LUCA

LUCA
ESISODE 108



Aku yang selalu menginginkanmu


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Luca merebahkan tubuhnya sesaat, ia meraih ponselnya dan menghubngi Alex seperti rencanya.


"Hay."Sapa Alex yang sudah melambikan tanggannya.


"Senyum lo tetap menjijikkan sejak dulu Lex."


"Dan lo cantik sejak dulu Luca."


Merekka berdua tertawa seperti kawan lama yang baru mengobrol.


"Gue gak mau basa-basi, lihat ini." Luca menunjukkan laptopnya dan kegagalannya melacak nomer asli pengirim pesan itu. "Gue gagal berkali-kali." Ujar Luca sangat jengkel.


"Ohh itu, foto itu dan kirim. Gue bisa cek dulu." Ujar Alex.


"Oke." Luca langsung memutus sambungan tanpa memeberikan basa-basi.


Segera ia mengambil beberapa gambar dan mengirimkannya, ia cukup lama menunggu balasan Alex.


Sekitar 10 menit baru Alex membalas pesan Luca.


Alex Coi


Gue butuh 1 jam untuk ini.


Luca


Gue tunggu.


Alex menatap heran, ia merasa tidak asing dengan hal ini. Ia seperti pernah melakukan hal ini atau ini hanya dejavu.


"Waktu kita sudah kurang dari 24 jam." Luca menatap keempat omnya, mereka berkumpul di ruang tengah.


"Gue udah melepas Shina seperti rencana kita, dia akan berusaha untuk meminta bertemu dengan orang itu. Jika ini berhasil, maka itu akan memudahkan kita." Gerald menjelaskan.


"Besok akan ada orang yang ngawasin lo selama di luar." Ucap Galang pada Luca.


"Tidak perlu, itu bisa membuat mereka curiga." Tolak Luca.


"Mereka anak buah gue, mereka ahli." Galang tetap memaksa.


"Tapi itu gak perlu."


"Gue gak pernah bantah semua rencana lo, tapi nggak kali ini." Galang menatap Luca tajam.


"Sudahlah, ini juga buat keselamatan lo." Tambah Galaxi.


"Sebentar lagi gue pasti bisa lacak nomer itu, kita akan tau apa yang akan mereka perbuat." Luca merasa yakin.


"Kak, seluruh perbatasan sudah di perketat." Gior membaca pesan masuk.


"Apapun yang terjadi besok, kita harus sigap. Kemungkinan mereka akan menyerang rumah kita, dan pasti ada hal lain di balik itu." Galang menyesap minumannya, sudah sejak semalam ia belum memejamkan matanya.


"Sebaiknya kita istirahat, besok kita kumpul lagi." Ucap Gerald mengakhiri perbincangan mereka.


Luca mendekati Galang dan memeluknya, sebenarnya ia sangat takut. Ia tidak pernah merasakan hal ini seblumnya, tapi kali ini dia punya mereka yang akan selalu membuatnya khawatir.


"Boleh gue jujur?" Galang membuka suara.


"Hmmm."


"Gue gak pengen lo ikut dalam rencana besok, meskipun gue tau lo pasti nolak." Tutur Galang balas memeluk Luca.


"Ini adalah masalah gue, gue juga harus menentukan akhirnya."


"Dengar, apapun yang terjadi besok jangan pernah membuatmu terpuruk." Galang menatap wajah Luca.


"Gue janji."


"Bisakah kita menghentikan waktu?" Galang mengutarakan pertanyaan konyol.


"Nggak, tapi kita bisa menikmatinya." Luca bangkit menarik Galang ke kamarnya, ia mengambil tikar dan mengajak Galang melihat bintang dari balkon kamarnya.


"Gue gak butuh mereka, gue udah punya satu?" Ucap Galang saat Luca menunjuk bintang.


"Mana?" Tanya Luca dengan polosnya.


"Ini." Galang menatap Luca dalam. "Lebih bersinar dari bintang."


"Gombal banget lo." Luca menabok wajah Galang.


"Lihat, bintang jatuh." Galang menunjuk satu bintang.


"Katanya kalo bintang jatuh permintaan kita bisa di kabulkan." Ujar Luca menatap bintang itu.


"Yaudah kita coba." Ajak Galang.


"Lo percaya?"


"Kalo belum coba kita gak bakalan tau, buruan buat permohonan." Galang menutup mata Luca.


"Gue gak pernah minta apapun, tapi kali ini izinkan gue bahagia bersama mereka." Gumam Luca memohon di dalam hatinya.


"Katanya kalo ciuman doanya juga langsung terkabul." Bisik Galang membuat Luca geli karena nafas di telinganya.


"Iiihhh modus." Luca mencubit pinggang Galang.


.


.


.


.


.


Readers bisakah kalian komentar setelah jerih payah author ngetik berjam jam.. Like dan komen kalian sidah cukup menghilangkan penat author...๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


Dan untuk para pembaca semoga kita sehat selalu dan di lancarkan rezekinya๐Ÿ™๐Ÿ™