LUCA

LUCA
EPISODE 130



Seperti kehancuran yang menantikan mu, dan kesakitan yang menunggumu di belakang.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Hari ini Luca pergi sekolah, ia sudah merasa membaik sekarang. Seperti biasa , Galang mengantarnya ke sekolah.


Sayangnya, ia pindah tempat duduk, ia bertukar tempat duduk dengan teman sekelasnya. Kali ini ia duduk sendiri di kursi paling pojok, sesekali ia melirik bangku Stefan.


"Si bangshat itu berhasil kabur." Ujarnya menatap pemilik bangku itu.


Tak lama kemudian, Elen masuk ke kelas. Ia menatap Luca di pojok, sepertinya gadis itu benar-benar akan menjauh dari Elen.


Luca hanya menatapnya datar, tanpa ekspresi apapun. Dia seperti tidak mengenali gadis itu lagi.


Sesak rasanya harus bersikap seperti ini, bagaimana hari-hari selanjutnya?


Selama pelajaran berlangsung, Elen hanya melirik Luca dari jauh. Fikirannya tidak bisa tenang selama ia belum bisa berbicara dengan Luca.


"Luca." Elen menghampiri bangku Luca setelah jam istirahat.


Luca hanya memandang Elen tanpa bergeming atau bertanya apapun.


"Ikut gue." Elen menarik Luca, tidak mungkin meembicarakan hal ini di depan teman sekelasnya.


"Apa?" Tanya Luca melepas tangannya


"Lo gak bisa diemin gue kayak gini, gue gak nyaman. Lo gak bisa hukum gue atas apa yang lo alamin."


"Lo mau gimana? Mau ikut gue hukum nyokap lo? Sanggup?" Tanya Luca tanpa basa-basi.


"Lo udah tahan dia kan? Lo juga udah renggut ibu gue, kenapa sekarang lo juga mau ninggalin gue? Kesalahan apa yang gue buat sampai gue di hukum?"


"Kesalahan lo cuman satu, yaitu kenal sama gue. Gue iblis." Ucap Luca memalingkan wajahnya.


"Hukum gue apapun, asal jangan tinggalin gue. Gue sayang sama lo."


"Justru karena lo sayang sama gue lo harus jauh, lo gak bakal bisa milih antara gue sama nyokap lo. Gue gak bakal lepasin orang yang udah bunuh ibu gue gitu aja."


"Tapi gue gak bisa."


"Menjauh dari gue sebelum lo semakin terluka." Luca meninggalkan Elen begitu saja, menurutnya ini yang paling baik untuk mereka.


Ia bisa saja menerima Elen kembali, ia tau dia tidak bersalah. Namun ia harus menjatuhkan hukuman pada Kanya, dengan berada di dekatnya Elen hanya akan semakin terluka. Dan kenangan itu terasa melekat di wajah Elen.


"Gue tau lo sayang sama gue." Teriak Elen pada Luca yang terus mengabaikannya.


Ini memang kesalahannya, ia tidak bisa memilih dengan tegas antara sahabat dan ibunya. Tapi Luca bukan sahabat biasa, dia adalah orang yang berkali-lkali menyelamatkan nyawanya, orang yang selalu mengajarkan keberanian padanya. Seumur hidup dia tidak akan menemukan orang sepertinya, dan dia tidak mau kehilangan orang itu.


"Gue harus ketemu sama mama." Gumamnya sembari mengirim pesan pada Gior, ia ingin bertemu Kanya.


Entah lelaki itu akan menyetujui atau menolaknya, tapi ia tau semua keputusan berada di tangan Galang.


Dan Gior membals pesannya setelah jam pelajaran selesai, syukurlah Galang menyetujui Elen untuk bertemu Kanya.


Sekarang Gior sudah menuggu di depan gerbang bersama mobilnya untuk menjemput Elen.


Saat melewati gerbang, Luca menatap mobil Gior sesaat, tidak salah lagi itu adalah mobil milik Gior. Ia tengtu tau alasan mobil itu nangkring ddi depan sekolahnya sekarang.


Sampainnya di rumah, ternyata Gior bersama Elen juga kerumahnya, ia tidak mengira bahwa Gior membawanya ke rumah ini.


"Tutup matamu, ini adalah ruangan rahasia." Ujar Gior memakaikan kain penutup mata Elen.


Dengan patuh Elen memakainya, dan mereka melangkah menuju ruang bawah tanah, kemudian Gior melepas pentup mata Elen.


"Mama." Panggil Elen pada perempuan yang tertunduk lemas den rantai berat yang mengikatnya.


Elen menangis melihat ibunya dalam kondisi seperti ini, ia tidak tega melihat perempuan itu penuh luka dan sangat berantakan.


"Gue pergi dulu, lo bisa telfon gue kalau udah selesai." Gior meninggalkan mereka berdua.


Elen di izinkan masuk kedalam jeruji itu, ia langsung memeluk Kanya.


"Sayang,, kamu datang untuk mama?" Tanya Kanya.


Elen tiba-tiba langsung melepas pelukannya dan menghapus air mata itu.


"Seharusnya mama juga melakukan ini pada Luca, haarusnya mama juga menyayanginya."


"Kau masih memikirkan gadis itu, dia sudah membuangmu." Ujar Kanya untuk menyadarkan Elen.


"Ini karena mama, jika bukan karena mama tentu aku akan masih berada di sampingnya. Aku juga tidak akan melihat mama seperti, apa mama tidak pernah memikirkan perasaanku?"


"Tenang saja, kita pasti akan kembali bersama." Ucap Kanya.


"Apa maksud mama?" Elen tidak memahami perkataan ibunya.


"Kau beerpacaran dengannya bukan? Dia bahkan mengizikanmu menemui mama, kaubisa mempengaruhi dirinya agar melepas mama."


"Maaa, apa mama sudah gila? Mama masih berfikir ingin memanfaatkan hubunganku?" Elen tidak menyangka bisa melihat sisi ibunya yang seperti ini.


"Memangnya kenapa? Kau tidak mau bersama mama lagi?"


"Bukan begitu maa."


"Ya sudah lakukan itu." Perintah Kanya.


Elen merenung sesaat akan perkataan Kanya. "Tidak, seharus mama meminta maaf dan merenungkan kesalahan mama." Tolak Elen.


"Aku pergi dulu, sepertinya mama bukan merindukanku." Ucapnya melangkah pergi menjauh dari ibunya.


.


.


.


.


Silahkan berikan komentar, author meminta saran kalian. Bagiamana menurut kalian tentang Luca dan Elen?


Author sudah up dua bab lagi, Jangan lupa like dan komen, kalian juga bisa memberikan hadian dan vote untuk mendukung karya author. terimaksih๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™