
jatuh cinta juga tentang bagaimana kita menjaganya.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
"Ini." Galang menyerahkan sekantong plastik beesar yang beerisikan pembaut dengan semau macam dan merek.
"Haaah? Kok banyak banget?" Luca mengecek barang itu satu-persatu.
"Lo kan gak bilang mau yang kayak gimana, udahlah tinggal pakai aja." Jawabnya menaruh topi dan masker.
"Lo marah ya?" Tanya Luca cemberut.
"Nggak."
"Tuhhh kaan marah." Luca memasang tampang sedihnya.
"Nggak sayang, gue gak marah." Galang langsung menebar senyum terpaksanya.
"Hehe, yaudah gue pakai dulu." Luca beranjak dan mengecup pipi Galang sebelum masuk ke kamar mandi.
"Aaakkkhhh, dasar nakal." Ujar Galang menarik nafasnya panjang setelah Luca mencium pipinya tadi.
"Mending gue pergi, ntar dia bisa nyuruh gue hal aneh lainnya." Galang langsung kabur, ia tidak mau menjadi sasaran mood Luca yang tidak bisa di tebak.
Akhirnya ia bisa berbaring santai di kamarnya sekarang setelah melewati banyak ujian yang Luca berikan padanya.
"Galanggg." Panggil Luca.
Galang yang mendengar hal itu langung lari ke kamar mandi, ia menguci diri di sana dan menghidupkan air agar Luca mengira ia sedang mandi.
"Ohhh lagi mandi, ya udah makan sendiri aja." Ujar Luca pada dirinya sendiri sembari keluar dari kamar Galang.
"Huuufft selamat." Seru Galang saat mendengar suara pintu tertutup.
"Kalian gak mau makan?" Tanya Luca melihat ketiga omnya sibuk berdiskusi.
"Sssst." Gerald memberikan isyarat agar berhenti membahasnya.
"Kalian ngomongin apa?" Tanya Luca mendekati mereka.
"Masalah bisnis, sana katanya mau makan." Ujar Gior pada Luca.
"Kalian gak makan?" Tanya Luca seekali lagi, karena tadi meereka tidak menghiraukan peertanyaan Luca.
"Kita masih kenyang." Jawab Galaxi.
Luca bukannya pergi malah ikut duduk di antara mereka. "Kalian ngomong bisnis kok langsung berhenti pas gue dateng?" Luca mulai mengintrogasi.
"Ya emang udah selesai." Jawab Gerald.
Luca menatap mereka curiga, seperti ada sesuatu yang di sembunyikan darinya.
"Apa sih natap kita kayak gitu." Gior mulai gugup mendapatkan tatapan seperti itu dari Luca.
"Kayakanya kalian lagi bohong."
"Gak usah jadi dukun, sotoy banget." Celoteh Galaxi.
"Ya penasaran aja."
"Sana makan." Gerald mengusir Luca.
Gior langsung mengambil majalah yang di lirik Luca, ia lupa kalau itu tergeletak di meja.
"Itu apa?"
"Majalah." Jawab mereka kompak.
"Kok kayak majalah dekorasi, emang ada acara apa?" Tanya Luca semakin rinci.
"Klien kita ngadain acara, dan kita jadi tamu istimewa bebas milih dekor." Bohong Gerald, untuk dia yang paling ceerdas di antara mereka.
"Ohhh." Luca mengangguk mempercayai perkataan Gerald.
"Kaak kita mau ke ruang kerja kan?" Galaxi menyenggol Gerald.
"Oh iya, yuk buruan." Gerald langsung bangkit di ikuti Galaxi, mereka lebih memilih pergi dari pada di introgasi lebih lama.
"Gue mau nelfon Elen." Gior juga meninggalkan Luca sendiri.
"Mereka kayak ngehindarin gue deh." Luca mulai berfikir keras.
Setelah bosan brelalu lalang di bawah, ia kembali ke kamarnya. Rasa sakit di perutnya mulai datang lagi, Kram dan terasa perih.
"Aduhhhhhh." Luca masih berjalan untuk meraih tempat tidurnya.
"Sakit ya?" Galang mengahmpiri Luca, dengan sigap ia meraih tubuh Luca dan menidurkannya di kasur.
"Sakiiittt." Rengek Luca, baru kali ini gadis itu terlihat manja pada orang lain.
"Mana yang sakit?" Galang tidak tega melihat Luca, tapi rasanya ia sangat imut saat manja seperti itu.
Luca menyentuh bagian perutnya yang terasa sakit.
"Yang ini?" Galang mengusap perut Luca perlahan, gadis itu merasa hangat saat tangan Galang menyentuh perutnya.
Luca menatap Galang, ia sangat kagum dengan pria ini. Dia selalu meempeerlakukan Luca dengan halus, dia bahkan tidak pernah memaksa hal apapun pada Luca selama ini.
"Enak." Ucap Luca dengan senyum bahagia, ia sangat menyayangi lelaki ini.
"Ya udah tidur ya."
Luca mengangguk, tangan Galang tetap bearda di atas perutnya sampai ia memastikan gadis itu benar-benar tertidur.
"Selamat tidur." Galang mengecup kening Luca lalu menyelimuti tubuh gadis itu.
.
.
.
.
.
Pengen cowok kek galang gak sih??
Yuk komen dan likee...π₯°πππ