
Cobalah melihat dari sisiku, maka kamu akan memahaminya.
~Galang.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น
Galang melirik jam tangannya sebelum turun dari mobil, jarum jam menunjukan pukul 01:30.
Ia melangkahkan kakinya memasuki rumah, di jam segini pasti seluruh penghuni bangunan itu sudah terlelap. Dan memang itulah yang Galang tunggu, pulang saat mereka terlelap.
Galang melepas sepatu dan menaruh tas juga jasnya.
"Tuan sudah pulang?" Tanya bibi yang masih terjaga.
"Bagaimna Luca?" Tanya Galang.
"Dia menangis sejak tadi tuan, noona bahkan tidak mau makan." Jelas bibi.
"Baiklah, kau bisa istirahat." Ucap Galang meninggalkan bibi.
Ia menuju ke kamar Luca, tanpa alas kaki ia perlahan menghampiri gadis yang tengah terlelap di dalam selimut itu.
Kamarnya berantakan, Galang bisa merasakan bagaimana marahnya gadis itu dengan melihat kondisi kamarnya.
Galang duduk di samping tubuh Luca, ia membelai lembut ramput gadis itu.
Air matanya mengalir menatap mata sembab Luca, ia menyakiti gadis itu berkali-kali.
"Maaf." Lirih Galang, ia juga tidak sekuat yang Luca lihat.
Dia masih sama, masih lelaki yang mencintai Luca.
Galang mencium kening Luca kemudian memperbaiki posisi selimut di tubuhnya.
Ia masih terdiam, matanya tidak bisa lepas dari wajah gadis itu. Ia sangat ingin memeluknya, sangat ingin memukul dirinya sendiri karena berani menyakiti gadis ini.
Galang beranjak dari samping Luca, ia melangkah perlahan kemudian menutup pintu tanpa menimbulkan suara.
"Kak." Panggil Gerald yang masuk ke kamar Galang.
Galang terdiam, ia pergi dari kamarnya.
"Kaaak." Panggil Gerald mengekori Galang.
Lelaki itu berjalan keluar, dia menghantam dinding berkali-kali sampai tangannya terluka.
"Kak hentikan." Gerald menarik Galang, ia berusaha menenangkan lelaki itu.
Apa yang harus Galang lakukan selain melampiaskan amarahnya, dia sangat kesal pada dirinya sendiri.
Bagiamana cara mengatasi hal ini?
Dia tidak tau akan bagaimana menghadapi Luca nanti, dia sudah berjanji akan membahagiakan gadis itu.
"Kita masuk." Ucap Gerald menarik kakaknya ke dalam.
"Luca lo kenapa?" Tanya Gior yang melihat Luca seperti mayat hidup, matanya yang bengkak dan wajah yang pucat.
"Bedak gue ketebelan." Jawab Luca asal.
"Sini gue liat." Gior mencubit pipi Luca bahkan menggosoknya.
"Ihhh sakit." Rengek Luca menepis tangan Gior.
"Gue berangkat duluan." Ucapnya pada Gior.
"Loh gak sarapan dulu?" Gior menatap heran, hanya dia yang tidak tau masalah kemarin.
"Kenyang." ucap Luca.
"Duduk." Perintah Galang.
Luca mengabaikannya dan melangkah pergi.
"Luca gue bilang duduk." Teriak Galang sampai membuat mereka semua kaget, apalagi Luca.
Gadis berbalik menatap mata Galang. " Siapa lo berani nyuruh gue?" Pertanyaan itu berhasi membungkam Galang.
Luca melanjutkan langkahnya, ia tidak perduli pada lelaki itu.
"Kalian berantem?" Tanya Gior.
"Udah buruan makan." Galaxi menepuk bahu Gior agar tidak semakin mengoceh.
Semua menjadi hening, Gior masih penasaran dengan apa yang telah terjadi. Tidak bisanya Galang akan berteeriak pada Luca, begitu juga dengan Luca yang terlihat menyedihkan.
Gior mengirimkan pesan pada Elen, ia meminta gadis itu menanyakan kondisi Luca. Mungkin Luca akan terbuka pada Elen, Gior bisa tau apa yang terjadi di antara mereka.
Tapi melihat Galaxi dan Gerald, sepertinya hanya ia yang tidak tau apapun di sini.
Dia selalu ketinggalan berita.
.
.
.
.
.
Yuk tinggalkan komen dan like kalian.
Kian juga bisa memberikan author vote dan hadiah untuk mendukung karya inj๐๐น