
Ada dua hal yang tidak bisa di lupakan, tersulit dan hal yang menyenangkan.
๐น๐น๐น๐น๐น
Malam ini Luca mengunci pintu dan juga mengambil kunci cadangan dari pelayan, ia ingin tidur dengan tenang dan fokus memikirkan rencana besok.
"Haaaah, akhirnya gue bebas." Luca merebahkan tubuhnya dengan nyaman.
"Bebas dari siapa?" Tiba-tiba suara dari jendal mengagetkan Luca, rupanya Galang yang sudah berusaha masuk lewat jendela.
Luca menatap Galang dengan sinis."Lo mau mati?"
"Lo lupa kunci jendela, jadi gue masuk." Ucapnya merebahkan tubuh di kasur setelah bersusah payah naik ke kamar Luca.
"Lo lama-lama rese juga ya." Luca membuang muka kesal, entah apa yang berada di otak omnya itu. Bisa-bisanya lelaki tua ini memanjat ke kamarnya lewat jendela.
"Katanya lo mau gue jagain." Ucap Galang mengingatkan.
"Gak jadi." Ketus Luca.
'Ya udah." Tangannya menarik tubuh Luca ke dalam pelukannya.
"Ih Galang." Luca berusaha meronta.
"Iya nama gue Galang." Dengan senyum yang terasa menjengkelkan bagi Luca.
"Lo bau." Ucap Luca agar terlepas dari pelukan Galang.
"Ya udah mandi yuk." Galang mengangkat sebelah alisnya menatap Luca menggoda.
"Om om bejat lo." Luca menaplok wajah Galang yang mesum.
"Gue boleh gak sih punya pacar?" Tanya Luca asal.
"Gak boleh."
"Oke makasih, besok gue cari." Ucapnya seakan mendapat persetujuan.
"Silahkan kalo lo mau gue kurung di kamar." Ancam Galang.
"Besok hari apa?" Entah kenapa saat ini Luca malah banyak bertanya.
"Ulang tahun Gerald, tiap tahun kita makan malam bareng." Jelas Galang.
"Oh ya? Gue bakalan ngasi suprise sama dia." Tiba-tiba terbesit ide gila yang selama ini dia cari.
"Kok lo semangat banget?"
"Kan ulang tahun om gue." Jawab Luca.
Galang menatap curiga pada Luca, ia tidak yakin gadis ini jujur. Ia seperti menyimpan rahasia dalam kebahagian kecilnya ini.
"Selamat malam." Luca menarik selimut sampai leher dan menyembunyikan wajahnya ke dalam pelukan Galang. Ia sangat ingin malam berganti pagi secepatnya, ia sudah sangat tidak sabar memberikan kejutan.
"Nanti malem ke rumah." Ucap Luca sembari membereskan bukunya ke dalam tas.
"Ngapain?"
"Ulang tahun Gerald, makan malam sama om gue doanng kok." Ujar Luca.
"Gue pakai baju apa? Gue harus cantik pas ketemu Galaxi."
"Gue pikir lo udah pacaran sama Gior."
"Dih gak mau gue." Elen mengerucutkan bibirnya.
"Gue balik." Luca menggendong tasnya dan melangkah pergi.
"ya gue juga mau pulang." Elen mengekori Luca, mereka berpisah di parkiran karena Elen membawa mobil sendiri. Berbeda dengan Luca yang masih di antar jemput seperti anak Tk.
Padahal dia sudah berulangkali meminta untuk membawa mobil sendiri, tapi Galang selalu menolaknya dengan banyak alasan. Padahal yang menjemputnya selalu Gior bukan Galang.
Sesampainya di rumah, segera ia menelfon Galaxi untuk pulang lebih awall. Om itu sudah berjanji akan membantu Luca.
Karena hal itu, Galaxi meminta izin pada kakaknya dengan alasan ingin membantu Luca untuk menyiapkan makan malam.
"Kalo kakak marah gimana?" Gior mulai mengkhawatirkan rencana Luca.
"Gue gak takut." Jawab gadis itu jelas.
"Oke semuanya siap?" Tanya Luca, ia melirik jam tangannya, ini sudah jam 5 sore. Pasti sebentar lagi omnya datang. Sesuai informasi Galaxi, Gerald dan Galang akan pulang jam 5 karena menyelesaikan berkas penting.
"Kakak dateng." Gior mengintip dari jendela, ia sudah seperti maling di rumahnya sendiri.
"Kalian ngapain?" Tiba-tiba Helen datang menghampiri mereka.
"Cepet lo keluar dari pintu samping."Luca mendorong Galaxi,saking semangatnya dai tidak menyadari kedatangan Helen.
Saat Galang akan masuk, mereka menjauh dari pintu dan,,,,,
Byuuuurrrr!!!
Galang basah terkena siram ember yang berada di atas pintu saat dia membukanya.
"Hahahahahahahah." Luca tertawa me;lihat Galang yang seperti kucing basah.
"Luca." Galang menatap tajam ke arah Luca dan meyakini hal ini adalah perbuatan gadis itu.
Ketika kakinya maju 3 langkah, ia menginjak sesuatu yang membuat dirinya di hujani tepung. Dia sudah seperti udang yang siap di goreng.
"Selamat Ulang tahun Gerald." Ucap Luca pada Gerald yang baru saja memasuki rumah itu.
"Ini kenapa?" Gerald kebingungan melihat kakaknya yang serba putih.
Galaxi sendiri muncul bersama Gerald, karena ia yang menghentikan Gerald dan mengajaknya bicara sehingga Galang yang berhasil masuk duluan.
"Gue buat suprise buat lo." Ucap Luca mempersembahkan maha karyanya yaitu Galang.
Gerald dan ketiga orang di sana berusaha menahan tawa, mereka tidak tahan melihat Galang dengan tubuh yang basah dan penuh tepung.
"Lo cari masalah sama gue?" Galang mendekati Luca sembari mengibaskan tepung di tubuhnya, tentu tepung itu sudah menjadi lengket karena air.
"Luca, tidak baik mengerjai orang tua." Gerald memberikan nasehat tanpa mencerna kata di dalamnya.
"Lo ngatain gue tua?" Galang menatap tajam Gerald.
"Eh maksudnya orang dewasa." Gerald merapatkan bibirnya agar tidak mengeluarkan suara tawa.
"Awas aja lo." Galang berlalu meninggalkan mereka, sementara Luca dan ketiga omnya masih tertawa menatap Galang.
"Luca gak baik kayak gitu." Ucap Helen yang tidak tertawa.
"Dih, terserah gue." Luca pergi ke dapur untuk mengambil cemilan dan mengabaikan perkataan Helen.
Entah Helen benar-benar memberi nasehat atau tidak suka melihat dia bahagia.
.
.
.
.
Like komennya mana?