
Apa yang kamu pertahankan dari sebuah keburukan?
πΉπΉπΉπΉπππ
"Pagi anak -anak...." Sapa Guru yang sudah berdiri si tengah lapangan menyapa seluruh muridnya.
"Pagi pakkkk.." Jawab mereka serentak.
Setiap hari sabtu mereka akan di sibukkan oleh olahraga yang menghabiskan waktu selama 4 jam, biasanya mereka akan dilatih dalam berbagai macam olahraga sesuai keinginan mereka. Tapi di awal, mereka akan di buka dengan senam dan lari bersama di lapangan.
"Mulai hari ini saya akan di temani oleh guru olahraga kita dari kelas IPA II, karena sesuai anjuran kepala sekolah, pak Burhan bertukar dengan Pak Bisma. Pak Bisma silahkan ketengah.." Ucap Pak Adam yang sejak dulu mengajar kelas IPA I, memang dalam olahraga mereka ,membutuhkan 3 guru sekaligus dalam setiap kelas karena banyaknya murid yang harus di tangani.
Tapi sepertinya pertukaran Bisma dan Burhan bukan hal yang baik, semua sudah tau bagaimana bejatnya guru dengan perut buncit itu. Ini adalah kabar buruk bagi anak kelas IPA I, dan kebahagiaan bagi anak IPA II.
Sebenarnya mereka bukan tidak melaporkan beberapa kejadian pelecehan Pak Bisma, namun sekolah ini berpegang teguh pada adanya bukti. Dan selama ini belum ada yang bisa memberikan bukti nyata, terlebih mereka terlalu takut dengan hubungan Bisma yang merupakan adik sepupu sang kepala sekolah.
Di sekolah ter elit dan termahal ini, tentu mereka tidak mau jika sampai di keluarkan dari sekolah. Sebagian dari mereka masuk lewat jalur prestasi, itu sebabnya mereka lebih memilih diam dari pada mencari masalah. Dia sekolah sebesar dan terkenal ini, masih sangat minim dalam keadilan.
Seseorang pernah meengatakan, "Semakin banyak uangmu, semakin besar peluang keselematan bagimu."
"Dekatilah seseorang yang bisa di manfaatkan, maka apa yang kamu inginkan akan tercapai meski tanpa uang." ~ Angel.
"Pagi....." Sapa Bisma yang tersenyum, pandangannya menelusuri setiap siswi yang berdiri di depannya.
Pandangan kotornya itu berhenti saat melihat wajah Luca yang masih cantik dan berwajah dingin. Senyum kebusukannya tidak mampu lagi ia bendung, pikiran itu terus menelusuri otaknya.
"Kenapa harus pak Bisma sih." Seru seorang siswi yang merasa kecewa.
"Entahlah, sepertinya kita akan terancam setiap hari sabtu." Jawab satunya lagi.
Luca menarik nafasnya kasar, mendengar ketakutan mereka namun mereka juga tidak berbuat apapun.
"Kita gak seberani lo." Jawabnya menatap Luca.
Angel tersenyum puas menatap mereka dari kejauhan, aura ketakutan sudah terpancar dari arah pandangannya. Ia sangat ingin menyaksikan bagaimana Bisma beraksi jika saja ia sekelas dengan mereka.
"Ayo seperti biasanya kalian lakukan pemanasan." Perintah Pak Adam.
Mereka menurut dan melakukan pemanasan, ingin sekali rasa mencolok mata Bisma yang sejak tadi tadi tidak berkedip menatap satu persatu siswinya.
"Ternyata anak kelas ini bodynya memang bagus-bagus, pantas pak Adam betah." Ujar Bisma tersenyum tipis.
"Bersikaplah selayaknya guru, atau saya tidak perlu anda temani." Jawab Pak Adam yang sudah tidak asing dengan kelakuannya.
"Sesekali bapak harus menikmati, nanti juga lupa kalau bapak guru." Bisma tetap tidak mau menutup mulutnya.
"Sepertinya bapak memang terlatih dari keluarga yang seperti itu." Sarkas pak Adam membuat Bisma diam seketika.
Lelaki itu pergi meninggalkan Bisma sendirian, ia lebih baik pergi daripada meladeni manusia itu. Jika bukan karena perintah, mana mau dia mengajar dengan guru yang minim atitude seperti Bisma.
.
.
.
.
Hay!!! Gimana kabar kalian?