
Rumah adalah tempat terhangat untuk pulang, tapi di mana aku harus temukan rumah itu
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
"Maa, mama mau kemana?" Tanya gadis kecil itu sembari menarik tangan ibunya.
"Sayang, kita harus pergi dari sini. Kamu ikut mama ya." Perempuan itu menggenggam tangan putri kecilnya
"Tapi ma, papa gimana? Kita harus nunggu papa." Tanya bocah polos itu.
"Papa udah gak sayang sama kita. Udah kamu diem, ikut aja apa kata mama." Perempuan itu menarik paksa putrinya untuk masuk ke dalan mobil.
Sepanjang perjalan gadis itu tak bisa berhenti menangis.
"Hikssss hikss, maaa papa gimana? Aku mau sama papa."
"Kamu jangan nangis terus, mama makin pusing. Kamu mau mama turunin di sini?" Bentak ibu anak itu tanpa merasa kasihan.
Anak kecil itu hanya menggeleng tanpa menghentikan tangisannya.
Ia tidak tau kenapa ibunya mengajak dirinya pergi.
Yang ia rasakan hanyalah sakit di hatinya, berulang kali ia melihat pertengkaran orang tuanya di rumah besar itu.
Entah apa yang ada di pikiran orang dewasa, kenapa mereka selalu marah dan marah.
Kenapa mereka tidak menanyakan perasaan anak kecil ini?
"Brengsek, bajingan. Harusnya aku tau hal itu sejak dulu." Perempuan itu memukul setirnya berulangkali.
Gadis di sampingnya semakin merasa takut, ia tidak tau kenapa ibunya yang sangat lembut dan baik hati tiba-tiba bertindak sangat kasar seperti ini.
Kemana senyum wanita itu?
Kemana nasihat-nasihat dan pujian yang selalu ia lontarkan pada putri kecilnya?
"Maaa, aku takut." Rengek gadis itu semakin menjadi melihat tingkah ibunya.
"Diam kamu, kamu bisanya cuman nangis terus. Mama udah bilang jangan cengeng." Teriaknya menarik wajah putrinya kasar.
"Haaaaaa, hiksss hikss." Tangisannya tak bisa di kendalikan, ia seperti sangat ingin pergi dari samping ibunya.
Tidak seharusnya ia bernasib begini, kenapa tuhan menyiksanya di usianya yang masih sangat belia.
"Lucaa, bangun. Lucaaaaa." Galang berulangkali mengguncang tubuh Luca.
"Haaaahh." Luca merasakan sesak di dadanya, keringatnya mengucur deras di kamar yang ber AC ini.
"Gerald, cepat telfon Vano." Teriak Galang melihat Luca yang sudah sadar.
Ia sangat khawatir karena Luca berteriak dan menangis saat tertidur.
"Luca tenanglah." Galang memeluk Luca dan mengelus kepalanya.
Luca masih susah mengambil nafas, ia terus saja mengingat mimpinya.
Mimpi itu datang lagi, mimpi yang sudah bertahun tahun ia hindari.
Kenapa harus sekarang? Di saat hidupnya sudah mulai membaik, untuk apa ibunya datang kembali ke dalam mimpinya.
"Atur nafas, perlahan." Galang melepas pelukannya namun tetap membelai rambu Luca.
Galang semakin khawatir melihat Luca yang hanya dia dan menangis.
"Galang ada apa?" Vino tiba di sana setelah beberapa saat.
"Periksa dia, dia selalu kesusahan saat bernafas." Galang menyingkir dari samping Luca memberi jalan.
"Berbaringlah." Vino membaringkan tubuh Luca.
Keempat lelaki tampan itu menunggu dengan cemas, mereka sudah sangat khawatir dari tadi karena Luca tidak mau berbicara apapun dan hanya menangis.
"Kita bicarakan ini di luar, gue udah kasi suntikan penenang buat dia." Vino menggiring keempat saudara itu keluar.
"Apa ada masalah serius?" Tanya Galang.
"Gini Lang Secara keseluruhan dia gak papa, dia hanya sedikit sters, kayaknya dia selalu mengalami kesusahan bernafas hingga membuatnya sesak. Dan itu bisa berakibat buruk." Jelas Vino.
"Dia emang susah ngatur nafas pas dia marah." Gior mengingat semua kemarahan Luca.
"Jadi gue harus gimana?" Galang meminta solusi yang tepat pada sahabatnya Vino.
"Menurut gue, dia mengalami beberapa tekanan. Lebih jelasnya, besok lo ke rumah sakit gue, gue bakal bawa lo ke psikolog."
"Tapi dia gak papa kan?" Galang tidak bisa menurunkan rasa cemasnya.
"Tenang aja, dia cuman butuh istirahat dan melatih nafasnya. Gue cabut dulu." Pamit Vino.
Vino adalah sahabat Galang sedari mereka kecil, mereka sama m-sam berjuang dan meraih kesuksesan, dan Vino adalah dokter terpercaya yang selalu menangani keluarga Galang.
"Kak, apa ini ada hubungannya sama boneka itu? Mental Luca tiba-tiba drop sejak melihat boneka itu." Galaxi mencurigai kejadian ini.
"Nanti kita bahas setelah kondisinya membaik." Galang kembali masuk ke kamar Luca.
Ia memang sudar memikirkan hal itu sejak tadi, Luca yang menangis histeris saat melihat boneka itu sama saat ia kehilangan. Tapi tatapannya berubah menjadi amarah saat tau itu boneka mamanya sendiri.
Dan sekarang, ia malah menangis ketakutan dengan mimpi yang hanya ia sendiri yang mengetahuinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
DUHH KAYAKNYA JATI DIRI LUCA MULAI TERUNGKAP NIH...
TERUS IKUTIN CERITA INI DAN BERIKAN KOMENTAR DAN LIKE KALIAN.
LOVE YOUUU..โคโค