
Sesuatu yang memiliki awal, pasti ada akhir.
~Luca.
๐น๐น๐น๐น๐น
Ini adalah hari ketiga dari perjanjian Luca dan kepala sekolah, tapi sepertinya kepala sekolah benar-benr mengabaikan perkataab Luca. Buktinya, belum ada pergerakan atau penyelidikian yang Luca minta.
Gadis itu menarik nafasnya kasar, sepertianya ia sangat merasa jengkel hari ini.
"Luca." Penggil gadis yang sudah tidak asing baginya, sebelum menghampiri Luca, ia celingak celinguk memastikan keadaan aman.
"Ada apa?" Tanya Luca yang langsung focus menatap gadis itu.
Sepertinya rencana kita sudah bisa mereka tebak, pak Bisma dan guru yang lain mengabaikan kita saat mendekatinya. Jelasnya dengan raut wajah kecewa.
"Tap apa, tenang aja." Luca tersenyum menenangkan gadis itu.
"Tapi semua rencana kita akan gagal, kitaa akan sia-sia Luca."
"Lo percaya sama gue?" Tanya Luca menatap gadis yang tengah merasa khawatir itu.
Gadis itu hanya mengangguk dari sisa-sisa harapan yang ia punya.
"Kita gak salah, kenapa lo takut? Gue gak pernah mau kalah selama gue gak salah, dan harusnya lo juga begitu." Ucap Luca dengan tegas.
Kemudian, dua gadis lain ikut masuk setelah hanya mengintip dari luar.
"Maafin kita Luca, ini masalah kita, harusnya kita yang lebih berani hadapin ini." Ujar gadis berambut sebahu dengan poni di dahinya.
"Kalian tenang aja, gue bakal lakuin apapun asal kalian bisa keluar dari masalah ini."
"Luca. " Elen berlari Bersama Sandra membuat mereka terengah-engah.
"Gawat." Ucap Elen lagi sembari menetralkan nafasnya.
"Gue liat orang-orang yang nolak ajakan kita masuk ke ruangan kepala sekolah." Sandra memberitahu informasi yang ia lihat Bersama Elen.
Luca terdiam, ia tau ini bukan masalah yang mudah, tapi dia tidak ingin semakin membuat mereka cemas.
"Ya terus? Kan udah biasa murid kalau di panggil ke sana." Jawab Luca dengan tenang.
"Masalahnya mereka barengan, kayaknya kepala sekolah sengaja mau nunjukin ke kita." Sahut Elen.
"Maksud lo mereka mau gertak kita?"
Elen dan Sandra mengangguk, tentu merek sangat merasa cemas, terlebih mereka bukan Luca yang tidak takut pada apapun.
"Luca, sebaiknya kita hentikan ini. Kita gak papa kok, kita bisa bertahan setidaknya samai kita lulus. Tapi kita gak bisa biarin lo dalam masalah, gimana kalau nanti kepala sekolah macem-macem sama lo? Ujarnya mencemaskan Luca.
Kenapa kita gak minta bantuan Galang ja?" Elen membuka suaranya, menurutnya hanya itu cara satu-satunya saat ini untuk menyelamatkan mereka.
"Lo tau kan jawaban gue apa?"
"Tapi kita gak ada jalan lain, gue juga gak mau lo celaka." Elen tetap berusaha meyakinkan Luca.
"Gue bisa atasin ini, kalian bisa pergi dulu."
"Tapi Luca." Elen masih tidak bisa diam.
"Percaya sama gue, gue harus mikir. Dan ya, gue gak bisa masuk kelas dulu." Ucapnya memotong perkataan Elen.
Sandra menarik tangan Elen agar mau keluar, ia tau Luca sangat keras kepala, tapi mungkin akan ada jalan keluar setelah ini.
Mereka pergi meninggalkan Luca di ruangan itu, ruangan tempat biasa mereka bertemu.
Luca tidak menyangka Bisma dan kepala sekolah bisa menebak apa yang ia rencanakan.
"Tunggu! Artinya mereka masih di dalam sana." Serunya bergegas mengambil handphone di sakunya.
Memang kemarin ia berhasil membobol cctv ruangan itu. Tak hanya itu, ia juga sudah memasangi ruangan itu dengan alat penangkap suara, sehingga apapun yang mereka katakan bisa ia dengar.
Luca mendengarkan percakapan mereka dengan seksama, ia harus mencari jalan keluar dari masalah ini.
Tanpa ia sadari, dari sisi lain ada yang mengawasinya.
Lelaki yang kemarin bertengkar dengannya kini berdiri mengawasi gadis itu, ia tidak bisa tenang dengan apa yang gadis itu rencanakan. Tapi dia juga tidak bisa menghentikannya, setidaknya ia bisa melindungi gadis itu meski tidak di dekatnya.
Sebelumnya ia sudah menawarkan diri untuk membantunya, tapi Luca menolak. Gadis itu bahkan tidak membuatnya tidur dengan tenang, bagaimana ia bisa begitu berpengaruh baginya?
Apa Galang sehebat itu?
.
.
.
.
.
Seperti biasa tinggalkan jejak.