LUCA

LUCA
EPISODE 119



Kekalahan yang aku dapatkan


🌹🌹🌹🌹😒


Elen menyusuri satu poersatu ruangan itu, ia kesusahan menemukan keberadaan Luca dengan tempat yang seluas itu. Namun ia juga meerasa heran, penjagaannya sudah tidak seketat tadi.


"Aduhh, Luca lo bisa gak sih kasi kode gitu lo ada dimana." Elen mulai merasa kesal dan frustasi, tapi kemudian ia mendengar suara keributan di dalam sebuar ruangan yang berjarak 4 pintu dari tempatnya berdiri.


"Mungkin Luca di sana." Elen berjalan perlahan, ia tidak mau membuat suara dan malah ketahuan, perlahan ia membuka pintu itu.


Tadinya ia hanya ingin mengintip sebentar untuk memastikan, barulah nanti ia akan menyelamatkan Luca setelah sepi. Tapi melihat sosok perempuan yang membelakanginya ia seperti merasa tidak asing dengan portus tubuh perempuan itu.


"Mamaaa." Elen membuka pintu mentap punggung perempuan itu dan Luca secara bergantian.


"Elen." Perempuan itu menoleh mendengar sesorang memanggilnya dan kaget saat melihat putrinya berdiri tepat di belakangnya.


Luca memandang nanar ke arah mereka berdua, akhirnya apa yang ia tahan telah tumpah. Air matanya mengalir melihat perempuan yang bertatapan dengan Elen, perempuan yang berungkali memukulinya dan sudah dua kali menculik dirinya.


"Mama ngapain di sini?" Elen menatap bingung, ia berusaha menolak apa yang otaknya pikirkan saat ini.


"Kamu yang ngapain di sini?" Dia membalikkan pertanyaan Elen.


"Mama mau selamatin Luca juga kan ma?" Elen menatap ibunya dan kedua tangannya menyetuh tubuh itu.


"Pergilah ini bukan urusanmu." Kanya menepis tangan Elen.


"Gak, ini gak mungkin. Yang aku pikirin gak bener kan ma? Mama mau selametin Luca kan?" Tanyanya lagi berusaha memastikan.


"Cukup Elen, tidak perlu mencampuri urusan mama." Bentaknya pada putrinya sendiri.


Luca menundukan wajahnya, hatinya begitu hancur melihat dua orang ini. Dia sudah tidak bisa menahan lagi, dadanya kembali merasa sesak.


"Luca jangan nangis, dia ke sini mau selamatin lo. Lo tenang aja ya, kita pergi dari sini." Elen menghampiri Luca dan memeluknya, ia masih tidak percaya. Ia yakin mamanya bukan orang seperti itu.


"Lepaskan dia, kenapa kamu begitu menyayanginya." Kanya menarik Elen memisahkannnya dengan Luca.


"Maah, dia anak mama juga kan? Liat, kita pakai gelang yang sama yang mama berikan." Elen menunjukan gelang yang berada di pergelangan tangannya dan menunjuk gelang Luca.


"Dia bukan siapapun Elen, dia hanya belenggu bagi mama. Kita akan bahagia setelah dia tidak ada, mama bisa membeli apapun utnukmu." Dia menyentuh wajah Elen dan membelainya.


"Enggak, aku mau." Elen menghampiri Luca dan mencoba melepas pengikatnya.


"Cepat kamu pegang dia." Perintah perempuan itu pada anak buahnya.


Dengan sigap lelaki itu langsung menarik Elen dan memeganginya agar tidak mendekati Luca.


"Maaah, kenapa mama kayak gini."


"Kamu gak tau apa-apa, dia selalu menyusahkan mama."


"Cukuuuppppp." Teriak Luca. "Apa kalian sudah puas? Apa sangat seru bermain peran seperti ini?" Luca menatap mata Kanya, ribuan perih masih tidak mau lepas dari hatinya. Seseorang yang ia panggil mama adalah orang yang mau membunuhnya.


"Berhenti berteriak, cepat tanda tangan ini." Dia kembali menyerahkan selembar kertas.


"Baik, lepasin tangan gue." Ucap Luca menyetujui.


Dia memanggil satu lagi anak buahnya dan melepas ikatan tangan Luca, secepat kilat gadis itu menghantam tubuh pria kekar di sampingnya dan merebut pistol di pinggangnya.


"Lo berhasil nipu gue." Ucap Luca mengarahkan pistol tepat pada jantung dia.


"Boss."


Daarrrrr


Luca menembak satu anak buah dia, Elen menjerit ketakutan melihat orang mati di depan matanya.


"Luca jangan, dia mama kita. Dia pasti hanya bercanda." Elen berusaha membujuk Luca agar menurunkan pistolnya.


"Maaah, kenapa mama lakuin ini?" Elen menangis keras, ia tidak tau harus berbuat apa sekarang.


Luca menatap dalam ke arah perempuan itu, ingatannya kembali pada saat pertama kali mereka bertemu. Senyuman hangat, perhatian dan semua yang ia berikan selama ini palsu.


"Panggil mama aja ya."


"Kamu kan anak mama juga."


"Bekalnya jangan sampai ketinggalan Luca."


"Sayang jaga diri baik-baik ya, mama pulang dulu."


"Wah anak mama lagi ngapain?"


"Kamugak boleh sedih ya, kan udah ada mama sama Elen."


"Luca, mama beliin kita gelang couple."


"Luca kok bekalnya lebih banyak punya lo?"


"Luca, mamabeliin kita piyama, lucu ya?"


"Luca, kata mama makannya di habisin."


Pikirannya di penuhi ingatan-ingatan mereka, ia tidak sanggup melakukan ini.


"Kenapa lo lakuin ini ke gue? Salah gue apa? Kenapa kalian harus masuk ke dalam hidup gue."


"Ini yang aku mau, menghancurkanmu dan mengambil semuanya." Jawabnya dengan senyum bahagia.


Elen menginjak kaki lelaki itu dan berelari memeluk Luca. "Luca, dia gak jahat kok. Dia mama kita, lo gak boleh nyakitin dia." Ujar Elen sembari memeluk Luca.


"Itu artinya ini yang lo mau." Jawab Luca melempar pistol itu ke arah dia. "Bunuh gue."


"Nggak, bukan gitu maksud gue. Maaaa, dia anak mama." Teriak Elen pada ibunya, ia melepas pelukan Luca dan berdiri di depannya.


"Pergilah, setelah ini lo bisa bahagia sama nyokap lo." Ujar Luca mendorong Elen dari hadapannya agar menyingkir.


"Ternyata kamu sangat lemah." Ujar perempuan itu sembari meraih pistol dan mengarahkan kepada Luca.


"Maksih udah pernah buat gue ngerasa jadi anak, di kehidupan selanjutnya semoga lo jadi perempuan paling menderita tanpa satupun anak di sisi lo" Ujar Luca.


"Tenang saja, di kehidupan selanjutnya jika aku bertemu denganmu aku akan kembali membunuhmu."


"Apa semua yang lakuin palsu? Apa gak ada sedikitpun rasa sayang lo ke gue?" Tanya Luca, ia menundukkan wajahnya. Dadanya sudah sesak sejak tadi, tapi dia masih bisa berdiri tegap meenatap perempuan di hadapannya.


"Tidak."


"Oke, dalam hitungan ketiga lo harus tembak gue. Kalo enggak, lo yang bakal mati." Ujar Luca sembari mengangkat satu tangannya menunjukan angka 3.


"3, 2,1." Luca melipat jemarinya seiring hitungan itu.


.


.


.


.


Bukannya author mau lebay, tapi author emang nangis ngetik ini gak tau kenapa😥


Yuk komen sama likenya