawabannya, ia sudah paham bahwa sebenarnya kepala sekolah tau semua itu, hanya saja ia menutupinya.
"Saya tidak menerima laporan yang tidak jelas, pekerjaan saya banyak. Silahkan kamu keluar."
"Orang yang melindungi orang jahat, artinya mereka sama." Ujar Luca tanpa mengalihkan pandangannya.
"Kamu mengancam saya? Jangan hanya karena nama Galang kamu bisa seenaknya, di sini saya kepala sekolah, jaga sikap kamu." Bentak kepala sekolah kepada Luca.
"Justru karena saya menghargai bapak sebagai kepala sekolah, maka dari itu saya memberikan laporan ini dan meminta bapak menyelidiki dengan baik. Saya sangat bisa melakukan ini sendiri, tapi apa bapak siap kehilangan harga diri sebagai seorang kepala?"
Kepala sekolah terlihat sangat kesal, ia geram dengan keberanian gadis itu. Ia juga gugup dan merasa terancam, bagaimana selanjutnya?
"Ingat ya pak, dua hari. Saya bisa mengawasi bapak dari manapun." Ucap Luca sebelum menutup pintu ruangan.
"Sialan." Umpat kepala sekolah melempar beberap berkas di mejanya, ia bahkan gentar dengan gadis SMA.
"Ini semua gara-gara Bisma, gimana kalau aku sampai kehilangan jabatan?"
Ia merasa sangat frustasi, Luca membuatnya tidak bisa berkutik. Jika ia memnuntaskan kasus ini, maka semua kasus di masa jabatannya akan terbongkar. Ia akan di anggap lalai dan juga terancam kehilangan jabatan karena selama ini ia menutup semua laporan siswa tentang kasus semacam itu.
Tapi, jika ia diam saja dan mengabaikan kasus ini seperti sebelumnya, maka Luca tidak akan tinggal diam. Dia akan lebih merasa malu karena seorang siswi berhasil menuntaskan kasus ini tanpa bantuan kepala sekolah, dan namanya juga akan buruk. Dan sudah pasti akan di berhentikan.
Gadis itu memang akan menjadi ancaman yang berada di dekatnya, ia bahkan tidak mengenal rasa takut.
"Sial, kenapa juga dia harus sekolah di sini." Ia terus saja marah dan melampiaskannya pada barang di sekitarnya.
Ia bahkan tidak bisa memilih akan maju atau mundur, jika ia berhasil mengatasi masalah itu mungkin dia bisa di maafkan, tapi bagaimana nama baik keluarganya? Dimana Bisma adik sepupunya adalah otak terbesar semua ini.
.
.
.
.
.
Silahkan kalian tinggalkan jejak, jika kalian benar benar ingin mendukung author, ada banyak cara untuk melakukannya.
TERIMAKASIH sudah menemani sejauh ini๐