
Semua orang memilik masa lalu, bagaimana menurutmu?
๐น๐น๐น๐น๐น
"Jadi maksud lo Katrina masih hidup Luca?" Tanya Gior yang nyelonong masuk, rupanya dia menguping sejak tadi.
"Tidak. Mama sudah meninggal, gue juga gak yakin dia meninggal karena kelecakaan itu." Luca menatap Gior.
Kini Gerald dan Galaxi ikit masuk, rupanya bukan hanya Gior yang sedang menguping.
"Maksud lo gimana?" Tanya Gerald.
"Gue ngeliat sendiri mama menghilang sebelum mobil meledak. Saat semua korban di evakuasi, mereka tidak menemukan mama, mama malah di temukan 15 kilo meter dari tempat kejadian. Dan yang lebih gak masuk akal, mama punya luka di pergelangan tangannya, padahal sebelum itu tidak ada luka di sana."
"Bukankah harusnya hal itu di selidiki." Tambah Galaxi.
"Gue udah ceritain semua hal dan kecurigaan gue, tapi mereka gak percaya. Mereka berpikir kalo itu cuman perasaan dan halusinasi anak kecil yang ketakutan."
"Mungkin mereka berpikir Katrina pergi sebelum ledakan itu, tapi dia pingsang dan meninggal setelah berjalan cukup jauh." Ungkap Gerald.
"Dengan tim sebanyak itu bukankah aneh jika tidak ada satupun yang melihat mama pergi? Dan pasti dia akan cari gue kalo dia sadar, bukan malah ninggalin tempat itu kan?" Luca benar-benar mengutarakan pikiran yang ia pendam sendiri bertahun-tahun.
"Luca tenanglah. Apapun itu, semuanya sudah berlalu bukan." Elen memeluk Luca.
"Tapi kenapa boneka itu muncul lagi Elen? Kenapa sekarang?" Luca mulai menumpahkan air matanya.
"Bisa saja boneka dan kejadian malam itu berhubungan kak." Gior melirik Gerald.
"Gue ngerti, tapo jangan bahas itu sekarang." Gerald berusaha menghentikan pembicaraan itu. Ia sudah melihat Luca cukup terluka dengan menceritakan hal ini.
"Luca hey. Lo gak sendirian lagi, lo punya gue. Liat mereka, om lo yang perhatian dan selalu ngejaga lo, lo gak boleh lemah kayak gini." Elen melepas pelukannya dan menatap Luca.
"Luca. Semenjak lo sakit, kak Galang gak mau makan, dia bersikeras cari tau pelaku boneka itu. Dia bahkan nungguin lo tidur semalaman takut lo mimpi buruk lagi." Gior menceritakan ke galauan Galang.
Benarkah?
Galang sangat mengkhawatirkan Luca?
"Kemana Galang?" Luca menyadari ketidak hadiran Galang di antara merek.
"Kakak lagi pergi, ada urusan." Jawab Gerald.
Luca hanya mengangguk lemah, dia benar-benar merepotkan semua orang.
"Sekarang lo gak bisa sedih lagi, lo kan yang ngajarin gue jangan cengen, jangan lemah. Masak lo sendiri begini, gue gak mau jadi fans lo lagi ah." Celetuk Elen.
Pletak!
"Lo mau mati?" Luca menyentil dahi Elen.
"Nahh gitu dongg." Elen memeluk Luca dengan erat. Saking eratnya, dia sampai susah untuk bernafas.
"Ihh, lo pikir gue kucing." Elen menepis tangan Gior yang menariknya.
"Sudah kita pergi." Gerald mengajak adiknya meninggalkan mereka berdua.
"Luca gue mau nanya serius." Elen mengubah ekspresinya seketika.
"Hmmm." Luca membaringkan tubuhnya kembali.
"Menurut lo siapa di atara mereka yang paling ganteng?"
"Galang." Jawab Luca terang-terangan.
"Itu mah jelas, lo kan suka sama dia. Maksud gue itu, di antara mereka tadi." Elen ikut membaringkan diri.
"Mereka ganteng semua, lo mau deketin merek." Luca menoleh ke arah Elen.
"Hehehe, tau aja lo. Menurut lo, mana yang cocok buat gue?" Elen nyengir tanpa merasa malu.
"Emang mereka mau sama lo?"
"Lo jawabnya gitu banget sih. Ya gue kan mau usaha." Elen cemberut mendengar jawaban Luca.
"Gior tuh sebenarnya baik, romantis, tapi playboy." Luca tiba-tiba tertawa mengingat kencan terakhir Gior saat mengajaknya." Kalo Galaxi, dia udah suka sama orang tapi gak berani nembak. Kalo Gerald, dia fokus sama Galang, jadi gak ada waktu pacaran." Luca menceritakan ketiga omnya itu.
"Yahh, sulit semua ya. Gior manis banget sebenarnya, tapi gue gak mau sama playboy." Elen berbicara seakan ia memilih calon suaminya.
Luca hanya menggelengkan kepalanya, gadis itu bisa mengubah suasana hati Luca.
Apapun itu, dia akan lebih bersyukur memiliki mereka semua.
.
.
.
.
.
.
APASIH SEBENARNYA YANG TERJADI SAMA KATRINA?
GIMANA PENDAPAT KALIAN TENTANG BAB INI?
BERIKAN KOMENTAR DAN JANGAN LUPA LIKE YA...๐น๐น