
Kita sudah sampai pada jalan yang di tentukan
๐น๐น๐น๐น
"Gue penasaran Luca ngapain, apa gue balik ke sekolah aja ya?" Elen menghentikan mobilnya dan menepi, ia sedang memikirkan Luca saat ini.
"Bos, dia masih berada di sekolah." Suara seseorang terdengar sampai ke telinga Elen.
"Kita ke sana sekarang." Ucap orang itu.
Elen mengintip dari kaca mobilnya. "Haaaah." Elen segera menutup mulutnya, ia melihat segerombolan orang yang selalu mengganggu Luca, mereka masih mengenakan topi dan masker yang sama.
Syukurlah kaca mobilnya hitam, ia sedikit menunduk saat mereka melewati mobilnya. "Mereka pasti mau samperin Luca, gue harus ke sana." Elen memutar arah mobilnya dan kembali ke sekolah.
Ia sedikit lebih menjauh dan menjaga jarak dari mereka. "Luca kok gak sadar sih mereka ada di sini." Elen menatap Luca yang masih mematung tanpa menyadari satu persatu pengawalnya menghilang.
"Gue gak bisa ke sana bawa mobil, pasti mereka malah nyakitin kita nanti." Elen berusaha mencari solusi terbaik.
"Luca." Teriak Elen yang langsung menutup mulutnya saat Luca di pukul dari belakang hingga pingsan. Ia sudah ingin menangis melihat Luca yang langsung terjatuh lemas.
"Gak gue gak bisa diem aja." Elen mengendap keluar dari mobil, ia berjalan secara sembunyi mendekati mereka.
"Cepat hapus seluruh rekaman cctv daerah ini." Perintah seseorang yang menggendong Luca ke dalam mobilnya.
Elen melihat satu bagasi mobil agak terbuka, sepertinya itu tidak terkunci. Segera ia masuk ke dalam sana dan tanpa sengaja ia menutupnya dengan keras.
"Siapa itu?" Langkah seseorang mendekati bagasi itu, Elen menutup mulut dan matanya. Ia akan habis jika sampai ketahuan.
"Ayo cepat, boss udah berangkat." Tegur satunya menghampiri dan mengurungkan niat lelaki itu membuka bagasi.
Akhirnya Elen bisa bernafas lega setelah mendengar suara mesin mobil yang di nyalakan.
Cukup lama ia berada di dalam sana dan merasa sangat pengap. "Ini mau kemana sih? lama banget sampainya." Gerutu Elen yang sudah merasa kepanasan.
Elen meraih hp di sakunya, ia mencoba mengubungi Gior. "Ehhh kok gak ada sinyal?" Elen mengernyitkan dahinya, ini pertama kalinya tanpa hujan badai dan tragedi apapun di kota malah tidak ada sinyal sama sekali. "Ini sampai mana? Apa ini bukan lagi di kota?" Elen mulai sadar jika dirinya berada di dalam perjalanan.
"Kak, lokasi mereka terakhir terlihat di daerah XXX dan lalu menghilang. Gelang itu tidak bisa kita lacak lagi." Ujar Galaxi yang masih mencari keberadaan Luca.
"Yang pasti mereka belum melalui perbatasan kita kak." Jelas Gerald.
"Gior cepatlah kembali, urusan di sana percayakan pada mereka." Ujar Galang pada Gior.
Saat ini dirinya sudah sampai di halaman rumah, semua bekas pertempuran sudah bersih dan tidak ada tanda-tanda apapun di sana.
"Cepat kerahkan anak buah kita berpencar mencari Luca, dan cepat kirim Andara untuk mengembalikan sinyal di daerah hilangnya jejak mereka." Galang masuk dan langsung memberi perintah.
"Baik kak.."Ucap Gerald.
"Dia tidak tau berurusan dengan siapa." Galang mengepalkan tangannya. "Lakukan semuanya dengan cepat, jangan sampai Luca terluka."
"Tenanglah kak, Luca gadis yang cerdik. Kita juga pasti akan segera menemukannya." Ujar Galaxi menarik tubuh Galang agar duduk dan lebih tenang.
.
.
.
.
Yuk silahkan like dan komennya untuk terus mendukung author,, silahkan berikan tanggapan kalian tentang bab inj