LUCA

LUCA
EPISODE 168



kamu yang terluka, aku yang merasakannya.


~Juan.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


"Daaa, hati-hati."Luca melambaikan tangannya, seperti biasa ia berangkat ke ssekolah bersama Galang.


"Halo."


"Iya tuan ada apa?"


"Awasi Luca, dan selidiki apa yang sebenarnya dia sembunyikan." Ucap Galang kepada salah satu anak buahnya di telfon.


Kejadian kemarin semakin membuat Galang yakin bahwa ada sesuatu yang terjadi tapi enggan Luca ceritakan.


Galang menatap gadis yang masih melambaikan tangannya dan membalasnya dengan tersenyum.


Ini sudah hari kedua, tapi kepala sekolah tetap tidak melakukan apapun, artinya Luca harus menunjukan seberap serius ia dengan maslah ini.


Hari ini dia sudah merencanakan pertemuan dengan mereka, dan di jam kosong seperti ini adalah waktu yang pas.


"Kaki lo kenapa?" Tanya Juan menatap Luca yang sedikit menyeret kakinya.


"Ohh tadi kebentur." Jawab Luca.


Tapi tiba-tiba Juan duduk dan menatap lutut Luka yang terluka, bahkan Luca sendiri tidak menyadari luka itu.


"Lutut lo luka, lo nabrak apa sih?" Tanya Juan.


"Hah masak?" Luca menundukan pandangannya dan menatap lututnya, dan benar saja ada darah di lututnya.


"Gimana sih, kalau jalan tuh hati-hati."


"Kok lo malah marahin gue?"


"Ya abisnya lo teledor banget jadi cewek." Ujarnya lagi kemudian menarik Luca.


"Ehh mau kemana?"


"Diem lo, mau gue gendong?" Ancam Juan dengan sinis.


"Ck." Luca hanya berdecak sembari mengikuti langkah Juan, rupanya Juan mengajaknya ke UKS.


"Duduk."


Dengan patuh Luca duduk dan Juan meraih kotak P3K untuk mengobati luka gadis itu.


"Gue bisa sendiri."


"Gue cuman mau ngobatin lo, kalau lo gak suka gue bisa gak nyentuh kulit lo sama sekali." Juan berkata dengan nada tegas, tidak biasanya ia seperrti itu.


"Lo kok marah-marah dari tadi."


"Gue cuman gak suka." Jawabnya.


"Gak suka apa?"


"Gak suka liat lo luka."


Luca terdiam, ia tidak bisa mencerna perkataan Juan dengan baik di otaknya. Perkataan Juan seperti memiliki makna lain, namun Luca tidak yakin dengan apa yang di pikirannya.


"Bisa jalan?" Tanya Juan setelah selesai mengoleskan obat.


"Bisa, gue cuman luka dikit bukan patah tulang."


Mereka berdua melangkah menuju ruangan tempat mereka berkumpul, itu adalah ruang latihan tekwondo yang lama yang sudah tidak di huni. Jadi mereka bebas untuk membicarakan hal rahasia di sini, tapi demi keamanan Luca tetap meminta beberap siswa menjaga dari jauh ruangan itu takut jika ada yang mengintip mereka.


"Jadi kepala sekolah menolak kasus ini?" Tanya Elen.


"Tinggal satu hari, kalau kepala sekolah belum bertindak dia akan ikut terseret." Jawab Luca.


"Tapi kak, gak bakalan semudah itu. Bahkan kita belum mengumpulkan bukti." Ujar salah satu perempuan yang merupakan korban.


"Kata siapa? Gue udah punya beberapa bukti, dan sisanya kalian harus bantu gue." Luca tersenyum miring.


"Gimana caranya?" Tanmya gadis satunya lagi.


Dan di mereka semua yang merupakan korban ada 10 orang siswi yang beerhasil Luca kumpulkan, sisanya tidak mau ikut serta dalam rencana mereka dengan alassan takut.


"Gue butuh 3 orang yang siap, kalian bakal gue pasangin kamera di seragam kalian. Dan tugas kalian adalah, mendekati Bisma. Ingat, hanya mendekati jangan sampai kalian melakukan hal lebih." Jelas Luca.


"Tapi menurut gue, setelah lo gertak kepala sekolah, tentu dia bakalan ngasih peringatan sama pak Bisma. Dan mungkin juga pak Bisma tau rencana lo dengan mereka yang tiba-tiba mendekati pak Bisma." Ujar Juan berpendapat.


"Gue setuju, pasti kepala sekolah udah mewanti-wanti guru yang lain agar tidak melakukan hal apapun sebelaum masalah ini selesai." Sandra ikut membuka suara.


"Gue juga berfikir begitu, tapi tujuan gue gertak kepala sekolah agar dia merasa takut dan melakukan kesalahan. Gue jadi lebih gampang nyeret mereka, tapi ini juga bakal jadi masalah serius kalau beneran mereka tidak terpancing."


"Jadi apa usaha kita akan sia-sia?" Tanya perempuan berabut ikal sebahu.


"Kalian tenang aja, gue cuman butuh bukti berupa vidio untuk lebih memperkuat hal ini. Dan kalau memang mereka gak terpancing sama kalian, gue punya cara lain."


"Maksud lo?" Tanya Juan menatap Luca dengan penuh tanya.


"Pertemuan kita kali ini cukup, kita mulai dari besok." Ucap Luca membubarkan mereka.


Sementara Juan masih menatap gadis itu, ia masih memiliki pertanyaan yang belum gadis itu jawab.


"Jawab gue." Juan menarik Luca yang hendak pergi, Sandra dan Elen menatapnya heran.


"Kelemahan Bisma cuman satu, gue." Jelas Luca, endengar pernyataan itu membuat mereka bertiga tercengang.


"Lo gila?" Ujar ELen mendekati Luca.


"Kita gak ada cara lain."


"Tapi nggak dengan diri lo juga." Bentak Juan.


"Lo tau dia selama ini ngincer lo, kalau dia punya kesempatan lo gak bakal lepas." Ucap Elen lagi.


"Mereka benar, lo gak boleh ngorbanini diri lo." Sambung Sandra.


"Gue bisa jaga diri gue, dan gue gak bakal biarain dia nyentuh gue." Luca tetep bersikukuh.


"Lo pernah hampir celaka gara-gara Bisma." Elen tetap tidak setuju.


"Lo beneran gila ya, lo gak bisa apa jadi cewok normal?" Juan menatap Luca tajam kemudian pergi meninggalkan mereka.


"Juaaann." Teriak Luca memanggil lelaki itu namun di abaikan.


.


.


.


.


.


Hay readers, semoga kalian sehat terus.


Author baru up novel baru, kalian bisa baca dan mungkin tertarik sembari menunggu up novel ini. Ceritanya gak kalah seru kok, silahkan mampir ya๐Ÿ™๐Ÿ™