LUCA

LUCA
EPISODE 172



Mari saling menggenggam meski keraguanmu masih dalam.


~Galang.


🌹🌹🌹🌹


“Galang.” Panggil Luca pada lelaki yang tengah fokus menatap layer laptopnya.


“Iya?” Galang membuka kaca matanya dan menatap Luca.


Gadis itu menghampiri Galang dan duduk di sebelah lelaki itu.


“Apa lo percaya gue bisa?” Tanya Luca tanpa alasan.


Galang tersenyum membelai kepala gadis yang tengah di landa rasa kebingungan, ia paham apa yang tengah Luca pertanyakan.


“Apa yang gak bisa lo lakuin? Lo bisa lakuin segalanya.” Jawab Galang memeluk kekasihnya.


“Benarkah?”


“Tentu, karena lo adalah Luca.”


Luca memeluk Galang balik, bagaiamanapun ia masih seorang gadis yang menginginkan penguat. Ia masih butuh penyemangat, penopang, dan semua jawaban dari pertanyaan dirinya da pada Galang.


“Ada yang gak bisa gue lakuin.” Seru Luca.


“Hmm? Apa?” Tanya Galang penasaran.


“Gue gak bisa jauh dari lo.” Ucapnya tersenyum menatap mata lelaki tampan miliknya.


“Harus.” Jawab Galang menyentil hidung Luca gemas.


Luca melepas pelukannya dan menatap Galang sedalam mungkin.


“Besok gue mau lakuin hal penting.” Ujar Luca.


“Apapun itu, gue selalu da di samping lo.”


Mendengar jawaban itu Luca merasa bersalah karena tidak memberitahu Galang, ia hanya takut Galang akan menolak rencananya jika ia tahu semua yan ia lakukan. Sudah cukup masalah yang ia berikan pada Galang, biarkan kali ini dia sendiri yang mengurusnya.


“Sekarang tidur dulu ya cantik.” Galang mengecup pipi Luca singkat dan menggendongnya ke kamar Luca.


"Lo cinta sama gue?" Tanya Luca saat dirinya berada di bawah tubuh Galang yang menidurkannya.


"Cewek emang gitu ya?" Tanya Galang balik.


"Tinggal jawab doang." Luca cemberut.


"Iya gue cinta mati sama lo, tergila-gila gue." Jawab Galang.


"Hehehe."


Ia memeluk gadis itu erat di dalam selimut yang tengah mereka kenakan, seperti biasa ia akan memandangai wajah gadis itu sampai terlelap. Meski ia tidak melakukan hal ini tiap malam, tapi dia sangat Bahagia hanya dengan melihat gadis itu tertidur pulas.


“Gue selalu pengen lewatin semua batas ini, gue pengen lo milik gue sepenuhnya.” Ujarnya saat Luca sudah terlelap.


Rasa ingin memiliki gadis itu masih terus menghantuinya, mungkin memang berat bagi Luca menjalani hubungan sakral di usia mudanya. Tapi apa yang bisa Galang lakukan? Ia selalu merasa takut saat gadisnya tertawa untuk lelaki lain. Saat ada orang lain yang mengibati lukanya, saat oaring lain mengenali gadis itu melebihi dirinya. Ia sangat takut semua hal itu terjadi, dan dia tidak mau yang lain keculai gadis ini.


Ia takut jika posisinya tergantikan, ia takut waktu akan mengikis perasaan diantara mereka.


Galang memejamkan matanya, ia mencoba menjernihkan fikirannya yang masih terasa kacau.


Terkadang ia berfikir, apakah salah mencintai gadis yang jauh berada di bawah umurnya?


Apalagi, nama Juan ikut terlintas di benaknya. Bagaimana jika ia akan berpaling?


Ini adalah ketakutan yang tidak memilikin landasan, tapi ini terasa nyata baginya. Meskipun ia tahu benar Luca tidak akan pernah menghianatinya, tapi ia masih tau jodoh bukan di tangannya.


Jika saja ia bisa memastikan masa depannya, mungkin rasa cemas tidak akan menghantui dirinya seperti ini. Padahal ini hanya hal sepele, tapi kenapa ia merasa terganggu?


.


.


.


.


Gimana bab ini?