LUCA

LUCA
EPISODE 183



Jika aku berkhianat, maka aku yang akan tamat.


🌹😭😭😭😭😭


“Halo paaa.” Luca menyapa ayahnya yang sedang tersenyum setelah cukup lama tidak mengabarinya, kini mereka tengah melakukan panggilan vidio.


“Bagaimana kabarmu sayang?” Tanya Bram.


“Baik pa, kenapa papa baru menghubungiku? Sudah seminggu papa tidak menelfon.” Ucapnya cemberut.


“Maaf sayang, papa di sini sangat sibuk.”


“Hmmm baiklah.”


“Minggu depan papa akan pulang.” Ujar Bram membuat Luca sangat senang.


“Benarkah? Wah Luca udah ga sabar pengen ketemu papa.” Matanya berbinar seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan hadiah.


“Ya tentu, papa tidak mau melewatkan waktu dan papa juga akan memantau persiapan pernikahanmu.”


Luca melongo,


Pernikahan?


Bukankah ia belum menyetujui hal ini?


Apa Galang sudah memutuskan dan memberi tahu papanya?


Tapi kenapa Galang memutuskan semua itu sendiri.


“Tapi pa.”


“Papa ada rapat sayang, kita lanjut nanti ya. Daaaaaaaaa” Belum sempat Luca menjelaskan, tapi Bram sudah memutuskan panggilan.


“Tapi gue belum siap jirrrr.” Umpatnya kesal.


Luca turun dari ranjangnya dan pergi ke kamar Galang, lelaki itu harus menjelaskan semua ini.


“Galang.” Luca langsung nyelonong masuk ke dalam kamar lelaki itu, padahal kekasihnya hendak melepas handuk yang hanya melilit di pingganngnya.


Melihat hal itu Luca langsung berbalik dan menutup mulutnya.


“Anjir hampir liat tuh adek.” Luca mengelus dadanya.


“Kenapa?” Galang mengurungkan niatnya dan memakai kembali handuk itu.


“Ganti baju dulu.” Seru Luca belum berani menoleh.


Luca menelan salivanya, ia memang sudah sering melihat roti sobek milik Galang, Tapi kan ia masih perempuan normal yang bisa panas dingin seperti saat ini.


“Huhuhuhu, bisa gak kuat nih gue.” Serunya di dalam hati.


“Heh.” Galang menyadarkan Luca yang tengah menatap tubuhnya.


“Ituuu itu, kenapa kamu bilang sama papa kalau kita mau nikah.” Ucapnya mengingat kembali tujuan awalnya.


“Ya kan kita emang mau nikah.” Jawab Galang santai.


“Tapi papa bilang minggu depan, aku kan gak siap Galang.”


“Ini hukuman kamu, kamu inget sama hukuman yang aku ucapkan hari itu?” Luca mencoba mengingatnya, dan ia ingat hukuman itu karena dirinya yang mabuk. “Ini hukuman kamu.” Sambung Galang.


“Gak bisa gitu dong Galang.”


“Aku gak mau di bantah Luca, kamu cukup diam dan jadi istriku.”


“Kamu egois.”


“Aku egois? Kurang sabar apa aku nunggu kamu selama ini. Dan setelah semua kejadian yang nimpa kamu, kamu fikir aku bisa sabar?”


“Aku belum siap Galang, aku takut.”


Galang menghampiri gadis itu dan memeluknya. “Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, kau bisa membunuhku jika itu terjadi.” Ucapnya.


Ini bukan bualan atau hanya sekedar merayu Luca, dia benar-benar sangat mencintai gadis itu. Ia tidak mau kehilangan Luca apalagi dengan semua orang yang semakin berusaha memisahkan mereka.


Luca adalah perempuan pertama dan terakhir yang ia yakini menjadi pasangannya, dan membahagiakan gadis itu adalah kewajiban baginya.


Untuk apa ia selalu menunda waktu, pada akhirnya Luca hanya akan menjadi miliknya dan hanya dia yang bisa menyentuh gadis itu. Dia tidak akan pernah terima jika takdir atau apapun akan memisahkan mereka, karena Luca adalah cinta dan hidupnya.


“Aku mencintaimu, jika aku berbohong kau bisa langsung menembakku.” Galang meberikan pistol ke tangan Luca dan mengarahkannya pada kepalanya sendiri.


.


.


.


.


jangan lupa tinggalkan jejak.