
Waktu adalah penyembuh terbaik, dan kita adalah luka yang sulit di sembuhkan.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
Seperti yang sudah Luca duga, ia sampai di kelasnya dan saat ini bangkunya di penuhi ulat hijau yang gendut.
"Gak ada otak." Umpat Luca beralalu pergi memanggil sesorang agar membersihkan itu.
"Kok dia gak takut gitu sih?" Tanya Angel melirik Sindi temannya yang menamani dirinya mengintip.
"Gue juga gak tau." Jawab Sindi.
"Sialan, Elen ngerjain kita." Ucapnya menyadari bahwa Elen berbohong.
"Buruan cabut, dari pada kita ketahuan." Sindi menarik Angel meninggalkan tempat mereka, sebentar lagi suasana sekolah akan ramai.
Luca memang sengaja Angel jebak agar datang lebih awal ke sekolah, ia menggunakan nomor baru dan menyuruh seorang pria menyamar sebagai kepala sekolah untuk memintanya datang lebih awal.
Sayangnya Luca tidak sebodoh itu, ia tau akan seperti ini. Tentu sangat seru memberi harapan palsu pada mereka, sudah bisa di bayangkan di kepala gadis itu raut wajah Angel yang kesal karena rencananya yang gagal.
"Eh lo." Luca memanggil Sandra.
Gadis itu celingak celinguk meragukan apakah benar dirinya yang di panggil Luca. "Gue?" Tanya Sandra memastikan sembari menunjuk diri sendiri.
"Iya sini."
"Kenapa?" Tanya Sandra.
"Lo kalau liat Elen di bully lagi ngomong ke gue." Ucapnnya dengan nada dingin.
"Ohhh siap boss." Dengan senang hati Sandra menyetujui itu sembari menaruh tangannya sejajar dengan alis seakan memberi hormat.
"Gue pergi dulu." Ucap Luca pada Sandra kemudian pergi.
"Sumpah dia berdamage banget." Sandra menggelengkan kepalnya kagum.
~~~~~~
"Eh lo ngerjain gue ya." Angel menarik rambut Elen yanga akan pergi ke kamar mandi.
"Aduuhhh gue salah apa?" Elen meringis saat rambutnya di tarik.
"Gak usah sok polos, lo ngerjain kita kan?" Kini giliran sindi yang meremas wajah Elen, awalnya ia tidak ingin ikut campur, tapi dia kesal karena di bodohi.
"Gue beneran gak ngerti maksud kalian."
"Luca gak takut Ulat, dasar lonnttt lo." Umpat Angel membenturkan tubuh Elen dan kembali menarik rambutnya.
Memang jalan ke kamar mandi adalah tempat yang terbebas dari cctv, mereka tidak takut melakukan hal itu di sini. Dan tempat ini memang kerap di jadikan tempat mesum bagi beberapa kalangan, semua siswa juga sudah tau hal itu dan hanya mewajarkannya.
"Lo emang harus di kasih pelajaran." Angel sudahmengangkat tangannya ingin menampar Elen.
Bhukkkk!
Satu tendangan berhasil membuatnya melayang jatuh ke lantai, tubuhnya langsung tersungkur tak berdaya.
"Berani lo nyentuh dia?" Luca memang selalu datang di waktu yang tepat, ia menendang Angel sampai ambruk.
"Luca." Sindi sangat kaget dengan kedatangan cewek itu, setaunya ini masih jam masuk.
"Gimana rasanya di tarik?"
"Aaakkhhh lepas." Mereka berteriak meminta di lepaskan, tapi Luca tidak perduli. Ia menyeret kedua perempuan itu ke dalam kamar mandi.
"Lo kan yang ngerjain gue tadi pagi?"
"Bukan kita kok." Angel berbohong.
Luca seakan memberikan isyarat melalui tangannya agar seseorang memberilan kardus yang ia pegang.
Luca langsung melempar isi kardus pada Angel dan Sindi.
"Aaaaaaaaaaa." Mereka berdua menjerit histeris, Luca melepasri mereka dengan sekardus ulat hijau.
"Coba injek semuanya." Ucapnya tersenyum miring lalu menutup pintu kamar mandi.
"Lucaa, bukaaaaaaaa. Keluarin kitaaaa, Lucaaaa maaaf."
"Bukannn gueee,,, Luca gue janji gak mau ganggu looo...."
Mereka berdua terus berteriak histeris, Luca malah tersenyum senang, tapi Elen meringis membayangkan mereka berdua di kelilingi ulat sebanyak itu.
"Pastikan gak ada yang ke sini, lepasin mereka setelah satu jam." Perintah Luca, sepertinya ia adalah anak buah Luca.
"Luca." Elen menahan tangan Luca.
Gadis itu hanya berhenti tanpa menoleh, ia seakan tau apa yang akan di ucapkan Elen.
"Makasih."
"Ya." Luca melepas tangannya dari Elen dan kembali melangkah.
"Gue mau bicara sebentar." Elen mencegat Luca dengan berlari dan berhenti di depannya.
"Buruan."
"Gue dukung apapun keputusan lo untuk mama gue, tapi gue harap lo gak bakal bunuh dia. Dia memang salah, tapi bukan tugas lo mencabut nyawa seseorang. Gue gak mau lo sama kayak dia, lo gak boleh bunuh dia dan ngotorin tangan lo." Jelas Elen.
"Lo yakin nerima apapun keputusan gue?"
"Iya, gue tau mama gue salah, dia pantas nerima hukuman. Tapi gue gak mau kehilangan ibu dan juga kehilangan lo."
"Nanti lo bisa ke rumah gue, gue bakal bilang hukuman apa yang pantas buat dia." Luca pergi melewati Elen.
"Lo gak bakal tinggalin gue kan?" Tanya Elen dengan sedikit berteriak.
"Nggak." Jawab Luca dengan suara datar namun terdengar jelas di telinga Elen.
.
.
.
.
Yuk like dan komen, silahkan tambahkan ke favorit dan memberikan vote dan hadiah untuk mendukung karya ini readers๐