
Semua akan memiliki akhir
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
"Panassss." Rengek Luca karena merasa tubuhnya semakin panas, bahkan ia sangat ingin membuka pakaiannya saat ini.
"Gadis nakal." Umpat lelaki itu yang melihat Luca mengeliat tidak jelas.
Ia menatap Luca dalam. Jujur saja siapa yang tidak akan tergiur dengan wajah dan tubuh Luca yang hampir terekspos. Namun lelaki itu hanya bisa meneguk salivanya dalam-dalam sembari berusaha menyadarkan pikirannya.
"Tolong gue." Luca menarik lengan lelaki itu kuat sampai tubuh lelaki itu jatuh menindih tubuhnya sendiri.
"Luca lepas." Suara berat itu tidak asing lagi di telinganya, meskipun saat ini ia setengah tidak sadar, tapi ia masih sangat mengenal lelaki itu dari dekat.
Senyum Luca mengembang setelah tahu siapa yang berada di kamar itu bersamanya.
"Galanghhh." Rengeknya lagi.
Galang menarik nafas kasar dan berusaha bangkit, namun Luca malah langsung menyambar bibir Galang dengan ganas.
Awalnya Galang berusaha menolak, tapi Luca yang terus menerus menekannya membuat lelaki itu tidak bisa berkutik. Entah apa yang akan terjadi setelah gadis nakal itu sadar nanti, mungkin ia akan menutupi wajahnya seharian jika mengingat kelakukannya.
Luca terus memperdalam ciuman mereka, sementara Galang mulai menurukan ciumannya keleher mulus gadis itu dan memberikan beberapa tanda di dada Luca.
Luca mengalungkan kakinya ke pinggang Galang, lelaki itu semakin leluasa menjamah tubuh gadis yang tengah di landa hasrat itu.
Perlahan, Galang menurunkan pakain yang menutupi dada Luca. Ia membuangnya sembarangan dan menjelajahi dada gadis itu dengan lidah lincahnya.
Suara Luca yang mulai serak saat meracau membuat lelaki itu lebih bersemangat, ia sangat menyukai setiap kata yang keluar dari mulut gadis itu.
Namun sedikit kesadaran menghentikan Galang, ia tidak mau berbuat lebih. Segera Galang bangkit dan memakaikan selimut pada tubuh Luca yang sudah bertelanjang dada.
Luca merasa kecewa saat lelaki itu melepaskannya. " Galang." Panggilnya dengan nada memelas.
"Tidurlah, lo lagi gak sadar" Ucap Galang memunggungi Luca.
"Gak mau." Luca bangkit dan memeluk Galang dari belakang.
"Luca lo bakal nyesel besok kalau gue lakuin ini." Ucapnya sekali lagi dengan halus.
"Gak akan, gue mau sekarang." tegas Luca memutar tubuh Galang menghandap dirinya.
Galang mengabaikan ocehan Luca dan meraih phonsel di sakunya. "Halo."
"Antarkan obat yang gue minta." Ucap Galang langsung menutup telfonnya.
Selang beberapa menit, seseorang mengetuk pintu kamar mereka, dan Galang beranjak untuk membuka pintu mengambil apa yang ia minta tadi.
"Galangggg." Teriak Luca frustasi karena Galang mengabaikan dirinya.
Galang segera menutup pintu dan menatap tajam ke arah gadis itu sembari menggelengkan kepala.
"Lo bener-bener ya, awas aja ya lo besok kalau udah sadar gue hukum lo ya." Ancam Galang.
Bukannya takut, Luca malah tertawa melihat kemarahan Galang yang menurutnya lucu.
"Gue sayang sama lo." Ucap Luca tersenyum memandang wajah Galang.
Galang duduk di sampingnya dan menyodorkan obat dan air agar Luca meminumnya.
"Gak mau." Luca menutup mulut dengaan kedua tangannya.
"Minum."
Luca menggeleng.
"Minum gak?"
"Tapi lo harus tidur sama gue." Pintanya lagi.
"Iya."
"Iya janji." Galang menyambut denganhjari kelngkingnya juga.
"Bukan cuman tidur doang Galang."
"Terus?"
"Ya gitu." Ucap Luca tidak jelas.
"Gitu apa?"
"Kayak tadi." Luca tersenyum dengan poolosnya.
"Dasar gila." Umpat Galang.
"Tuh kannnnnn, yaudah gak mau minum." Tolak Luca.
Galang langsung memasukan obat itu ke dalam mulut Luca secara paksa dan membuat gadis itu menegak air sampai tersedak.
"Uhuk uhukkk, Galang jahatttttt." Teriak Luca lagi.
"Terserah." Galang menaruh air ke meja dekat ranjang.
"Galang gak sayang sama gue, pokoknya Galang jahat. Hiks Hiks, Paaa Galang udah gak sayang sama gue." Luca malah menangis.
"Bocah prikk."
"Huaaaaaaaa." Luca semakin histeris sampai membuat Galang kaget mendengar suaranya.
"Luca jangan nangis."
"Lo gak sayang lagi kan sama gue? Lo udah suka sama cewek lain ya? Ngaku lo." Luca menunjuk Galang sembari tetap menangis.
Galang hanya tersenyum dan memeluk tubbuh gadis itu. "Nggak, gue cuman sayang sama lo."
"Terus kenapa lo gak mau tidur sama gue? Gue gak seksi ya?" Ia bahkan tetap mengoceh meski sudah Galang peuk.
"Iya ntar gue tidurin lo, sekarang merem dulu."
"Beneran?"
"Iya sayang, sekarang tutup mata dulu ya. Jangan buka sampai gue suruh." Ucapnya pada gadis itu sembari membelai lembut rambutnya.
Luca mengangguk patuh dan langsung menutup kedua matanya, isakan kecil masih terdengar saat ia menutup mata.
Sekitar sepuluh menit mereka berada di posisi ini, sampai Galang merasa gadis itu sudah tenang.
"Luca?" Panggil Galang sembari menatap wajah tenang gadis itu saat terpejam.
"Nah kalau nurutkan cantik." Ucap Galang mencium kedua mata gadis yang tengah terlelap itu berulang kali.
Melihat wajah gadis ini membuat rasa kesalnya hilang, seketika ia mampu melupakan kesalahan gadis itu yang membuatnya harus turun tangan sendiri.
"Siapkan mobil." Ucap Galang di telfon.
Kemudian, lelaki itu menggendong tubuh gadisnya.
.
.
.
.
Hay!!! Apa kabar kalian.
Maaf sudah membuat kalian menunggu karena author memiliki beberapa kesibukan akhir2 ini.
semoga kalian tetap bersama sampai akhir...