LUCA

LUCA
EPISODE 178



Biarkan tawa diantara kita


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


“Lucaaaaaaaa!” Teriak Elen yang membuat langsung menjauhkan phosel karena telinganya sampai berdengung.


“Woy, santai aja manggilnya.” Luca sampai ingin membanting hpnya karena kesal.


“Iiiiih, ini tuh gara-gara om lo sialan itu. Kemana dia dari tadi pagi gak ada ngabarin gueeeeee.”


Luca bedecak kesal, ini pasti karena Gior yg tidak menghubungi Elen sampai mebuat sahabatnya itu kesal.


“Gior ada di kamarnya kok, lo santai aja kenapa sih? Gue bisa budek kalau lo teriak terus.”


“Tapi Luca, dia seharian gak ada ngabarain gue. Emang sih semalem kita berantem kecil gitu, tapi ya kenapa segitunya dia sama gue.” Jelas Elen yang asih tidak terima atas perlakuan om Luca.


“Dia sibuk ngerjain tugas seharian, jadi lupa ngabarin lo. Lagian lo tinggal telfon duluan beres kan?”


“Yakali gue telfon duluan, gengsilah gue. Masak dia gak peka banget sih jadi cowok, harusnya dia minta maaf dan maksa hubungin gue. Ck! Emang om lo tuh sialan ya, minta di geprek tuh cowok.” Elen membayangkan guling di pelukannya adalah Gior sampai di pukul dan injak-injak.


“Dahlah berisik lo, kalau kangen lo bisa ke sini tanyain dia langsung. Byeeee” Luca mematikan telfonnya sebelah pihak.


“Repot banget mereka, yang berantem siapa? Yang susah siapa?”


Luca keluar dari kamarnya berniat mencari Gior, namun saat melewati kamar Galang ia jadi teringat bahwa lelaki itu belum juga menghampirinya setelah drama tadi.


“Dia lagi telfonan sama siapa?” Ucapnya karena ia mendengar suara perempuan dari kamar Galang.


Karena sifatnya yang memang tidak sabaran dan terang-terangan, ia langsung membuka pintu dan menatap Galang tajam yang tengah asik berbincang entah dengan siapa.


“Kamu selingkuh?” Tanpa basa-basi Luca malah menodongkan pertanyaan tidak masuk akal.


Galang menatap tajam gadis itu seakan tidak habis pikir dengan apa yang ada di otak kecilnya. “Aku tutup dulu.” Ucapnya meletakkan phonselnya dan langsung mendekati Luca.


Pletakkkk!!


“Auuuu.” Luca meringis sembari memegangi dahinya yang di sentil.


“Siapa suruh kamu masuk?” Tanya Galang masih bersikap dingin.


“Sejak kapan aku harus izin masuk kesini?” Tanyanya tak mau kalah.


“Urusan kita masih belum selesai, jangan pura-pura lupa.”


“Urusan apa? Kita gak ada urusan, gak usah bahas yang lain, kamu selingkuh kan?” Tuturnya tetap menuduh Galang.


“Kalau iya kenapa?”


“Siapa? Mana sini biar aku bacok dia, biar kamu gak bisa selingkuh.” Ujarnya kesal.


“Kalau dia mati, aku tinggal cari lain.” Galang tersenyum miring dan duduk di hadapan Luca.


“Aku bakalan bunuh siapapun selingkuhan kamu.”


“Aku bakal lindungin dia.” Galang semakin memancing rasa kesal Luca.


“Sana aduin, aku tinggal bilang kalau kamu hampir tidur sama cowok lain.”


“Galang ngessellinnnnnnn.” Luca memukul lengan Galang kesal dengan semua penuturan lelaki itu.


“Kamu yang mulai gadis nakal.”


“Aku udah minta maaf kan? Maafin ya....” Luca duduk di pangkuan Galang dan mengaalungkan tangannya paa leher jenjang lelaki itu.


“Gak.”


“Galangggg.” Rengeknya manja sembari menggerak-gerakkan tubuhnya.


“Shittt!! Jangan gerak gerak.”


“Maafin dulu.”


“Lucaaaaaaa.” Galang menarik nafas kasar karena sepertinya gadis itu sengaja mengujinya, karena adik kecilnya sudah tidak tahan dengan tubuh Luca yang terus saja membuatnya sesak.


“Oke aku maafin, tapi ada syaratnya.”


“Apa?” Tanyanya melongo.


“Nanti, sekarang kita turun dulu makan malam.” Perintah Galang.


“Gak mau.” Luca tersenyum nakal dan malah mencium bibir kekasihnya enggan untuk di lepas.


Galang yag memang sudah tidak tahan sejak tadi menyesap lembut bibir gadisnya yang memliki aroma vanila itu.


“Lucaaaaaaa.”


Teriakan itu berhasil membuat kaget mereka berdua dan membuatnya menghentikan kegiatan menyenangkan mereka.


“Ngapain sih tu anak?” Luca melepas pagutannya dengan kesal karena momen indahnya terganggu.


“Sana samperin dulu.” Galang menurunkan Luca dari pangkuannya.


Dengan berat hati ia harus beranjak dari kamar Galang, padahal ia baru saja di maafkan dan mendapatkan kesempatan bedua dengan kekasih.


“Temen geblek, gak bisa liat kalau gue lagi mesra-mesraan apa?” Umpatnya sembari menuruni tangga dan menatap kesal pada Elen yang malah cengengesan di bawah sana.


.


.


.


.


.


jangan lupa komen ya, kalo mager komen titik aja gakpapa kok. like yang banyak, makasihhhhh🥰