LUCA

LUCA
EPISODE 154



Aku lupa,


Di dalam kata JATUH CINTA ada kata JATUH, dan aku sedang merasakannya.


~Luca.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Galaxi dan Gerald menghampiri Galang, ia melihat bagaimana Luca pergi dengan penuh amarah.


"Kak, lo keterlaluan gak sih? Lo kenapa tiba-tiba kayak gini?" Galaxi menatap Galang, ia tau kakaknya menyayangi Luca. Tapi kenapa ia berbuat demikian?


Galang pergi keluar mengabaikan pertanyaan mereka, ia berlari tepat ke arah luar ruangan kerjanya.


Ia mencari cincin yang Luca lempar tadi, bahkan saat ini ia melepas jasnya dan melempar ke sembarang tempat.


Galang mencari keseluruh arah, susah menemukan cincin kecil itu di tempat yang seluas ini.


"Tuan cari apa?" Tanya OB yang menghampirinya.


"Cepat carikan cincin di sekitar sini, ajak temanmu juga." Perintah Galang.


"Baik tuan." Lelaki itu pergi memanggil teman OBnya yang lain.


Sekitar setengah jam mereka menelusuri area sana, tapi tak kunjung Galang menemukan cincin Luca.


"Tuan, ketemu." Ucap perempuan itu dengan girang sembari menunjukan cincinnya.


"Cepat bawa kemari."


"Ini tuan." Perempuan itu memberikan cincin yang ia temukan.


"Terimakasih, kamu bisa libur seminggu dan imbalannya minta ke tuan Gerald." Ucap Galang sembari meninggalkan mereka.


Akhirnya ia bisa bernafas lega karena menemukan cincin Luca, ia mengegenggam erat benda kecil itu sembari melangkah kembali ke dalam ruangannya.


Di sisi lain Gerald dan Galaxi memperhatikan kakaknya sejak tadi yang mencari benda itu.


"Kakak keenapa sih?" Tanya Galaxi melirik Gerald.


Sementara Gerald hanya terdiam, ia tidak menjawab apapun pertanyaan Galaxi.




Luca berlari masuk ke dalam kamarnya, ia bahkan tidak mampu mengetahui mengatasi suasana hatinya saat ini.



Ia terus menangis sembari melempari benda yang di dekatnya.



"Kenapa? Gue salah apa?" Isaknya terus memenuhi ruangan kamarnya, ia sangat terluka dengan perlakuan Galang.



Ia bisa diam saat Galang mengabaikannya 3 hari ini, ia bahkan tetap memberikan perhatiannya kepada lelaki itu.



Dia juga masih menahan amarahnya ketika Galang memintanya menunggu di luar, tapi tidak dengan adanya perempuan lain.



Mungkin mereka tidak ada hubungan apapun, tapi kenapa Galang diam saja saat sekretaris itu dengan sengaja menyentuh tangannya di depan Luca?



Apa dia tidak memikirkan Luca?



Apa dia tidak memikirkan bagaimana harga diri Luca sebagai tuanangannya?



Apa Galang tidak memikirkan hati Luca?



Atau




Luca merasa frustasi dengan pikirannya sendiri, ia benci harus menerka apa yang sebenarnya terjadi.



Mereka baru saja bertunangan, bukankah ini masa-masa mereka saling memberi cinta.



"Noona, makan dulu yaa." Panggil bibi sembari mengetuk pintu Luca, namun gadis itu enggan menjawab.



Ia terus membenamkan wajahnya ke dalam bantal agar tidak membuat suara, mungkin ia membuat semua orang khawatir.



Perasaan ini tidak pernah ia alami sebelumnya, terasa sesak, perih dan ada begitu banyak jarum yang seakan menghunjam dadanya.



Galang yang memberikannya warna, lelaki itu yang membawanya merasakan arti dari bahagia.



Bagaimana ia bisa melupakan lelaki itu?



Meski berusaha mengumpatnya ribuan kali, Luca tetap mencintainya.



Meski merasakan perih yang teramat, ia tetap menginginkan lelaki itu kembali. Ia bahkan masih berharap lelaki itu akan pulang dan memeluknya.



Galang adalah penenang, bagaimana bisa dia menjadi kehancuran.



*Aku begitu mencintaimu*,


*Cinta yang tidak bisa aku rasakan pada manusia lainnya*.



*Aku begitu menginginkan dirimu*,


*Tak perduli meski perih menghunjamku ribuan kali*.



*Seperti inikah mencintai*?


*Berharap meskipun kamu sudah tak lagi menatap*,



*Bertahan meski kamu sendiri tak mau sadar*.


*Rupanya begini rasanya*,


*menangisi kamu sendirian*.



.


.


.


.


Hay, semoga kita semua sehat terus ya, aminnnnmnn.



Guys seperti biasa kalian bisa dukung author dengan banyak cara. Jangan lupa tingalkan jejak kalian..πŸ™πŸ™πŸ™