
Yah, ayah ada utang berapa banyak sampai mesti ngejual anak kayak gini.... tanya Luca tanpa mau menyaring ucapannya
Luca Hanaya Anggara, 17 tahun. Aku tidak secantik bunda ataupun ke dua kakak perempuanku, Aku juga tak setampan Ke tiga kakak laki-laki-ku. Aku hanya si bungsu yang selalu dibanding - bandingkan dengan ke 5 saudaraku yang sempurna penampilan luarnya
Wajah yang cantik, tubuh aduhai, sopan santun yan elegan semua itu sepertinya tak berniat nemplok di jiwaku.
Sepertinya saat kedua orang tua ku bekerja sama membuatku mereka tak sempat membuat rencana, bungsu seperti apa yang ingin mereka lahirkan.
17 tahun hidup di rumah keluarga Anggara, menjadi si bungsu disana tak membuatku menjadi kesayangan mereka. Setelah membuatku, mengandungku dan melahirkanku sepertinya aku justru di besarkan lewat ibu susu dan dengan kasih sayang dan perhatian para ART dan Baby sitter.
Well, 17 tahun bukan waktu yang singkat untuk membuatku terbiasa dengan hal "Menakjubkan" itu.
Makan malam bersama seperti ini, rasanya bisa terhitung dengan jari. Aku bukan ingin protes, sungguh. Karna aku tahu semua yang aku miliki, merekalah yang memberikannya dengan bekerja banting tulang hingga lupa punya rumah dan mungkin lupa punya anak.
Ke 5 saudara sedarah-ku itu semuanya adalah mahluk sempurna, tak hanya paras yang tampan dan cantik, otak yang sexy + fashionable seolah menambahkan kesempurnaan mereka dimata yang melihatnya.
Cemburu???! oh... tentu tidak, aku suka diriku yang jauh dari kata sempurna bahkan mungkin aku takkan pernah sebanding dengan jari kelingking di kaki mereka.
Kamu...!!!. ucap ayah terpotong saat melihatku menatapnya tajam dan mendengar sindiranku.
Tuk...aku meletakan sendok dan garpu ku dengan kasar hingga membuat semua penghuni meja makan yang hadir saat itu menatap ke arahku, Si Gadis bertubuh mungil yang selalu mereka lupakan kehadirannya.
Luca.... Nama putri bungsu ayah..... Luca Hanaya Anggara... bukan "Kamu".... Jangan bilang 1.095 hari tak pulang, membuat ayah lupa dengan nama putri bungsu ayah sendiri..... ucapku dingin
Mereka terdiam, mereka tahu aku tak suka banyak bicara, aku bahkan tak pernah membuat mereka malu apalagi dipanggil ke sekolah karna ulahku, aku justru selalu membuat mereka dipanggil ke sekolah karna prestasiku.
khhemmm..... ayah dan bundaku berdehem. Ke 5 kakakku tampak ikut tersindir, ya beberapa dari mereka memang terkadang pulang ke rumah utama ini namun kami bahkan tak pernah bertemu. hebat bukan. Jujur aku bahkan kadang lupa dengan wajah mereka kalau bukan karna photo keluarga yang terakhir kali diambil, mungkin sekitar 10 tahun lalu saat aku masih berusia 7 tahun.
Ya, bocah 7 tahun, saat itu aku hanya bocah 7 tahun. Lalu kenapa dalam photo keluarga itu tak ada senyum khas bocah 7 tahun di wajahku bahkan sekalipun ayah memangku aku di dalam photo itu. Mungkin karna bocah itu tahu, setelah pemotretan ia takkan bertemu keluarganya lagi karna ke sibukkan mereka.
Luca, ayah akan menjodohkan kamu.... kamu suka atau pun tidak... ucap Anggara mengabaikan
Luca gak pernah bilang, kalau luca menolak, yang luca tanyakan sebanyak apa hutang seorang Anggara hingga menjual putri bungsunya yang baru 17 tahun.... tanya Luca tak bergeming
Tak..... Luca kembali menghentakkan alat makannya kasar ia menatap dingin Anggara, tatapan yang sama dengan Sang Kakek, ayah dari Anggara.
Tidak perlu berteriak, kita tidak tinggal di hutan... ucapku dingin.
Luca.... ucap saka kakak laki-laki pertamanya
Luca menarik nafasnya dalam. Lalu ia bangkit dari duduknya.
Melihat ayah yang begitu memaksa, Luca bisa menebak, sepertinya jika luca menolak mungkin semua yang ada disini akan berakhir di kolong jembatan bukan?!... ucapku
sebelum sempat ayah membalas.
Tentukan saja waktunya, luca mau lihat Pedophil seperti apa yang sudah membeli ku dari ayah.... ucapku
Dia bukan Pedophil.... ucap Ka Orion kakak keduaku.
Oh ya??? Disini ada 2 bidadari cantik yang masih single, yang satu seorang super model yang satu lagi seorang Dokter, keduanya begitu mapan dan cantik. Lalu kenapa? kenapa laki-laki yang kakak sebut bukan Pedophil itu justru membeli ku?? Aku bahkan masih 17 tahun.... Jangan bilang yang membeli ku adalah bocah 17 tahun sama denganku... Tidak mungkinkan ayahku yang licik dan dan begitu hebat dalam bisnis ini kalah dengan bocah belasan tahun??....ucapku yang segera membuat terdiam tak berkutik.
Aku pun berlalu pergi...namun langkahku tertahan
Luca, kamu belum selesai makan dek.... ucap kak Samudra kakak ke tiga-ku.
Diet?? bukankah aku harus menjaga bentuk tubuhku demi bertemu pembeliku... sindir ku, lalu kembali berjalan dan kembali kuhentikan langkahku lalu aku menoleh.
Ah... terimakasih untuk kado ulang tahunnya, sungguh sangat berkesan.... ucapku lalu benar-benar beranjak menaiki tangga dan menuju kamarku
Mereka terdiam.
Hari ini ulang tahub nona muda yang ke 17 tuan.... ucap Malik kepala pelayan dirumah ini
Mereka terdiam seketika, namun kembali menyantap makanannya dalam diam.