
Jika kalian ada di posisi ini, kalian akan bagaimana?
~Luca.
๐น๐น๐น๐น๐น
"Gaaalanggggg." Panggil Luca lagi setelah mereka masuk ke dalam rumah, lelaki itu terus mengabaikannya sejak tadi.
"Gue mau mandi." Jawab Galang menaiki tangga mengabaikan wajah cemberut Luca di belakangnya.
"Kenapa?" Tanya Galaxi.
"Galang ngambek." Luca menjatuh dirinya ke sofa dan menaruh tasnya sembarangan.
"Masalahnya?" Tanya Gerald yang sedang menyesap kopi hitamnya.
"Dia mau nikah." Wajah Luca masih setia dengan ekspresi cemberutnya.
"Ya terus masalahnya di mana?" Kali ini giliran Gior yang bertanya.
"Gue masih sekolah, gue belum siap nikah." Jelas Luca pada mereka.
Galaxi mengangguk seakan mengerti permasalahannya.
"Lo gak sadar kakak gue udah tua? Dia pasti pengen cepet nikah." GIor mengutarakan apa yang mungkin Galang pikirkan.
"Tapi gue masih kecil." Luca tertunduk lesu.
"Siapa suruh pacaran sama om om." Mulut Galaxi yang pedas itu kembali mengurai kalimatnya.
Luca menatapnya tajam.
"Lo kan masih bisa sambil sekolah Luca, kakak juga gak pernah batasin lo kan?" Ujar Gerald memberi pengertian.
"Gue gak siap, gimana dong?"
"Ya lo waktu di lamar kenapa mau?" Tanya Galaxi.
"Ya masak gue nolak dia, kita kan udah pacaran."
"Ya tapi Luca, ngelamar itu maksudnya mau nikahin lo. Kalo lo gak siap kenapa lo kemarin seneng banget pas di lamar, ya kakak pasti ngiranya lo udah siap." Tukas Gior.
"Gue pikir dia bisa nunggu sampai gue lulus,tapi dia malah marah ke gue."
"Iya dia pati kecewa, cewek yang udah nerima lamaran dia ternyata nolak dia nikah." Gerald menggeleng-gelengkan kepalanya membayangkan penolakan Luca.
"Pasti dia gak tahan karena dia harus menghabiskan masa tuanya sendirian, sementara lo masih asik sama masa muda lo." Galaxi menambahi.
"Ck ck ck ck." Mereka bertigaberdecak bersamaan membayangkan betapa kasihannya kakak mereka.
"Ih kalian malah nogmong gitu sih?" Teriak Luca.
"Jangan sampai setelah penolakan lo kakak jadi sadar." Galaxi mendekatkan wajahnya pada mereka.
"Sadar gimana maksud lo?" Tanya Luca tidak mengerti.
"Karena galau yang gak tertahankan, dia bakalan sadar kalau sebenarnya kalian sangat berbeda. Dia bakal sadar kalau lo masih bocil, dan pada akhirnya dia akan melilih perempuan lain yang dewasa yang bisa nerima dia dan langsung nikah." Galaxi terus saja menanamkan pikrian pikiran itu pada Luca.
"Ihh apaan sih lo, gak mungkin. Dia itu cinta banget sama gue, jangan ngawur." Luca mendorong wajah Galaxi yang menyebalkan.
"Ya udah kalau gak percaya, secara nih ya yang mau nikah sama kakak tuh banyak."
"Iya juga, bunga yang di kirm ke kantor aja banyak banget tiap hari." Gerald setuju.
"Gue gak perduli." Ketus Luca.
"Liat aja, kalau sampai lo di tinggal gak usah sok galau." Gior mengingatkan.
"Denger ya dia gak bakalan ninggalin gue, dia cuman cinta sama gue."
Tiba-tiba Galang keluar dari kamarnya, mereka semua menatap Galang dari bawah, dan Luca tersenyum menatap Galang. Tapi lelaki tu malah memasang wajah datar dan kembali masuk ke dalam kamanya.
"Nah liat kan, kakak gak senyum ke lo." Gior menunjuk Luca.
"Ish, beraninya dia cuekin gue." Luca beranjak dari sana berjalan menuju tangga sembari menghentak-hentakkan kakinya ke lantai.
"Ck ck ck, kasih kakak kita bakal tua nungguin pacar bocilnya." Seru Galaxi menatap Luca yang tengah berjalan menyusuri tangga.
.
.
.
.
.
Yuk di persilahkan komen sam likenya yaa, berikan author vote juga... terimakasih๐๐๐๐