
Kamu adalah anugrah, cinta adalah pelengkapnya.
~Juan.
🌹🌹🌹🌹
"Nih." Juan memberikan segelas minuman yang ia beli.
"Makasih." Luca menyambutnya dengan antusias, syukurlah ia bertemu dengan Juan.
"Lo gak papa?" Tanya Juan menatap wajah gadis yang duduk di sampingnya.
Luca hanya tersenyum, ia masih mengingat jelas bagaimana Juan mendobrak pintu untuk menemukan Luca. Jika Juan tidak datang tepat waktu, entah apa yang akan ia lalui bersama guru itu di dalam sana.
Luca memang tidak pernah takut pada apapun, tapi pada dasarnya ia adalah perempuan. Ia masih sangat butuh perlindungan dari seorang lelaki bukan?
"Lo gak mau nanya apapun?" Tanya Luca, pasalnya Juan tidak menyinggung apapun tentang kejadian tadi.
"Lo bisa cerita kalau lo mau." Jawab Juan menyesap minumannya.
Luca hanya mengangguk, mungkin Juan adalah orang yang mudah memahami orang lain. Buktinya ia mampu berada di dekat Luca tanpa menyinggungnya sedikitpun.
"Jangan cerita sama Elen ya, nanti dia heboh." Pinta Luca mengingat sahabatnya yang cerewet.
"Tenang aja." Tanpa sengaja Juan mengusap rambut Luca, mungkin ia terbawa suasana. Setelah menyadarinya ia malah terlihat gugup menurunkan tangannya.
"Gue pergi dulu." Luca beranjak dari sana, tidak baik berlama-lama di sana. Elen juga pasti sibuk mencarinya sekarang.
"Haduh begok banget gue." Umpat Juan mengacak rambutnya frustasi, ia membuat Luca pergi karena tindakannya.
Hari ini lembur lagi?
Luca mengirimkan pesan pada Galang, pasalnya lelaki itu bahkan tidak punya waktu bertemu Galang. Dia berangkat pagi-pagi sekali dan pulang larut malam. Luca mersa kesepian karena tingkah Galang, seharusnya mereka semakin dekat karena sudah bertunangan.
Yang lebih menyakitkan bagi Luca adalah, ia tidak bisa mengantar Bram ke bandara. Itu karena hujan dan membuatnya terlambat. Ia hanya bisa mengirimkan pesan sembari meminta maaf pada sang ayah.
"Elen." Panggil Luca saat Elen berjalan di depannya.
"Kenapa?"
"Anterin gue ke kantor Galang ya." Ucap Luca, Galang sedari tadi tidak membalas pesannya.
"Ohh ya udah ayok." Elen dengan senang hati membantu sahabatnya.
Memang akhir-akhir ini Luca tidak terlalu membahas Galang, gadis itu memang pendiam, tapi biasanya ia akan menceritakan Galang sesekali. Bahkan saat Elen menanyakan hal itu, Luca hanya tersenyum.
"Lo berantem?" Tanya Elen memecah keheningan di antara mereka.
"Sama siapa?" Tanya Luca.
"Sama Galang."
"Gue juga gak ngerti." Ucap Luca, seingatnya mereka memang baik-baik saja.
"Jadi kalian kenapa?"
"Mungkin ada masalah di kantor."
Luca hanya terdiam, entah maslaah apa yang lelaki itu hadapi sehingga membuatnya acuh.
Seingat Luca Galang akan memeluknya sembari merengek jika ia tengah lelah dengan pekerjaan.
Tapi kali ini Galang terasa dingin.
"Lo mau di tungguin?" Tanya Elen setelah mereka sampai.
"Gak usah, gue bisa minta di anter nanti." Luca turun dari mobil Elen.
"Ya udah gue cabut dulu." Elen melambaikan tangan, begitu juga Luca membalasnya.
Setelah mobil Elen menghilang, barulah ia melangkah memasuki gedung pencakar langit itu.
"Galang mana?" Tanya Luca yang melihat Gerald.
"Di ruangannya, ada apa?" Tanya Gerald, tidak biasanya Luca ke sini.
"Gak papa mau ketemu aja." Ujar Luca keemudian menghilang meninggalkan Gerald.
Ia harap Galang akan terkejut dan berhenti untuk bersikap cuek.
"Galang." Luca membuka pintu dengan riang, ia tidak tau di balik itu Galang tengah bersama sekretaris gatal itu.
Galang hanya menatap Luca dingin, ia bahkan tidak beranjak dari posisinya yang dekat dengan sekretaris perempuannya.
"Tunggu di luar dulu." Ucap Galang dengan teganya kepada Luca.
.
.
.
.
Hay readers, author tetep up cerita meskipun udah dikit yang nungguin😪