
Jika cinta pertama anak adalah ayah, maka cinta pertamaku siapa?
๐น๐น๐น๐น๐น๐น
Luca meraih hpnya di dekat bantal yang berbunyi.
Panggilan vidio dari Bram, tumben sekali ayahnya itu menghubungi Luca.
"Ada apa?" Luca mengangkatnya dengan memperlihatkan wajah dingin.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Bram.
"Hmmm, ya." Jawabnya.
"Papa dengar kau sakit."
"Ya, setidaknya kau masih ingat jika memiliki putri." Ucap Luca malas.
"Luca, kenapa kau tidak pernah berubah?"
"Apa kau ada perlu lain?" Luca tidak menjjawab pertanyaan papanya.
"Kalau uangmu kurang, telfon asisten papa." Ucapnya tanpa memahi perasaaan Luca.
"Baiklah. Aku ingin tau berapa yang bisa ku dapatkan, tentu kau akan lebih memperbanyak mertuamu bukan?" Luca menyinggung ibu Helen, ia sangat tau perempuan tua itu yang selalu mengemis uang ayahnya.
"Sudahlah, papa tutup dulu." Bram mematikan telfon itu.
Ini sudah biasa bagi Luca, dia tidak akan menangis hanya karena hal ini. Dia sudah tidak pernah menaruh harapan apapun pada papanya. Dia tidak pernah mendapatkan apapun kecuali uang dari orang tuanya sendiri.
Luca melangkahkan kakinya keluar kamar, ia sendiri baru keluar kamar setelah beberapa hari mengurung diri.
Luca melihat Gior yang baru saja datang mengantarkan Elen.
"Luca, sahabat lo secengeng itu?" Tanya Gior duduk di depan televisi.
"Kalo lo tiba-tiba nyium dia pasti dia langsung nangis lah." Jawab Luca sekenanya.
"Lo pikir dia selera gue?"
"Dia lebih baik dari pada selera lo yang tante-tante."
"Gue gak napsu sama cewek begituan, cengen banget." Ucapnya mengingat Elen.
"Kalo gue bisa buat dia jadi selera lo gimana?" Tantang Luca.
"Mimpi, ini tuh bukan permainan."
"Lo gak suka dia karena penampilan kan? Jangan keseringan nilai orang dari tampang doang Gior." Luca memberi nasehat.
"Gue gak pernah nilai orang dari luar Luca, gue cuman nganggap semua cewek tuh gak ada yang bisa buat gue benar-benar suka. Gue tau Elen baik, buktinya dia betah ngekorin mahluk kayak lo." Gior menyindir Luca.
Luca hanya menatap sinis Gior.
"Gior, kakak mau ngomong." Galang datang menghampiri mereka.
"Apa Kak?" Gior mendongak menatap kakaknya.
Gior melirik Luca.
"Bukan gue." Ucap Luca seakan tertuduh.
"Kakak udah tau, gak usah bohong." Galang semakin menekan Gior.
"Kita cuman jalan kak, gak ada adegan ranjang kok." Ucap Gior membela diri.
"Jadi maksudnya lo mau ngajarin Luca begituan?" Galang mengeluarkan tatapan membunuhnya.
"Ehh, bukan gitu kakak. Kita bertiga cuman jalan, mana beran gue ngajarin Luca."
Galaxi dan Gerald ikut turun melihat keseriusan pembicaraan mereka.
"Kakak udah biarin nilai lo yang jelek, sekarang masih gak mau berhenti main perempuan? Mulai sekarang lo cuman dapet jatah bulanan seperempat dari sebelumnya, dan semua kartu lo kakak bekukan." Galang pergi meninggalkan Gior yang sudah akan menangis.
"Kakak jangan gitu, gue janji mau berhenti." Teriak Gior.
Galang benar-benar marah, selama ini dia sudah menghabiskan semua waktunya untuk membesarkan mereka sendirian. Semua hal sudah berusaha Galang penuhi, Tapi Gior tidak pernah mengerti dan terus membuat masalah.
"Kakak." Rengek Gior menatap Gerald.
"Kak Galang udah tau nilai lo sejak lama, cuman dia gak tega. Harusnya lo berubah Gior, kak Galang udah capek selama ini ngurusin kita. Kapan lo bisa gantiin dia kalo lo kayak gini terus." Ucap Gerald, kali ini dia tidak akan mau terbujuk oleh tampang manis Gior.
"Tapi kan kak." Gior masih berusaha membela dirinya..
"Lo liat tadi? Kak Galang gak pernah marah sama kita, tapi lo udah buat kesabaran dia habis. Mending lo berdoa terus bersikap baik biar kakak gak marah." Galaxi memberi nasihat.
Dua saudara itu pergi setelah memberikan siraman rohani pada Gior, entah dia akan berunbah atau tidak.
"Hahhaha." Luca malah tertawa melihat penderitaan omnya itu.
"Lo malah ketawa." Gior semakin frustasi.
"Lo lucu, sekarang aja baru mau nangis sok melas. Gue kan udah bilang dari kemaren-kemaren." Luca mengingatlan.
"Tapi kakak berlebihan." Gior menaikkan kedua kakiknya memeluk lutut.
"Lo harusnya bersyukur, cuma uang yang di potong. Kalo lo di usir gimana? Lagian Gior, lo lebih beruntung dari gue. Gue punya uang tapi gak punya siapa-siapa." Luca mengingat saat papanya menelfon.
.
.
.
.
.
.
Hay readers, author mau curhat bentar. ini novel yang baca lumayan, yang favorit juga lumayan. tapi kenapa likenya dikit?
komentarnya apalagi. author mohonn banget nih, like dan komen yaa, padahal author udah ingetin tiap bab..๐ช๐ช๐ช