LUCA

LUCA
EPISODE 118



Kesetiaan dan kejujuran, adalah hal yang paling mahal dan tidak mampu di dapatkan manusia rendahan


🌹🌹🌹🌹🌹


Perempuan itu masuk ke dalam ruangan tempat Luca di ikat, ia melangkah dengan santai dan penuh keangkuhan. Ia di temani anak buah yang mengekorinya.


Luca diam, ia mendengar langkah kaki wanita itu, dan parfum yang sama. Ia seperti sangat mengenali parfum itu tapi dia tidak tau siapa.


"Lo juga ke sini?" Tanya Luca memancing pembicaraan.


Perempuan itu menarik rambut Luca sampai ia menengadahkan wajahnya.


"Lo pasti kecewa karena gue sama sekali gak menderita." Ujar Luca lagi membuat perempuan itu kesal.


"Kau masih bisa sombong?" Tanya perempuan itu yang akhirnya beersuara, namun ia menutup mulutnya dengan selendang yang ia pakai.


"Suaramu sangat jelek jika di tutup seperti itu." Luca tertawa mengejeknya.


"Tertawalah, setelah ini aku akan menghabisimu." Ucapnya melepas rambut Luca.


"Lo yakin?"


Plaaakk!


Satu tamparan mendarat di pipi Luca sampai memerah.


"Hentikan, boss tidak mengizinkan anda memukulnya." Anak buah itu menariknya menjauh dari Luca.


"Kenapa? Kau berani menghentikanku? Aku yang menghidupimu ingat itu."


"Tapi ini perintah boss."


"Hahahahaha." Luca tertawa sangat keras. "Cinta bertepuk sebelah tangan rupanya."


"Apa kau fikir aku menyukai bocah ingusan?" Dia mencekram wajah Luca.


"Ohhh lo udah keriput yaa, pantes dia gak mau sama lo." Ejeknya lagi.


"Beraninya kau." Dia mencekik leher Luca kuat sampai gadis itu tidak bisa benafas.


Tapi kemudian dia langsung melepasnya.


"Apa kau berfikir kenapa lelaki ini tidak menghentikanku lagi? Asal kau tau saja dia adalah anak buahku bukan anak buah Adamson, bagaimana akting kami tadi? kau sampai sangat bahagia karena dia mencegahku bukan?"


"Lo murahan banget."


Plakkkk!!!


"Kuat juga kamu ya."


"Lo yang lemah." Jawab Luca membuat perempuan di hadapannya semakin geram.


Luca berulangkali berfikir mengenai parfum itu. "Itu parfum yang biasa mama pakai." Gumam Luca dalam hatinya, kali ini dia mengerti kenapa ia sejak tadi merasa tidak asing.


"Apa kau tau bagaimana aku membunuh ibumu?" Dia meremas wajah Luca, tidak ada belas kasihan seidkitpun di hatinya. Padahal Hidung Luca sudah mengucur darah akibat pukulannya sejak tadi.


"Aku yang merencanakan kecelakaan itu, tapi sialnya malah menjadi kecelakaan beruntun dan membuatku harus banyak mengeluarkan uang untuk menutup mulut mereka. Kau tau bagaiman aku membunuhnya? Aku menyeretnya ke luar saat dia mulai sadar, dia terus memanggilmu. Luca, Luca dimana kamu? Hahahahahahah."


"Seharusnya dia mati dalam kecelakan itu, tapi dia malah selamat. Aku malah harus membunuhnya dengan tanganku sendiri, kau tau tatapannya saat itu? Dia sangat kecewa dan sedih saat melihat sahabat tercintanya yang membunuh dirinya sendiri."Tanpa rasa bersalah ia malah menceritakan hal itu dengan tawa yang menggema di ruangan.


"Kenapa harus mama? kenapa harus dia yaang lo bunuh?" Teriak Luca merasa sesak, ia tidak bisa membayangkan bagaimana ibunya saat itu.


"Karena dia selalu mendapatkan semua hal, dia lahir di keluarga yang penuh cinta. Mendapatkan suami yang dalah cinta pertamaku dan mereka hidup dangat nyaman dengan kekayaan. Aku bahkan tidak mempunyai orang tua, berpisah dengan suamiku dan malah hidup luntang lantung. Hidupnya terlalu sempurna bukan?"


Luca mengigit tangan yang meremas wajahnya sampai dia mencerrit kesakitan.


"Ingatlah, dalam keadaan diikat gue masih bisa melukai lo. Bayangkan saat gue bisa lepas, lo pasti gue bunuh." Ujar Luca, ia sangat ingin menghajar perempuan di dekatnya ini sampai mati.


"Jangan bermimpi, cepat tanda tangan ini." Dia memberikan bopoin dan menaruhnya di tangan Luca.


"Sampai matipun gue gak akan pernah biarin lo dapat apa yang lo mau." Luca melepas bolpoin di tangannya.


Plaakk!


"Cepat buka penutupnya, dia harus lebih menderita." Perintah perempuan itu, dan lelaki di sampingnya langsung mendekati Luca.


Saat penutup mata Luca di lepas, saat itu juga suara pintu terbuka secara bersamaan.


"Mamaaaa." Elen menatap perempuan yang berdiri membelakanginya, kemudian ia melirik gadis yang terikat dengan wajah yang lebam dan berdarah.


.


.


.


.


.


Gimana perasaan kalian baca bab ini? kesel gak?


yul komen dan likenya🌹🌹