
Bagiku, di manapun kita berada asalkan bersama, itulah yang di sebut rumah.
~Luca.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น
"Gimana sekolahnya hari ini?" Tanya Galang sembari menyuapi gadis itu eskrim.
"Baik-baik aja kayak biasanya."
"Kalau ada masalah ngomong ke gue." Galang kembali mengingatkan.
"Lo udah kayak bapak nanyain sekolah anaknya kak." Seru Galaxi pada Galang.
"Sirik aja lo jomblo." Jawab Galang.
"Dih gue udah gak jomblo, gue udah jadian." Dengan bangganya Galaxi memberitahu status barunnya itu.
"Serius lo? Gue gak peraya." Gior menolak mempercayai perkataan kakaknya.
"Terserah, lo bisa tanya dia besok." Sombong Galaxi.
"Jadi lo beneran bebas dari jomblo akut?" Tanya Gior lagi dengan nada yang masih tidak menyangka.
"Gue bukan jomblo akut, cuman selama ini gue tuh setia. Liat gue cuman cinta sama satu orang dan rela nunggu dia selama ini, gak kayak lo." Giliran Galaxi yang mengejek Gior.
"Gue ganteng kak, jadi susah buat jomblo, banyak yang ngantri." Sahut Gior tidak mau kalah.
"Dih, sok iyee banget lo." Galaxi melempari adiknya dengan sendal.
"Itu artinya cuman tinggal satu dong jomblo akutnya." Luca melirik Gerald yang sedari tadi memang tidak ikut nimbrung.
"Gak usah bawa bawa gue." Gerald langsung angkat suara yang merasa tersindir.
Mereka langsung tertawa bersamaan melihat reaksi Gerald, sampai kapanpun dia tidak akan berubah.
"Tenang, gue yakin jodoh lo pasti lagi usaha nyariin lo kok Gerald." Luca menepuk bahu Gerald.
"Kalau ternyata jodoh kak Gerald mati gimana?" Tanya Gior membuat Gerald melotot.
"Ya tiggal bunuh aja kak Gerald biar jadi jodoh akhirat." Jawab Galaxi cengengesan.
"Eh berani lo berdua ya, awas aja kalau minta bantu gue bujuk kakak. Gua gak bakal mau."
"Yah baper dia." Gior melirik Galaxi dan tertawa bersama.
"Udah, kalau dia marah siapa yang kerjain tugas kantor." Bela Galang.
"Oh, jadi selama ini gue cuman di manfaatkan." Ketus Gerald.
Mereka kembali tertawa melihat raut wajah Gerald yang jengkel.
Inilah rumah, tempat mereka tertawa, menangis, kesal, dan tempat pulang paling nyaman.
Salah satu hadiah terbesar dalam hidupnya adalah mereka, mereka yang mengembalikan sisi lain dari Luca yang sudah lama hilang.
Walaupun mereka adalah pembisnis hebat, tapi mereka selalu bisa mengatur waktu dan tidak melupakan kebersamaan. Mereka masih bisa pulang sore dan sarapan pagi bersama, ini adalah hal yang langka bukan?
Jika kebanyakan dari orang sukses tidak memiliki waktu, mereka bisa mengatur waktu sebaik mungkin.
Galang pernah mengatakan satu hal.
Uang bisa di cari, tapi waktu gak bisa. Hargai kebersamaan sebaik mungkin, karena kamu tidak bisa mengembalikannya.
Kuatnya prinsip dan aturan Galang yang membuat keluarga tetap berjalan dengan semestinya.
Lihatlah lelaki hebat ini, dia bahkan melindungai 3 adik dan satu kekasihnya.
"Mereka memang beruntung, tapi mereka gak seberentung gue yang punya Galang."
"Kenapa senyum-senyum gitu?" Tanya Galang yang menyadari Luca menatapnya sejak tadi.
"Lo ganteng." Bisik Luca membuat telinga Galang memanas.
"Lo pengen gue makan ya?" Galang menaikkan sebelah alisnya.
"Ish dasar mesum." Luca mencubit pinggang Galang.
"Jangan sering diliatin, ntar bosen." Ujar Galang.
"Mau di liat terus ah biar bosen, biar bisa cari yang lain."
"Mau di patahin kakinya?"
"Hehe bercanda, lo udah lebih dari apapun di dunia ini." Luca menyentuh kedua pipi Galang.
Galang tersenyum, ia mencubit pipi Luca dengan gemas.
"Ada yang mau ikut ke mars gak?" Gior sengaja menyaringkan suaranya.
"Gue ikut." Jawab Galaxi.
"Gue juga." Jawab Gerald.
.
.
.
.
.
Hay readers, menurut kalian rumah itu apa?