
Cinta adalah pemberian, bukan pilihan.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Giorrrr." Teriak Elen melihat Gior terluka, preman itu melukai bagian pinggang Gior.
Gior memegang pinggangnya dan menekan agar darah tidak terlalu banyak keluar. Meski sudah terluka, ia tetap saja melawan preman itu dan berhasil mengalahkannya.
Setelah kalah, preman itu langsung kabur lari dari mereka.
"Giorr." Elen memeluk Gior dan menyentuh lukanya.
"Aauuu." Seru Gior.
"Hiks, hiks gimana dong?" Elen malah menangis.
"Kok lo malah nangis sih? Gue lagi terluka nih." Ucap Gior heran melihat Elen.
"Mana kunci mobil lo, gue yang nyetir." Elen mengambil kunci mobil Gior dan memapahnya masuk ke mobil, segera ia membawa Gior ke rumah sakit terlebih dahulu.
"Maafin gue yaaa." Elen tetap menangis meskipun luka Gior sedang di bersihkan.
"Tenang ya bak, pacarnya gak papa kok." Ucap perawat perempuan yang membersihkan luka Gior.
"Gak papa gimana kalo banyak darahnya gitu, huuuuuuaaaa." Elen malah semakin menangis.
"Yang luka tuh gue, kenapa lo yang nangis."
"Ya kan kasian." Elen masih menanggapi Gior di sela tangisnya, hal itu malah membuat Gior sangat gemas melihatnya.
"Sudah ya kak, lukanya sudah di bersihkan dan di beri obat. Pasien sudah bisa di bawa pulang setelah menebus obat." Ucap perawat itu dan pergi.
"Gue nebus obat lo dulu." Elen mengusap air matanya dan pergi menebus obat sesuai resep yang sudah di berikan.
Cukup lama ia mengantri di sana, setelah kembali ia melihat Gior tertidur.
"Gior ayo pulang." Elen membangunkan Gior, tapi lelaki itu tak bergerak.
"Gior." Elen menggoyangkan tubuh Gior, tapi tetap tidak ada respon.
"Gior lo kenapa? Hik hiks, lo pingsan ya?" Elen kembali menangis karena Gior tidak bangun.
Elen mengecek nafas Gior dan menempelkan telinganya pada dada lelaki itu. "Dia masih nafas, terus jantungnya masih berdetak. Kenapa dia gak bangun? Apa dia kerasukan." Celoteh Elen.
"Gior bangun dong, maafin gue ya. Gue janji bakal nurutin permintaan lo." Ucap menangis memeluk Gior, ia pikir Gior sedang kerasukan atau sudah berada di alam lain.
"Beneran?" Jawab Gior yang ternyata hanya pura-pura pingsan.
"Kok lo bangun, lo bohongin gue ya?" Elen melepas pelukannya dan menatap curiga.
"Gue gak bohong, tadi gue denger suara lo di alam lain terus bangun." Ucap Gior bohong.
"Emang suara gue bisa sampai kesana?" Tanyanya polos.
Gior mengangguk riang melihat kebodohan gadis itu, mau saja ia di tipu oleh Gior.
"Pulang yuk, lo udah janji mau nurut sama gue." Gior langsung bangkit dan menarik Elen, lukanya memang tidak terlalu dalam baginya.
"Kok lo udah bisa jalan sendiri?" Elen kebingungan melihat Gior yang menariknya.
"Tadi bisa, sekarang sakit." Jawab Elen.
"Gak usah banyak omong, ini juga karena bantuin lo."
"Iya maaf." Elen hanya diam karena memang itu karena dirinya.
"Belanjaan lo masih di bawa?" Tanya Gior yang baru menyadari setelah berada di dalam mobil.
"Iya dong, mau situasi se sulit apapun, jangan lupain belanjaan. Nanti yang ada rugi dua kali." Ucapnya menggurui.
Gior hanya tersenyum mendengar jawaban itu, gadis itu sangat bodoh tapi sangat lucu baginya.
sesampainya di rumah Gior, Elen juga mengantarnya ke kamar. Entah kemana orang di rumah itu tiba-tiba sepi.
"Gue pulang dulu ya." Ujar Elen.
"Lo bawa aja mobil gue, besok gue ambil."
"Gue bisa naik taxi kok." elen tidak enak hati jika terus merepotkan Gior.
"Kalo kejadian kayak tadi, lo mau gue berantem samapai mati?"
Elen cemberut, benar juga yang Gior katakan. Ia tidak mau berada di situasi seperti itu lagi, kali ini dia memang harus menurut.
"Gior." Panggil Elen pada Gior yang memunggunginya.
Mendengar panggilan itu, Gior menoleh. Entah kenapa dan di rasuki apa, Elen tiba-tinba mendekatkan wajahnya dan menempellkan bibir mereka.
Gior yang merasa kaget hanya bisa mematung, Elen yang menyadari hal itu setelah beberapa detik, ia menjauh dan menutup mulutnya.
Gior hanya menatap datar pada Elen, tapi Elen sudah seperti kepiting rebus dan lari dari sana. Lebih baik ia segera pulang dari pada tetap berada di sana.
"Gue kok bodoh banget." Ucapnya sembari berlari menuruni tangga dan memukul kepalanya sendiri.
Luca yang tidak sengaja berada di luar kamarnya menatap aneh, menapa Elen bisa ada di rumahnya dan berlari seperti di kejar hantu.
"Mampus gue, kenapa mulut gue main nyosor aja." Umpatnya menepuk mulutnya berulangkali.
Dia sungguh sudah mencari masalah untuk dirinya sendiri.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa like dan komen kalian di setiap bab, karena hal itu akan membantu untuk mensuport karya ini..
TERIMAKASIH🥰🥰