LUCA

LUCA
Nona Muda



Luca tiba dikediaman Anggara dengan menumpang taxi. Seluruh pelayan dan penjaga terkejut bukan main melihat kedatangan nona muda mereka.


Nona...nona muda..nona... pekik Miranda, pelayan yang ikut mengasuhnya sejak kecil.


Luca tersenyum tipis dan membiarkan saja para pelayan yang membesarkannya itu memeluknya, memutar mutar badannya bahkan menangis karnanya.


Sudah cukup, biarkan nona istirahat dulu,... lerai Malik sang kepala pelayan yang begitu menyayanginya. Luka tersenyum tipis saat melihat pria itu tampak menahan rasa rindu dan segala pertanyaannya.


Luca hanya diam, ia pun mengikuti malik menuju kamarnya di lantai 3. Kamar yang sama dan tak ada yang berubah sejak ia tinggal pergi.


Luca pun naik keranjangnya, jujur ia masih lelah dan mengantuk.


Jangan pergi, kemari... ucap Luca saat merasa malik ingin keluar dari kamar. Laki-laki tua itu mendekat dan berdiri tepat di samping tempat tidur Luca. Luca meminta Malik duduk disamping tempat tidurnya. Ia mengambil tangan keriput Malik dan mengusapkan tangan itu ke kepalanya seperti yang selalu Malik lakukan padanya saat menidurkan Luca kecil dulu.


Malik pun dengan senang hati mengusap lembut rambut gadis yang ia besarkan sejak kecil itu.


Apa mimpimu sudah terwujud..ucapnya lirih


mm...sahut Luca, Malik tersenyum ikut bersyukur


Apa hidupmu bahagia... tanyanya lagi.


sangat..sahutnya, setitik air mata tulus menetes dipipi pria renta itu,


Aku bahagia, sehat dan melakukan semua yang kumau, hanya saja tidak ada kamu dan yang lainnya disana..membuatku selalu rindu..ucap Luca sambil masih menutup matanya lalu ia menaruh kepalanya dipangkuan pria tua yang sudah ikut membesarkannya itu.


Pria tua yang mengajarinya berjalan, berlari, naik sepeda, melukis, musik, membaca, berhitung dan banyak lagi. Luca sangat menyayangi malik lebih dari apapun didunia ini. Pria tua itu terus membelai rambut Luca hingga luca benar-benar terlelap. 


Sedangkan diluar kamar Luca, para pelayan menahan tangis bahagia dan rindunya pada sang nona muda.


mereka gugup. dan akhirnya dengan was was memberitahu nona muda mereka sudah pulang. Saat sang nyonya rumah ingin menemui putrinya ia pun dihadang oleh para pelayan.


maaf nyonya, tolong biarkan nona muda istirahat, nona muda kelihatannya sangat kelelahan dan kurang tidur nyonya...ucap Miranda.


HHH...baiklah, kalian ini memperlakukanku seakan aku akan mengganggu putriku saja... ucapnya kesal. namu melihat ekspresi datar Miranda, wanita itu hanya bisa mengalah dan menjauh dari kamar itu.


*****


Sorenya Luca terbangun dari tidur panjangnya.


Ia membuka matanya perlahan, di lihatnya sekelilingnya. Ah... ternyata di masih di rumah itu. Luca menegakkan badannya. Ia pun perlahan menuju kamar mandi dan membersihkan diri. Setelahnya ia pun mengganti pakaiannya dengan yang sudah disiapkan Malik entah sejak kapan.


Luca pun menyisir rambutnya yang agak lembab, tanpa memoles make up atau skin care apapun, karna luca memang tak membawanya, namun hal itu tetap tak mengurangi kecantikan seorang Luca.


Luca pun keluar dari kamarnya, ia mulai berjalan mengelilingi sudut rumah yang sudah beberapa tahun ini ia tinggalkan. Para pekerja menyambut hangat Luca, Sang Nona Muda yang selalu mereka rindukan.


Sampai akhirnya langkah Luca berhenti disebuah rumah kaca, rumah penuh bunga kesayangan almarhumah sang nenek.


Masih tetap sama... gumam luca


Tentu saja, karna kakekmu ini selalu menjaganya tetap sama... ucap seorang yang sangat Luca rindukan yang tiba-tiba muncul dari belakang.


Luca menoleh, ia tersenyum dengan raut wajah bersalah. Luca memang membenci keluarga yang selalu mengabaikannya, namun hanya sang kakek lah yang sangat dan selalu ia rindukan. Luca menahan segala rindunya pada sang kakek, semua karna tak ingin lagi berhubungan dengan keluarganya yang hanya menganggap anak yang mereka lahirkan hanyalah alat saja.


Luca masih tetap diam ditempatnya sampai sang kakek mengalah dan menarik luca kedalam pelukannya.


Dasar gadis nakal.... gerutu sang kakek seraya menepuk punggung Luca yang kini menangis terisak dalam pelukan sang kakek yang masih tampak sangat gagah diusianya yang sudah 76 tahun.