
Aku belajar dari sebuah pengalaman.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น
"Heh berhenti." Angel tiba-tiba muncul di hadapan Elen entah dari mana, gadis itu langsung ketakutan setengah mati.
Apa dia akan di bully lagi?
"Ada Apa?" Tanya Elen tidak bisa menyembunyikan ketakukannya, gadis itu memang sangat penakut.
"Lo temennya Luca?" Tanya Angel pada Elen.
Gadis itu hanya mengangguk. Meskipun ia sendiri tidak tau apa posisinya bagi Luca saat ini, tapi dia maasih menganggap Luca sahabatnya.
"Pasti lo tau dong kelemahan dia? Kalo lo ngasih tau gue, gue bakal lepasin lo." Ancam Angel.
"Dia gak punya kelemahan." Jawab Elen dengan cepat, padahal debar jantung sedan tidak aman saat ini.
"Gak mungkin cewek gak punya kelemahan, buruan kasih tau. Kalau enggak,,,," Angel mencengkram kuat wajah Elen.
"Diaaa, dia takut ulat." Ucapnya asal, padahal yang takut ulat Angel.
"Ohhh, ternyata dia gak se hebat yang gue pikirin, pergi sana!" Angel melepaskan Elen dan mendorongnya pergi.
"Tapi gue takut ulat." Celoteh Angel pada Sindi di sampingnya.
"Gue gak mau bantuin, gue juga jijik sama ulat." Tolaknya.
"Gampang, tinggal suruh orang aja." Ucapnya seakan baru memecahkan suatu masalah besar.
"Lucaa, tadi Elen di gangguin sama Angel." Lapor perempuan yang akhir-akhir ini menghampirinya, dia adalah cewek yang sama yang Luca selamatkan di kamar mandi.
"Di apain?" Tanya Luca dengan wajah yang tetap datar.
"Dia di cengkram tadi mukanya, terus di dorong. Gue tadi kan ngumpet sambil nguping, Elen kasih tau kalau lo takut sama ulat. Terus Angel suruh orang buat ngambil ulat, soalnya dia juga takut ulat" Jelasnya menggabrkan yang ia lihat dan dengar.
"Ulat?"
"Iya, kok Elen ngasih tau sih." Tercetak jelas di wajahnya perasaan kecewa, padahal yang ia tau Elen dan Luca teman baik.
"Gue gak takut ulat." Jawab Luca menghilangkan kegusaran gadis itu.
"Haaah? Jadiiii?" Dia mencerna apa yang sebenarnya Elen katakan, jadi tadi Elen hanya membodohi Angel.
"Siapa nama lo?" Tanya Luca pada gadis itu.
"Akhirnya lo nanya nama gue, gue Sandra." Ucap sembari meengulurkan tangan.
Luca hanya mentap datar tanpa menyambutnya, sepertinya ia di kelilingi oleh orang-orang aneh.
Gue jemput ya?
Galang mengirikan pesan pad Luca, ia jadi teringat kembali akan kemarahannya.
"Ganggu aja." Ia kembali menaruh phonselnya ke dalam saku dan menaiki taxi.
Luca tengah memandang jalanan, ia sangat merasa tenang saat melihat pohon-pohon mendekat kemudian menjauh. Ia terus memandangi itu satui persatu, bangunan kokoh yang menjulang tinggi ingin menyentuh langit. Semua itu akan ia lewati setiap harinya, tapi mungkin dengan suasana yang berbeda.
"Semua akan datang dan peergi pada waktunya."
Entah kenapa ia merasa kram pada perutnya, sakitnya amat sangat terasa perih. Dia menekan kuat perutnya karena kesakitan.
"Kenapa neng?" Tanya supir taxi itu melirik kaca dan melihat Luca yang kesakitan.
"Paak, cepetan yaa." Ucap Luca dengan nafas yang terengah.
"Mau kerumah ssakit dulu?" Tanya supir taxi itu mulai khawatir.
"Gak usah pak, udah deket kok."Jawabnya.
Sakitnya tak kunjung reda, ia tidak tau apa yang terjadi. Ia tidak pernah sesakit ini sebelumnya, kenapa sekarang rasanya perutnya sedang di tusuk dan di sirami garam.
"Neng udah sampai."
"Makasih pak." Luca memberikan ongkos kemudian keluar dengan tertatih.
Dengan susah payah ia berjalan sampai ke depan pintu, tapi rasanya ia tidak kuat lagi menahan rasa sakit itu. Pandangannya mulai buram, telinganya berdengung keras.
"Luca." Galang meembuka pintu tersenyum, ia sengaja pulang lebih awal agar bisa mengejutkan gadis itu.
Tapi melihat Wajah Luca yang meerah padam dan kakinya yang bergetar.
"Lo kenapa?" Tanya Galang, sedetik kemudian Luca ambruk. Untunglah Galang langsung menangkap tubuhnya.
.
.
.
.
.
Yuk like dan komen buat semangatin author.๐ฅฐ๐ฅฐ๐ฅฐ๐
silahkan di favoritkan dan berikan jejak di setiap bab.