LUCA

LUCA
Keinginan Luca



"Dasar om om girang...."


Sudah seminggu ini kata-kata itu terus terngiang ditelinga Lingga, apa lagi tatapan jijik yang Luca lemparkan pada Lingga sore itu.


Flashback.


Luca menoleh kebelakang saat mendengar gumaman Luca. Lingga ingin mengejarnya namun seorang wanita cantik nan sexy itu terus saja menempelinya.


Ah... pantas saja Luca menatapku dengan jijik, siapa yang takkan jijik jika melihat tunangannya tak keberatan di tempelin parasit seperti wanita disampingnya itu. Lingga sontak mencampakan tangan wanita itu dan mengejar Luca namun gadis itu sudah naik kedalam sebuah bus.


Entah bagaimana tiba-tiba tubuh Lingga bergerak sendiri mengejar Luca, namun ia gagal saat melihat Luca sudah naik ke dalam bus. Ia pun ingin menghubungi Luca, namun saat ia melihat hpnya, ia baru sadar ia tak memiliki nomor hp Luca. Bertanya pada sang ayah?? oh tentu tidak, mau ditaruh dimana wajah dan gengsinya.


****


Alhasil hal itu membuat Lingga uring-uringan. Ia sengaja menyibukkan diri dengan pekerjaan kantor dan Klan nya. Semua itu ia lakukan untuk menahan rasa rindunya pada Luca. Apalagi ia tahu dengan jelas Luca membencinya.


Lingga masih ingat dengan jelas, bagaimana keteledorannya pernah membuat Luca meregang nyawa, dan yang terakhir ia sukses membuat Luca merasa jijik padanya.


Arghhhhhh........


Lingga berteriak frustasi, Gengsinya begitu besar untuk mengakui kalau ia sudah memberikan seluruh hatinya pada Luca dengan suka rela. Rasanya ia ingin menculik Luca dan mengurungnya dalam kamar agar tak ada siapa pun yang bisa melihat ataupun mendekati Luca. Ia ingin Luca menjadi miliknya. Apa lagi saat ia tahu alasan sebenarnya sang papa mempertunangkan mereka. Jujur saat itu ia ingin marah karna secara tidak langsung itu artinya Luca masih bisa meninggalkannya kapan pun gadis itu mau. Sungguh Lingga tidak rela, ia bahkan tak sanggup membayangkan Luca bersanding dengan yang lain.


****


3 Minggu kemudian


Luca tak sengaja bertemu dengan Lingga disebuah mall, atau lebih tepatnya Lingga yang sengaja membuntuti Luca. Awalnya Lingga hanya ingin terus mengikuti Luca tanpa membuat Luca mengetahui keberadaannya, namun saat melihat beberapa pemuda yang sepertinya tertarik dan berniat mendekati Luca, membuat Lingga segera mendekati Luca.


Luca ingin mengambil buku di tempat paling atas diantara bookshelf yang ada di Gramedia itu..namun tolong diingat Luca itu cebol tingginya hanya 160CM, hingga jinjit seperti apapun ujung jarinya takkan bisa menyentuh buku yang ia inginkan.


Tapi tiba-tiba, Luca merasa tubuhnya terangkat, ia menoleh menatap siapa yang dengan lancang menggendongnya. Mata Luca membuat ia terkejut mengetahui siapa dalangnya.


Gak jadi ngambilnya... ucap Lingga yang masih mengangkat Luca.


Luca tersadar ia pun segera mengambil buku yang ingin ia beli.


Setelahnya Lingga menurunkan Luca.


Makasih...ucap Luca cuek dan berlalu mencari buku yang lain, Lingga mengikuti kemana pun Luca melangkah, Lingga mengambilkan buku yang yang tak bisa Luca jangkau tanpa diminta bahkan ia membayar semua yang ingin dibeli Luca tanpa izin.


Lingga heran, kenapa luca tak tertarik padanya seperti wanita lainnya, lihat bahkan saat ini sudah entah berapa banyak wanita yang menatapnya lapar. Tapi Luca, jangan harapkan itu.


Setelah ini ada lagi yang mau kamu cari... tanya Lingga seraya memainkan ujung rambut Luca yang hari itu digerai. Luca menatap Lingga heran.


Luca menggeleng sebagai jawaban.


Kita makan dulu ya... ucap Lingga menatap mata Luca dengan hangat, Luca terdiam, ia bingung dengan tatapan mata itu. Itu tatapan mata yang sama yang sering diberikan Dio pada Anita.


Luca pun mengangguk setuju. Lalu Lingga tersenyum manis dan mengambil barang belanjaan Luca lalu menggantungkan tangan Luca dilengan nya. Luca terdiam ia melihat tangannya di lengan Lingga. Dahinya berkerut.


Ah Lingga sadar, Luca pasti masih ingat kejadian 3 minggu lalu.


Maaf soal yang lalu, sekarang itu gak akan terjadi lagi (karna sekarang cuma kamu yang boleh menyentuhku..batin lingga)... ucap Lingga, Luca sontak menatap Lingga bingung dengan maksud kalimat Lingga.


Kalau saja Lingga tahu, kalau luca bahkan sudah lupa pernah bertemu Lingga 3 minggu lalu, mungkin saat ini lingga sudah sangat malu.


Mau makan dimana? tanya Luca tak ambil pusing.


Kamu mau makan apa? tanya Lingga lembut.


mmm... food court aja deh... ucap Luca sambil refleks tersenyum, saat ia membayangkan banyak pilihan disana.


Lingga terdiam saat melihat senyum manis Luca yang hanya pernah ia lihat dari jauh, Senyum yang sering Luca berikan pada Sasa dan Dani.


Hei,... om... ucap Luca menyadarkan


Jangan panggil om, panggil kakak aja, aku bahkan tak lebih tua dari Saka...pinta Lingga.


Males ah, aku gak suka... punya lima orang kakak yang mengabaikan ku sudah lebih dari cukup, aku gak perlu tambah satu orang lagi... ucap Luca dingin. Lingga terdiam.


Okay... terserah Luca aja... mungkin aku harus menganggap kata "Om" itu sebagai panggilan sayang kamu buat aku... ucap Lingga lalu membawa Luca menuju food court, sedang Luca sudah melongo mendengar ucapan seenaknya dari Lingga.


****


Tak lama pesanan mereka pun tiba. Luca menatap gelas minuman Lingga. lalu menatap Lingga. Lingga pun mengerti arti tatapan Luca. Lingga hanya tersenyum. Mereka pun makan dengan tenang tanpa pembicaraan, tapi bagi Lingga itu bukan masalah selama ia bisa melihat dan berada didekat Luca berlama-lama seperti ini.


Luca mengambil Notebook dari dalam tasnya, hingga sebuah lebaran soal universitas diluar negeri menarik perhatian Lingga.


Kamu akan kuliah diluar... tanya Lingga membaca selebaran itu. Luca melirik Lingga, ia pun mengangguk


Mau ambil apa?? tanya Lingga


Arsitektur, Art, Design... belum pasti..... ucap Luca cuek dan kembali surfing di notebook nya. Lingga menatap Luca yang masih tenggelam dalam dunianya itu.


Lingga pun menarik kursinya mendekati Luca. Lingga bisa melihat dengan jelas Luca sedang mencari universitas yang menyediakan beasiswa, Uang saku + Akomodasi. Dahi Lingga berkerut, ia heran kenapa Luca harus repot seperti ini, bukankah keluarga sangat mampu untuk membiayai semua keperluannya? lalu kenapa?


Beasiswa...?? gumam Lingga


Mm...aku butuh itu jika ingin kuliah diluar... ucap Luca cuek, ia tak lagi menganggap Lingga musuh, baginya Lingga hanya putra dari murid kakeknya + rival caturnya.


Kenapa?? tanya Lingga


Karna aku butuh...ucapnya


Bukankah keluargamu berkecukupan?..... tanya Lingga, tangan Luca berhenti seketika.


Luca hanya diam. Lingga tak lagi bertanya.


Berapa tahun kau akan menyelesaikan studi-mu?.... tanya Lingga


mm...normalnya sih 4 tahun, tapi entahlah... ucap Luca


Jadi selama kurang lebih 4 tahun kau akan menetap di luar negri?... tanya Lingga lagi. Luca menggeleng


Jadi lebih?? ..... tanya Lingga, Luca menggeleng lagi.


Lalu sampai kapan??.... tanyanya


Selamanya mungkin... ucap Luca datar. Lingga terdiam ia menatap Luca lama.


Kenapa??....tanya Lingga lagi.


Karna aku bukan orang bodoh yang mau menghabiskan hidup dan waktuku yang berharga ditempat dimana tak ada seorang pun yang menginginkan aku...ucap Luca datar.


Lingga terdiam.


Sebenarnya kehidupan seperti apa yang kamu alami... batin Lingga bertanya