
Tusheti, Gorgia, Pedalaman Russia
Ini adalah hari ketiga Luca beserta team arsiteknya disana, Mereka mulai menjalankan pembangunan. rencananya Luca dan Teamnya terpaksa harus menetap disana selama 1 tahun pembangunan resort tersebut.
Sejak hari pertama menginjakkan kaki di negri es itu, Lingga tak bisa menemani Luca karna ada pekerjaan yang harus ia tangani. Berat hatinya meninggalkan Luca berjauhan darinya. Rasanya Lingga ingin segera mengikat Luca dalam ikatan pernikahan agar Luca tak bisa lari darinya, namun Lingga tahu jika ia memaksa maka bukan tidak mungkin Luca semakin tidak menyukainya. Hingga membuat Lingga mengalah dan mengesampingkan ego-nya.
Tapi bukan Lingga namanya jika ia tak punya jalan alternatif. Ia mencantumkan syarat pada kontrak kerja mereka dimana Luca harus selalu menghubungi setiap hari untuk membicarakan perkembangan pembangunan. Tentu saja Luca menolak hingga akhirnya lagi-lagi Lingga harus mengalah dan menjadikannya 1 minggu sekali dengan catatan Luca harus selalu mengangkat telpon darinya. Luca yang malas bertengkar pun menyetujui hal itu.
Seminggu kemudian, Luca pun melakukan Video call dengan Lingga. Luca mengalihkan pandangannya saat melihat Lingga menerima Video call darinya dalam keadaan bertelanjang Dada.
Maaf sebelumnya bapak Lingga yang terhormat, bisakah anda mengenakan pakaian anda. 5 menit lagi akan saya telpon kembali. Terimakasih..ucap Luca segera mematikan sambungan.
Ehhhh...belum sempat Lingga bicara Luca sudah mengakhiri sambungan. Lingga melihat pada tubuhnya, lalu ia tersenyum geli. Ia pun bergegas mengenakan Kaosnya.
Luca keluar kamarnya dan menuju pantry dimana Max dan Marrie berkumpul, Luca membuka kulkas lalu meneguknya kasar, ia butuh itu untuk meredakan emosinya.
Dasar Pedophil... bisa-bisanya dia...dengus Luca kesal.
Honey..are you okay...tanya mark khawatir. Luca hanya tersenyum. Ia memilih menemani Max dan Marie menikmati malam di negri itu. HP Luca terus bergetar di kamarnya. Ya, Luca memang sengaja tidak membawa HPnya, ia masih kesal dengan mantan tunangannya itu. Sedangkan Lingga sudah uring-uringan karna Luca tak juga menjawab telponnya. Ia pun menghubungi Cedrik, orang kepercayaannya untuk mencari tahu dimana Luca dan kenapa ia tidak menjawab telponnya.
Hallo Tuan, saat ini Nona Luca sedang bersama Tuan Max & Nona Marie. Dan sepertinya Nona Luca tidak membawa HP nya Tuan...ucap Cedrik
hmmm...begitu...ucap Lingga sedikit lega.
Apa tuan ingin bicara dengannya... ucap Cedrik
Maaf Nona Luca, ada telpon dari tuan Lingga...ucap Cedrik yang tiba-tiba sudah disamping Luca.
Luca menatap Cedrik lalu ia melirik HP yang disodorkan padanya. Luca dengan malas mengambilnya, lalu dengan cepat mematikan sambungan telpon. Cedrik, Marie & Max terkejut bukan main melihat hal itu.
Loh loh loh kok mati...ucap Lingga panik.
Hhh...sepertinya dia benar-benar marah..ucap Lingga menghela nafas berat.
Ini jam privateku, Tuan-mu tidak berhak mengusiknya...ucap Luca lalu mengembalikan HP itu pada pemiliknya.
Tapi NONA..ucap Cedrik tertahan saat tiba-tiba Luca menatapnya Tajam.
Glek.. Cedrik menelan salivanya, ia gugup ditatap seperti itu rasanya lebih menakutkan dari pada saat Mark, manusai Gay itu berusaha untuk menggodanya.
Maaf nona..ucapnya tertunduk, Luca pun berlalu kembali kekamarnya. Ia butuh istirahat.
Sepertinya Tuan-mu itu sudah mengusiknya... ucap Marrie. Cedrik mengangguk.
Yah salah tuan-mu sendiri, apa dia tidak tahu pepatah yang bilang jangan mengusik lautan yang tenang...ucap Mark yang segera disetujui Cedrik.
Keesokkan Paginya, hari itu adalah hari libur mereka, Luca memilih ikut dengan Marrie & Max untuk mengunjungi Museum-museum tua di negri itu, yah sekalian cari inspirasi.
Dan Luca Hanaya, si kutu buku itu tampak begitu senang, ia begitu antusias dengan semua yang dilihatnya, kameranya tak berhenti mengabadikan setiap keindahan yang menarik perhatiannya