LUCA

LUCA
EPISODE 82



Katanya, mendekati seseorang yang sedang patah hati adalah waktu yang paling tepat


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


"Luca, gue yakin kakak bukan orang semacam itu." Gior berusaha membujuk Luca.


"Gior gak usah bahas dia." Jawab Luca, mendengar hal itu Gior mengerti suasana hati Luca sangat buruk.


"Gimana kalo nanti kita belanja." Ucap Gior, biasanya perempuan akan sangat bersemangat saat di ajak belanja.


"Gue capek, kita pulang aja."


Gior sedikit kecewa karena tidak bisa menghibur Luca, tapi ia harus berusaha lagi nanti.


Sesampainya di rumah, Luca langsung masuk ke kamarnya dan merebahkan diri. Ia masih memikirkan masalah tadi dan terus teringat saat tubuh Galang memeluk wanita lain.


"Apa begini yang mama rasakan waktu itu?" Luca teringat kembali pada mendiang ibunya. Ia saja yang bahkan bukan siapapun bagi Galang merasa sangat cemburu dan sakit hati, apalagi mamanya waktu itu sebagai istri sah Bram.


Klung!!!


Sebuah pesan membuyarkan Luca.


Orang begok.


Jangan lupa jam 7 lo ada janji, gue udah kasih nomer lo ke dia.


Luca menatap layar itu, ia hampir lupa jika dirinya di paksa untuk pergi dengan Stefan, untung Elen mengingatkannya. Segera ia membersihkan dirinya, ia memang merasa butuh hiburan saat ini.


Setelah selesai berdandan rapi, Galang masuk ke kamarnya.


"Mau kemana lo?" Tanya Galang menatap Luca, tidak biasanya gadis itu akan keluar malam.


"Pergi." Jawabnya singkat, ia berharap Stefan segera menjemputnya agar bisa menghindari Galang.


"Gue anter."


"Gak usah, gue pergi sama temen." Tolak Luca.


Galang menarik tubuh Luca dan menempelkannya ke dinding." Lo gak punya temen selain Elen, jangan karena marah lo malah cari pelampiasan."


Luca semakin kesal mendengar kalimat Galang." Kenapa gue harus marah sama lo? Dan itu hak gue mau jalan sama siapapun." Luca mendorong tubuh Galang.


"Lo gak boleh pergi."


"Atas dasar apa lo ngelarang gue?"


"Sebagai om lo gue larang lo pergi." Kali ini Galang mengucapkannya dengan tegas.


"Oke om yang terhormat, sebagai keponakan gue mau pergi sama temen gue. Dan sebagai om gue, lo gak ada hak ikut campur masalah pribadi gue."


Galang memeluk tubuh Luca dan mencium bibir gadis itu, dia tidak rela jika ada orang lain yang mendekatinya.


Dering hp Luca menghentikan ciuman Galang.


"Halo, gue keluar sekarang." Luca mendorong tubuh Galang dan pergi.


"Siaalll." Galang meninju tembok yang bahkan tidak bersalah karena kesal.


Ia menatap dari balkon kamar Luca, rupanya gadis itu pergi bersama lelaki lain.


~~~~~~\`


"Gue mau eskrim." Ucap Luca yang baru sampai tapi sudah melihat tukang eskrim di sana.


"Ya udah tunggu di sini ya." Stefan pergi membelikan ekrim untuk Luca.


"Ini." Stefan memberikan eskrim yang sudah ia beli.


Luca terlihat sangat gemas saat memakan eskrim itu, ia seperti lupa sedang ada di mana. Stefan mengacak rambut Luca karena tidak tahan meelihat gadis di sampingnya.


"Luca naik itu yuk." Stefan menarik tangan Luca pergi ke sana, Mereka berdua menaiki komedi putar dan menikmati itu.


"Lo gak takut?" Tanya Stefan.


"Biasa aja." Luca mengedarkan pandangannya, saat berada di atas semua terlihat lebih cantik.


Mereka berdua menaiki semua permainan di sana, anehnya Luca malah bisa tertawa bersama pria asing itu. Jika biasanya ia tidak mau melakukan apapun karena malas, dia malah mau saja di tantang oleh Stefan untuk menaiki semua permainan itu.


"Nggak." Tolaknya.


"Yaaahh, padahal gue mau main itu." Stefan menunjuk mesin capit.


"Ayok, siapa yang lebih banyak dapet boneka harus traktir makan di kantin selama satu minggu." Tantang Luca.


"Setuju."


Mereka berdua memulai pemainan itu dengan mesin masing-masing, tak butuh waktu banyak untuk mereka menghabiskan seluruh boneka yang berada di dalam.


"Gue menang." Luca lebih dulu menghabiskan boneka baru di susul Stefan.


Mereka berdua menjadi pusat perhatian, mereka yang menonton sampai terkagum-gamum melihat Luca dan Stefan.


"Lo hebat." Puji Stefan


"Lo juga." Balas Luca.


Mereka berdua akhirnya membagikan boneka itu pada anak kecil atas saran Luca, karena dia sama sekali tidak tertarik memiliki boneka lagi.


"Nih." Stefan memberikan minuman pada Luca yang sedang duduk beristirahat.


Luca hanya mengambil dan menegaknya tanpa kata.


"Lo sering ke taman hiburan?" Tanya Stefan melihat keahlian Luca dalan setiap permainan.


"Gue malah gak pernah pergi."Jawab Luca dengan senyum tipis yang menyiratkan perih di dalamnya.


Stefan mengelus rambut Luca, gadis itu malah teringat pada Galang.


"Kita pulang." Ucapnya bangkit berjalan lebih dulu.


Setidaknya Stefan tidak membosankan seperti cowok lain, atau dia sudah lama meninggalkannya.


"Kenapa pulangnya malem?"Galang mencegat mereka berdua di gerbang rumah, di tatapnya Stefan dari atas sampai bawah.


"Masih gantengan gue." Ujarnya di dalam hati dengan bangga.


Stefan nampak kebingungan dengan Galang." Dia om gue, mending lo langsung pulang aja." Ujar Luca malah mengusir Stefan.


"Ohh, saya pamit ya om." Ucapnya pada Galang kemudian masuk ke dalam mobilnya, sementara Luca masuk ke dalam rumah.


"Wiiihh abis kencan nih?" Galaxi menggoda Luca yang baru tiba.


Gior menendang Galaxi yang tidak melihat ekspresi mematikan Galang.


"Nih makanan." Luca menaruh makanan yang ia beli untuk mereka di meja.


"Luca dengerin gue dulu." Galang mencekal tangan Luca.


"Ommmm, gue ngantuk mau tidur." Luca melepaskan tangan Galang dan pergi.


"Waduhhh, ibu negara lagi marah." Gerald yang biasanya diam malah ikut menyuarakan isi hatinya.


"Kayaknya Luca suka deh sama tuh cowok, soalnya selama ini dia kan gak pernah mau dekat sama orang asing." Galaxi semakin memanasi Galang.


"Diam lo." Galang menatap ketiga adiknya yang sedang mengejek dirinya dengan puas.


Mereka malah semakin tertawa melihat Galang marah, seru rasanya melihat kakaknya yang biasanya kaku malah takut karena seorang gadis kecil.


.


.


.


.


.


.


.


Yuk komen dan likenya di perbanyak.๐Ÿฅฐ