
Mari kita tentukan akhir
๐น๐น๐น๐น๐น๐น
"Lo gak suka sama makanannya?" Tanya Galang menatap Luca yang hanya mengacak-acak piringnya.
"Nggak." Jawab Luca singkat.
Mereka saling menatap kebingungan, mereka juga mengerti mungkin Luca masih memikirkan kejadian semalam.
"Luca berhenti menyiksa diri lo, kita akan baik-baik saja." Seru Gerald.
"Gue gak papa." Ucap Luca sembari tesenyum yang di paksakan.
Mereka menyelesaikan makan dengan tenang, Galaxi mengantar Luca dan Elen ke sekolah barulah ia pergi ke kantor. Sepanjang perjalan Luca enggan menjawab atau meladeni ocehan Elen.
"Luca lo gak capek apa diem terus dari tadi."
"Lo gak capek apa nyerocos terus?" Jawab Luca dengan memutar pertanyaan.
"Lo ngebayangin gak sehebat apa Galang? Bahkan kejadian semalem gak ada tersebar ke media, dia bisa ngalahin mereka semua." Ucap Elen dengan penuh binar kebanggaan di matanya.
"Ini baru awal, lo gak usah seneng dulu."
"Maksud lo gimana?" Tanya Elen.
"Hay Luca." Sapa Stefan yang baru tiba.
"Hay Stef." Elen balas menyapa sedangkan Luca hanya tersenyum.
"Nanti jalan ke mall yuk." Ajak Stefan pada mereka.
"Sorry, gue nanti ada urusan." Tolak Luca.
"Urusan apa?" Tanya Elen penasaran.
"Ya udah kalau kalian ada waktu hubungin gue ya." Ucap Stefan pergi ke tempat duduknya.
Selama pelajaran, Luca bolak balik mengecek handphone Shina yang ia bawa. Ia masih penasaran, bagaimana orang itu tidak menghubungi nenek tua ini.
Atau di sudah tau Shina sedang di tahan oleh Galang?
Tapi bagaimana mungkin?
Luca kembali mengecek pesan berulangkali, hanya ada pesan ke nomer Helen di sana. Ia juga sudah mengecek nomer itu dan itu benar nomer Helen, lalu bagaimana cara Shina menghubungi mereka?
11181511151119
171126 0100
Luca menatap berkali-kali deretan angka itu, apa maksud pesan mereka?
Pesan mereka hanya terdiri dari angka, pasti ini sebuah kode. tapi bagaimana cara memecahkan itu?
Ia kembali meletakkan hp, ia harus memikirkan hal ini setelah pulang nanti.
Seperti yang ia rencanakan, Luca pulang ke rumah dan langsung kembali membuka laptopnya. Kali ini dia harus berhasil.
"Jika Shina memberitahu Galang, pasti ini akan lebih mudah." Ucapnya pada dirinya sendiri.
"Gue harus ke tempat dia." Luca memutuskan beranjak dari sana dan pergi mencari anak buah Galang di bawah, ia sendiri belum tau Shina di tempatkan di mana.
"Mari noona." Dia mengantarkan Luca ke ruang bawah tanah.
Saat melewati itu, Luca mencium bau anyir darah segar. Ia sendiri juga tidak tau ada tempat hukuman seperti ini di rumah yang luas dan elegan ini.
"Silahkan noona." Ucap lelaki itu membuka pintu besi.
"Mau apa kau?" Tanya Shina yang sudah lemas.
"Siapa yang nyuruh lo lakuin ini?" Tanya Luca menatap Shina.
"Gue gak tau." Ucap Shina.
Plaaakkk
Luca menampar wajah perempuan itu dengan keras. "Katakan sebelum gue berubah pikiran." Ucap Luca mengancam.
"Bunuh saja aku." Ucap Shina menantang.
"Hahahah, sebelum bunuh lo, gue bakal nyiksa putri kesayangan lo sampai mati di depan mata lo sendiri."
"Lepaskan Helen, dia sama sekali tidak tau masalah ini." Pinta Shina.
"Gue gak perduli, kalo lo gak bisa ngomong jujur sama gue. Cepat seret Helen kesini." Perintah Luca pada anak buah itu.
"Tidak, tidak aku mohon. Jangan membawanya kesini, jangan menyiksanya." Shina mulai menangis memohon.
"Cepat katakan." Bentak Luca pada Shina.
"Aku, aku tidak tau. Aku belum pernah bertemu dengan mereka, hanya sekali dan lelaki itu dia mengenakan masker dan topi." Jelas Shina.
"Cepat seret Helen."
"Tiiiidaaaaakkkk, aku mohon jangan. Aku bersumpah demi putriku aku tidak berbohong, aku tidak pernah bertemu mereka, dia hanya memintaku menguras harta dan memataimu dengan imbalan bahwa kekayaanmu akan jatuh kepadaku."
"Lalu pesan apa ini?" Luca menunjukan hp Shina.
"Aku tidak tau, dia hanya menggunakan nomerku saat mengirim pesan pada orang lain, dia juga bisa berbicara padaku saat aku menelfon Helen. Aku sungguh tidak mengerti bagaimana dia bisa melakukan hal itu, sungguh." Ucap Shina benar-benar jujur.
"Baiklah, beri dia makan." Ucap Luca pergi dari sana, ia merasa kecewa karena Shina rupanya hanya perempuan bodoh.
"Apa sebenarnya semua ini?"
.
.
.
.
.
.
Jujur sebenarnya ada yang membuat author kecewa, di setiap bab like gak rata itu artinya ada yang lupa like padahal udah author ingetin tiap hari.
Dan lagi, author juga ingin komen kalian agar author merasa tidak sia-sia berjam-jam duduk buat ngetik cerita.
Itu saja, maaf jika ternyata cerita author tidak sesuai ekspektasi kalian๐๐