
Kalah jadi abu, menang arang.
๐น๐น๐น๐น๐น
"Siapa lo sebenarnya?" Tanya Luca pada lelaki itu, ia kembali memulai pertarungan dan terus menerus menghajar lelaki itu.
"Luca." Teriak Galang yang sedang menatap Luca dari bawah, ia melihat gadis itu sedang bertarung dengan salah satu dari musuhnya.
Karena melihat hal itu, ia jadi tidak fokus pada musuhnya sendiri. Sekarang semua orang sibuk bertarung saling membunuh.
"Kakak." Teriak Galaxi sembari berlari saat melihat satu pistol tertuju pada kakaknya.
Galang tidak mendengar panggilan Galaxi, ia fokus melihat ke atas memanggil Luca.
"Kakak awas." Teriak Galaxi sekencang mungkin.
Daaaaarrrr.
Galang berbalik mendengar teriakan adiknya, tapi sudah terlamabat. ia sudah melihat Galaxi dengan lumuran darah di tangannya.
"Galaxi." Galang segera menyeret Galaxi berlindung ke belakang tubuhnya.
Daaaarrr daaarrr daaarrr
Ia mengarahkan semua tembakan itu pada mereka tepat di jantungnya.
"Gior, bawa Galaxi ke dalam." Ucap Galang memanggil Gior yang juga tengah beradu fisik.
Segera Gior membawa Galaxi ke dalam, Galang mengerahkan semua orangnya agar mengakhiri pertarungan ini.
Luca menatap nanar ke bawah, lagi-lagi karena dirinya ia sudah membuat orang lain terluka.
"Haaaaaaaah." Teriak Luca mengeluarkan belatinya dan kembali menyerang lelaki itu dengan lebih ganas.
"Kenapa lo gak bunuh gue aja? Kenapa lo terus nyakitin mereka." Teriak Luca dengan nafas yang terus memburu.
Lelaki itu tetap diam seribu bahasa, ia seperti tidak perduli dengan perasaan Luca.
Traaasss
Luca mengenai kaki lelaki itu, segera ia kabur dengan melompat ke bawah balkon.
Luca berlari keluar kamar, ia melihat Galaxi dengan darah yang mengucur di tangannya. Untung hanya mengenai tangannya sehingga tidak membahayakan nyawa Galaxi.
Luca berlari ke kamar Helen, ia melihat Shina sedang duduk dengan tenang. Ia tau pasti Shina juga berada di balik ini semua.
"Ikut gue." Luca menyeret Shina dengan kasar.
"Kamu mau ngapain?" Tanya Helen berusaha menahan ibunya.
"Lepas kalau lo juga gak mau gue seret." Ancam Luca.
"Apa yang kamu bicarakan? Apa Salahku?" Tanya Shina memasang muka sedihnya.
Luca tetap menyeret tubuh Shina dan melemparnya ke lantai saat sampai di ruang tengah.
"Mama." Helen memeluk Shina yang jatuh.
"Ini semua pasti karena lo kan?" Ucap Luca dengan menatap tajam.
"Luca, stop nyalahin mama. Kenapa lo benci banget sama mama?" Tanya Helen.
"Lo pikir gue gak tau apa yang mama lo lakuin selama ini hah? Sebaiknya lo pergi kalau lo gak mau bernasib sama."
"Luca aku tidak melakukan apapun." Ucap Shina memelas.
Luca menarik Shina agar bangun dan,,
Pyaarrr.
"Ini adalah balasan setiap kelicikan lo." Luca mencekik leher Shina dan menempelkannya di dinding.
"Luca lepasin mama." Shena beruasaha melepas tangan Luca. "Tolonnngg." Teriak Helen di sana.
Galaxi dan Gior langsung menghampiri mereka.
"Ada apa Luca?" Tanya Gior melihat Luca yang sangat marah, tapi gadis itu enggan menjawab.
"Luca lepaskan dia, Gior tarik Luca." Ucap Galaxi.
Gior menarik tubuh Luca menjauh dari Shina, sementara nenek tua itu sudah hampir tidak bisa bernafas. Bahkan kuku Luca tercetak jelas di lehernya.
"Dia yang selalu nyusahin kita, dia yang ngebantu mereka nyerang rumah ini." Luca berussaha melepaskan tubuhnya dari Gior.
"Tenang dulu, kita tidak memeliki bukti apapun." Gior berusaha menenangkan Luca.
"Tunggu sampai perang ini berakhir, baru kita bisa menentukannya."Ucap Galaxi menengahi.
"Oke, sampai saat itu jangan harap lo bisa pergi. ingat itu." Ucap Luca, Gior melepaskan Luca karena merasa gadis itu sudah tenang.
Saat di lepaskan, Luca segera berlari ke luar menghampiri Galang.
.
.
.
.
.
.
.
Mohon maaf kepada semua readers, author gak up karena kendala sinyal. Di desa author hujan tiap hari dan menyebabkan beberapa kerusakan sehingga sinyal di sini jelek dan author gak bisa buka plikasi ini...
mohon maaf yang sebesar-besarnya sudah membuat kalian menunggu, author sudah berusaha sebisa author.
Jangan lupa like dan komentarnya, author hanya butuh dukungan kalian.