LUCA

LUCA
EPISODE 183



Rasa kita yang berbeda


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Bughhh!


Galang menendang Juan dengan keras sampai tubuh lelaki itu terpental.


“Beraninya lo sentuh dia.” Ucap Galang tajam pada lelaki yang kini tengah berusaha bangkit akibat tendangannya.


“Gue cinta sama dia.” Jawab Juan tanpa gentar.


“Ohh lo udah bosan hidup rupanya.” Ucapnya lagi hendak meninju wajah Juan namun di tangkis oleh lelaki itu.


“Cukup.” Luca memisahkan mereka, ia menarik Galang agar menjauh dari Juan.


“Galang kita pergi aja.” Ucap Luca menarik kekasihnya, namun lagi-lagi Juan menahannya.


“Dia gak serius sama lo Luca.” Ucapnya lagi.


Galang menarik kerah baju Juan, ia sudah sangat ingin membunuh lelaki di hadapannya itu.


“Galang.” Luca menarik tangan Galang dan menggenggamnya. “ Gue cinta sama dia, dan jangan pernah ganggu gue.” Ucap Luca pada Juan kemudian pergi meninggalkannya sendiri.


Rasanya sesak, perempuan yang ia cintai menolaknya setengah mati. Luca begitu tidak menginginkan dirinya, apa kurangnya dia? Meski tidak sekaya Galang dia juga bisa membahagiakan Luca.


Apa yang salah pada dirinya? Ia begitu tidak tahan saat melihat gadis itu di pelukan orang lain, ia sangat bahagia saat gadis itu tersenyum kepadanya.


“Haaaaaaaaah.” Teriak Juan menangis.


Luca adalah gadis pertama yang membuatnya jatuh hati, melihat cara gadis itu tersenyum, marah, bahkan saat melihat tatapan kebencian gadis itu Juan sangat mengaguminya.


Ini adalah pilihan hatinya, bukan ia yang menetukan harus jatuh cinta pada siapa. Ia bahkan tidak bisa menahan gejolak dadanya mesi mengetahui gadis itu memiliki kekasih. Otaknya bahkan menolak menyerah saat Luca hanya menganggapnya teman biasa.


Apa ini? Apa ini benar-benar cinta? Kenapa rasanya sesakit ini? Kenapa ia tidak mendapat balasan dari ketulusannya?




“Galang.” Panggil Luca meraih tangan kiri lelaki itu. Galang bahkan tidak menatapnya, ia hanya fokus menatap ke depan sembari mengemudikan mobilnya.



“Aku minta maaf.” Ucapnya lagi, namun lelaki itu tetap tak bergeming. “Juan tidak mungkin menyakitiku, dia hanya kehilangan kendali karena perasaannya.” Jelas Luca berusaha menangkan Galang.



“Galang jangan diam begini, aku tidak suka.”




“Aku tidak tahu dia akan melakukan hal itu.”



“Apa kau bodoh? Apa kau sudah lupa cara menendang? Mau aku ajarkan padamu?”



“Galang ini hanya salah faham, dia hanya kehilangan kendali.”



“Lalu jika ia kehilangan kendali lebih dari itu bagaimana? Apa kau akan tetap diam?”



“Aku bukan anak kecil Galang, aku bisa jaga diri dan maaf membuatmu khawatir.”



“Jadi aku salah mengkhawatirkanmu? Apa kau tau bagaimana rasanya melihatmu hampiir di cium lelaki lain? Apa kau tau rasa sakitku saat melihatmu di sakiti?”



“Galang bukan begitu.” Luca merasa semakin salah sekarang.



“Aku salah karena mengkhawatirkanmu, aku salah karena selalu mencarimu kemanapun saat aku kehilangan kabar. Apa kau tau bagaimana rasanya takut kehilangan?” Galang sampai menghentikan mobilnya dan menatap Luca yang sedari tadi ia abaikan.



“Aku salah, maafkan aku.” Luca memeluk Galang, ia tidak mau memancing keributan lagi.



Rasa cinta Galang begiu besar sampai ia sendiri terkadang kualahan, pria yang dingin dan posesif ini amat sangat mencintainya.



Ia sendiri tidak bermaksud membela Juan, ia hanya berusaha mengerti lelaki itu. Ia mengenal Juan cukup lama, jadi ia tahu Juan tidak mungkin melakukan semua ini tanpa sebab. Mungkin rasa sakit Juan yang terus menumpuk melihat dirinya dengan Galang membuat lelaki itu tidak tahan dan nekat, bagaimanpun Juan selalu membantunya bahkan ia tulus melakukan itu.



“Aku salah, harusnya aku memahami keinginannya padaku sehingga aku bisa menegaskan semuanya sebelum hal ini terjadi.” Luca bergerumun dalam pikirannya sendiri.