
Jadi kamu ingin tahu rasanya?
🌹🌹🌹🌹
“Ngapain kamu beli itu?” Tanya Galang yang malah cengemgean menghampiri Luca, ia seakan tidak perduli dengan wajah Luca yang merasa terbakar.
“Ihhh ini tuh hadiah dari Elen, emang dasar tu anak ya mesum banget ya otakanya.”
Tiba-tiba Galang meraih Lingerie yang berada di hadapannya dan malah mebolak balik benda itu . “Coba pakek.” Serunya tanpa beban.
“Hah?” Luca melongo tidak percaya.
“Ya kan Elen udah ngasih, masak gak kamu pakek, nih.” Galang memberikan benda itu pada Luca.
“Tapi kan... tapi malu pake begituan.” Ucapnya.
“Ngapain malu, aku itu suami kamu.”
“Tapi ,”
“Gak boleh nolak perintah suami, buruan.”
Dengan terpaksa Luca ,mengambil baju kurang bahan itu dan menuju kamar mandi.
Klung!
Nama Elen tertera di layar phonsel Luca, sahabat berngshakenya itu mengirim pesan.
‘Gimana, baguskan kado gue?’
Luca menatap geram, beraninya ia di kerjai sampai malu begini.
‘Gue bunuh lo besok’
Luca membalas pesan itu kemudian menelfonnya.
“Sialan, gak diangkat lagi.” Umpatnya kesal.
“Lucaaaa, jangan lama-lama.” Suara Galang mengagetkan Luca, mendengar suara itu jantungnya seakan sedang maraton mencoba keluar dari tubuhnya.
Setelah beberapa saat Luca benar-benar keluar menggunakan baju haram itu, ia tertunduk malu tidak berani melihat ekspresi Galang. Sementara suaminya sudah tidak mampu beredin melihat tubuh Lua yang nyaris telanjang dengan lekuk yang sempurna.
Galang menghampiri Luca dan menarik gadis itu ke dalam pelukannya. “Cantik kok sayang.” Galang mengelus lembut pipi Luca dengan mengecupnya.
Galang ******* bibir Luca dengan lembut, semakin ia mempererat pelukannya dan memperdalam ******* itu. Perlahan ciumannya turun ke leher Lua yang mulus sampai meninnggalkan jejan di sana.
Galang menggendong Luca dan menjatuhkan tubuh mereka di kasur, kembali ia ***** bibir mungil Luca dengan tangnnya yang terus meraba hingga meremas dua gundukan yang masih sangat kenyal dengan ukuran yang besar menurutnya.
“Sssshhh, massss.” Lucat idak mampu lagi menahannya, sentuhan Galang selalu tersa memabukkan baginya. Dia ia snagat menikmati semua hal yang lelaki itu lakukan padanya.
Galang membuka baju itu, sebenrnya ia sangat ingin merobeknya, namun ia mengingat ini adalah pemberian dari sahabat gadisnya. Galang terus menyusuri semua area bukit itu dan tak lupa ia menyecap gemas punck yang berwarna pink yang sangat ingin ia telan.
Galang melirik wajah Luca yang terlihat sangat menikmati namun ia seperti kelelahan.
“Akan lebih baik jika aku mengerjainya, ya meskipun aku harus menahan diri.” Gumamnya dalam hati.
Galang kembali menyesap gundukan itu, sementara tangannya terus menyusuri tubuh Luca sampai turun pada area sensitifnya. Dengan sengaja Galang mengelus dan menekan area sana membuat Luca mengelinjan tak tenang dengan perlakuan suaminya.
“Masssshh, jangann.” Serunya menolak namun tak bisa melakukan apapun.
“Jangan berhenti maksudnmu?” Tanya Galang kembali menggoda Luca dan semakin menekan jarinya di sana.
“Ssshhhh.”
Galang tersenyum, ia sangat ingin menggempur gadis itu malam ini. Tapi Luca pasti kelelahan setelah seharian ia mengahbiskn acara keluarga.
Tiba-tiba Galang melepas tangannya dari sana dan mengelus rambut Luca lembut. “Tidurlah, aku tidak akan meintanya sekrang.”
“Hah?” Luca masih bingung, Galang tiba-tiba berhenti dan malah memeluknya mengajak tidur. Apa ia tidak selera dengan miliknya?
Padahal gadis itu sangat menikmatinnya tadi, tapi Galang malah mengakhirinya. Tentu saja Luca tidak mampu menyembunyikan raut wajahnya yang tengah cemberut.
Galang melirik ekspresi Luca kemudian tersenyum.
.
.
.
.
Hay readers, kalian mau aku tamarin Nobel ini apa nggak? komen dong