
Aman, nyaman, adalah sebuah perasaan saat berada di dekatmu.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น
"Luca, gue anter lo pulang ya." Stefan mencekal tangan Luca.
"Gak usah, dia pulang sama gue." Galang datang dan langsung menarik Luca ke sampingnya.
"Gue pulang sama om gue aja." Ucap Luca sembari melangkah masuk mobil.
Galang tersenyum mengejek kekalahan Stefan, bagaimanpun lelaki itu tidak sebanding dengannya.
"Hay." Gior datang dan menarik tubuh Elen ke dalam pelukannya..
"Ihhhh, lo apaan sih?" Elen mendorong tubuh Gior.
"Lo gak kangen sama gue?" Tanya Gior dengan penuh percaya diri.
"Nggak." Elen membuka pintu mobil tapi Gior langsung menutupnya kembali.
"Gue yang nyetir." Ucap Gior merebut kunci mobil di tangan Elen.
"Ih, lo deteng sendiri ngapain pulang sama gue?" Elen mendengus kesal saat masuk mobil.
"Gue di tinggal sama kakak, mereka udah pulang." Ucap Gior, padahal dia sendiri yang minta di tinggal tadi pada Galang.
"Sana naik taxi."
Gior menarik tubuh Elen dan mecium pipinya, Elen hanya bisa melotot kaget dengan otaknya yang masih loading.
"Lo ngapain cium ciumm." Elen memukul bahu Gior.
Gior hanya tersenyum dan melajukan mobilnya, sementara Elen masih merasa kesal.
"Lo yang berusaha deketin Stefan sama Luca?" Tanya Gior.
"Emang kenapa?" Jawabnya dengan sewot.
"Mending lo jangan deketin mereka, lo gak tau kakak kayak apa. Dia gak bakal biarin Luca di ddeketin cowok lain, apalagi kalau sampai tau ada yang berusaha menjodohkan mereka."
"Siapa suruh kakak lo gantungin Luca."
"Lo gak bakalan ngerti sama pikiran kakak gue."
"Dasar cowok,emang ya semua cowok tuh seenaknya aja perlakuin cewek." Umpatnya menyindir Gior.
"Emang cewek tuh ribet ya, gak di tembak di bilang di gantungin. Pas di tembak malah gak mau jawab." Gior melirik Elen yang memerah karena malu atas sindirannya.
"Terserah." Jawab Elen yang sudah kesal.
Elen menatap sosok di sampingnya, memang dia adalah orang yang selalu membantunya. meskipun sangat menyebalkan, tapi Gior selalu ada saat Elen membutuhkan dia, terlebih caranya mendekati Elen membuatnya merasa istimewa.
"Gue butuh waktu." Jawab Elen sembari mengalihkan pandangannya.
"Oke, udah sampai. Lo bisa jawab kapanpun lo siap, selama lo gak deket sama cowok lain, gue pasti nunggu." Ucapnya pada Elen.
"Lo pulang naik apa? Kok lo ngaterin gue ke rumah? Harusnya ke rumah lo duluan." Ujar Elen menyadari kalau Gior mengantarnya ke rumah.
"Gue bisa naik taxi."
"Gak mau masuk dulu?" mereka berdua turun dari mobil.
"Gak usah, kalo udah jadi pacar lo baru gue masuk." Ucapnya tersenyum menatapa Elen.
Elen merasa bahagia hanya dengan perkataan itu, ia seperti sedang di rayu oleh Gior.
"Gue tungguin lo dapet taxi ya."
"Gak usah, sana masuk." Ucap Gior menolak.
Elen tersenyum kemudian berjinjit mencium pipi Gior dan berlari masuk.
"Gadis itu." Gior tersenyum melihat kelakuan Elen, kemudian ia melangkah pergi dari sana.
Sebenarnya ia sudah meminta Edward untuk menjemputnya di sini. Dan benar saja, lelaki itu sudah nangkring dengan mobilnya di sebelah rumah Elen.
"Lo deketin siapa lagi?" Tanya Edward saat Gior masuk mobil.
"Kepo lo." Jawab Gior, kemudian keduanya langsung meluncur ke rumah Gior.
Dengan embel-embel akan di ajak main ke rumahnya, Edward baru mau menjemput Gior ke sini. Ia tau Edward sangat tertarik pada Luca, meskipun nanti pasti dia akan di pelototi kakaknya.
.
.
.
.
.
.
Gimana nih pasangan ink? komen yuk
like yang banyak๐๐๐ฅฐ