
Seminggu kemudian.
2 hari lalu luca baru saja kembali dari paris untuk menghadiri acara fashion show pertama milik Sasa. Luca dan Dani hadir disana, bahkan Sasa memaksa Luca dan Dani sebagai model penutup, Dani hampir menangis karna rambutnya terus dijambak oleh sasa saat dengan spontan-nya ia menolak permintaan sasa yang membuatnya terpaksa menuruti gadis cantik nan egois dan pemaksa itu.
Luca tampak heran melihat rekan-rekan sejawatnya tampak begitu sibuk merapihkan penampilan mereka.
Hei, cantik, kamu gak dandan? tanya max
mm??? luca heran
Ah iya kamu pasti gak tahu ya.... ucap max menepuk jidatnya sendiri.
Hari ini kita bakal kedatangan si tampan...ujar max sambil tiba-tiba mengambil paksa lipstick dari tangan marie yang sedang sibuk berdandan di cermin. Ia mau protes tapi saat melihat Max justru membubuhi bibir tipis Luca dengan lipstick itu membuatnya mengalah.
Tapi... Max?? .... ucap Luca
Udah gak usah berterima kasih sama aku... ucapnya bangga.
Bukan itu maksudku, kamu gak papa nimbrung di toilet cewe... tanya Luca yang sejak tadi heran dengan. kehadiran Max di toilet cewe
Ih... loe gimana sih, gue kan ditengah-tengah, body gue emang cowo tapi jiwa dan hati gue cewe tulen you know.... ucap max bangga, membuat luca hanya bisa tersenyum paksa dan marie memutar bola matanya malas.
Tak lama mereka pun berkumpul di ruang rapat. Luca tampak tenang dan santai tidak menunjukkan ekspresi apapun seperti biasanya. Dan yang mereka nantikan pun tiba. Sesosok Pria matang yang masih tampak begitu mempesona kau hawa, bertubuh tinggi dan kekar bak model bahkan pahatan maha karya diwajah tampannya membuat banyak wanita menatapnya lapar.
Pria itu duduk di salah satu kursi, ia menatap luca penuh rindu namun ia tahan, ya ia harus menyelesaikan rapat ini dulu, 2, 3 jam ia masih bisa menanti, itu tidak terlalu menyiksa dari pada 6 tahun yang ia lalu dalam mencari keberadaan Luca.
Harusnya ia bisa menemukannya lebih cepat namun kebodohannya seolah melumpuhkan otaknya dalam memperkirakan bisa saja Luca mengganti namanya dan saat kewarasannya kembali akhirnya ia bisa menemukan Luca, Luca nya tak pernah pergi jauh, kalau saja ia bisa lebih pintar ia pasti bisa menemukannya dengan lebih cepat dan tersiksa begitu lama.
Saat mengetahui dimana Luca, ia pun sengaja mengambil alih proyek itu dari hilary ibunya, karna ia butuh alasan yang natural untuk bisa bertemu Luca lagi, ia tak mau tunangan kecilnya yang cerdik itu lari lagi dan mungkin takkan pernah bisa ia temui lagi.
Luca tampak tak menanggapi tatapan sendu dan rindu Lingga. Membuat lingga kembali fokus pada berbagai design yang ditawarkan, bahkan ia begitu takjub dengan sebuah rancangan yang masih ia tak ketahui siapa arsiteknya.
Ia begitu tertarik memperhatikan rancangan itu begitu juga dengan luca yang lain.
Silahkan diminum kopinya tuan.... ucap sekertaris yang menyuguhkan kopi.
Terimakasih, tapi saya tidak lagi mengkonsumsi caffein, tunangan saya alergi dengan caffein... ucap Lingga sengaja.
Luca terdiam namun ia lagi-lagi tak menunjukkan ekspresi apapun, membuat Lingga menghela nafas berat. Ia pun kembali memperhatikan kedepan setelah tak mendapatkan respon apapun dari Luca
Baiklah aku ingin menggunakan Rancangan design No 17 ini untuk resort kami... ya pimpinan mereka memang hanya memberikan nomor pada setiap rancangan karna tak mau ada nepotisme yang terjadi diantara para bawahannya.
Rekan sejawat lain mengangguk setuju, karna memang design tersebut begitu bagus dan etnik namun tetap modern dan seperti dunia mimpi.
Bahkan Max sudah memeluk Luca erat hingga membuat Lingga mendelik kesal, ia saja tidak pernah seintim itu dengan Luca, bisa-bisanya Max berani lancang seperti itu dihadapannya. Luca hanya tersenyum tipis.
Baiklah perkenalkan ini Luca, arsitek yang sudah merancang design ini.... ucap Michael Atasan mereka.
Dia Luca Hanaya...ucap Michael memperkenalkan luca.
Tiba-tiba Lingga berdiri dan mengulurkan tangannya membuat mereka semua heran, terlebih Luca.
Tadi katanya gak boleh salaman, trus ini apa ?... batin luca bertanya.
Melihat Luca yang hanya menatap tangan Lingga membuat Lingga menarik tangan Luca dan menyalamnya.
Beberapa saat kemudian, selesai rapat dan meninggalkan Lingga dan Luca untuk membahas design. Lingga pun membuka suara saat Luca mulai merapihkan barang-barangnya.
Kamu tampak baik-baik saja... ucap Lingga, yang kini sudah duduk bersandar di pinggiran meja tepat disamping Luca. Lingga sungguh ingin segera menarik Luca dalam peluknya tapi ia tahan, ia tak mau tindakannya membuat Luca membencinya.
Mm.... sahutnya.
Kamu gak penasaran dengan kabarku? tanya Lingga sendu.
Luca menoleh pada Lingga, lalu menatap Lingga.
Selamat sudah menjadi pemenang Forbes, ucap Luca dan meletakkan majalah forbes di dada Lingga. Lingga menahan majalah itu dan melihat fotonya dengan seorang model di majalah itu. Dan kembali merapihkan barangnya sedikit lagi
Dia bukan siapa-siapa? Dia hanya model yang disediakan disana hanya untuk penghias saja...ujar Lingga menjelaskan ia takut Luca salah paham, sayangnya ia lupa Luca tak menaruh sedikit pun rasa perduli untuk itu
Luca yang sudah selesai merapihkan barangnya kembali menoleh pada Lingga dengan heran
Apa aku bertanya....? tanya luca heran
Aku cuma gak mau kamu salah paham...ucap Lingga sedikit terluka dengan tanggapan luca.
Salah paham?, harusnya anda jelaskan itu pada tunangan anda, siapa namanya lindsay?, Lara?, Violet? well entahlah mungkin salah satu dari mereka, tapi tentunya bukan padaku.... ucap Luca cuek.
Lindsay, Lara, Violet? siapa lagi itu... tanya Lingga heran.
Hhhhh.... aku tahu anda playboy tapi tak bisakah anda mengingat nama tunangan anda... ucap Luca lalu beranjak.
Mmm..?? tentu aku ingat siapa nama tunanganku, tapi nama tunanganku bukan Lindsay, Lara atau pun Violet... tapi kamu.... ucap Lingga santai mengikuti langkah Luca yang segera terhenti dan membuat Lingga tanpa sengaja menabrak punggung mungil Luca. Lingga memegang bahu mungil luca bahkan hidung mancungnya sudah menubruk pucuk kepala Luca, mereka begitu dekat hingga membuat aroma vanila dari tubuh Luca segera menyeruak ke penciuman Lingga, wangi yang sangat ia rindukan dan selalu jadi candu baginya.
Luca berbalik, wajahnya tampak kesal, sontak Lingga merapihkan rambut Luca yang berantakan, tak ingin luca marah padanya.
Siapa tunanganmu??? ucap luca kesal.
siapa lagi, ya kamu. Luca.... jawabnya
Aku sudah membatalkannya kalau kamu lupa... ucap Luca
Tapi aku enggak pernah setuju... ucap Lingga
Dan aku gak perlu persetujuan kamu untuk membatalkannya. Ingat yang tunangan sama kamu itu Luca Hanaya Anggara. Dan orang yang ada dihadapan kamu sekarang ini, hanya seorang Luca Hanaya.... ingat itu.... kesal Luca lalu berbalik pergi tapi justru di peluk erat oleh Lingga.
Aku kangen... ucapnya seraya mendekap erat Luca tanpa perduli dengan yang dikatakan luca tadi. Lingga hanya ingin mendekap luca, menghirup wangi yang selalu ia rindukan sebanyak-banyaknya.