
Keindahan itu kamu.
~Juan.
🌹🌹🌹🌹🌹
“Kalian sudah melakukannya?” Tanya Luca pada kedua gadis itu.
“Beres.” Mereka tersenyum sembari mengacungkan jempol.
“Elen, sekarang giliran lo.” Ujar Luca.
“Siap bos.” Elen melangkah pergi, ia berusaha mencari tau keberadaan Bisma.
Setelah cukup lama ia berkeliling, rupanya lelaki itu tengah berada di taman belakan meayu beberapa siswi.
Elen sengaja mendekat agar lelaki itu mendengar percakapannya, “Halo? Iya Luca ada apa?”
Bisma yang mendengar nama gadis itu langsung menatap ke arah Elen yang membelakanginya.
“Apa? Jadi lo putus?” Elen hampir berteriak saking semangatnya.
“Sabar ya Luca, gue tau kok lo pasti kuat.”
“Ngapain ke club?”
“Lo mau nenangin diri di sana? Jadi dia juga sering ke sana?. Jangan bilang lo mau balas dendam dan nyari pelampiasan.”
“Luca, sebenarnya gue gak keberatan temenin lo. Tapi lo kan tau sendiri gue udah ada pacar. Jangan pergi sendiri, yakin gak papa?”
“Ya udah kalau ada apa-apa kabarin gue.”
“Lo mau bolos kelas juga?”
“Iya deh hati-hati.”
Elen menutup telfon itu sembari melirik Bisma yang seti mengupingnya. Entah bagaimana ekspresi lelaki itu sekarang, mungkin tengah memikirkan hal kotor Bersama Luca.
Setelah menyelesaikan tugasnya, Elen pergi. Dan rupanya Luca tak main-main, ia benar bolos kelas jam ke 3.
“Kita mau kemana?” Tanya Juan pada gadis yang tengah ia bonceng.
“Ke mall.”
Sampainya di sana, Luca mengambil beberapa baju seksi untuk ia pakai nanti. Memang gila, tapi ia tidak bisa melakukan ini setengah-setengah. Bisma harus terjebak ke dalam perangkapnya, hanya itu yang bisa ia lakukan.
“Lo ngapain pegang baju begituan?” Juan sudah menatap sinis Luca.
“Lo bisa senyum dikit gak sih? Serius banget hidup lo.” Tegur Luca berlalu mencoba pakaian yang ia pegang.
Beberapa menit kemudian barulah gadis itu keluar.
“Gimana?” Tanya Luca setelah memakai baju itu.
“Ya ampun Luca, lo ngapain pakek baju kurang kain gitu.” Bentak Juan.
“Ini namanya totalitas Juan.”
“Gak mau, gue kan ke club Juan. Ya kali pakek gamis, gimana sih lo?”
Juan melepas jaketnya dan mengenakannya pad Luca, gadis ini benar-benar gila.
“Gue gak mau lo di liat orang lain.” Bisik Juan membuat Luca menelan salivanya, karena itu terasa geli.
Luca segera menjauh dari lelaki itu dan pergi mengganti pakaiannya.
“Yang ini bak.” Luca menyerahkan pakaian yang tadi ia coba.
“Luca.”
“Udah diem.” Tegur Luca.
Juan hanya mendengus kesal sembari keluar meninggalkan perempuan itu.
Dia tidak tau apa yang kan terjadi nanti jika lelaki lain melihat Luca dengan penampilan seperti tadi, ia saja sudah tidak tahan melihat paha mulu Luca yang terpampang di hadapannya.
Kenapa ia harus tertarik pada gadis gila semacam itu?
Tanpa pakaian seperti itu saja ada banyak lelaki yang menggodanya, apalagi nanti.
“Tuan.” Lelaki yang mengawasi Luca datang dan membisikkan sesuatu kepada Galang.
Terlihat dari wajahnya, ia sangat serius saat mendengar kabar itu.
Entah apa yang tengah ia pikirkan sekarang, tapi ia membiarkan lelaki tiu berdiri di sana sekitar 15 menit sampai ia selesai berpikir.
“Lakukan yang gue perintahkan.” Ucapnya.
“Baik tuan.” Lelaki itu pergi setelah mendapatkan tugas baru.
.
.
.
.
Hayo Galang kenapa? Komen dan like yukk