LUCA

LUCA
EPISODE 131



Kehangatan akan kita dapatkan saat saling menggenggam.


🌹🌹🌹🌹🌹


"Lo baik-baik saja?" Tanya Gior yang menghampiri Elen.


"Gue mau pulang." Ucap Elen pada kekasihnya.


"Baiklah." Seperti biasa ia di tutupi saat melangkah keluar dari sana.


Saat dampai di luar, barulah dia bisa membuka penutup matanya. Dan yang ia lihat adalah Luca yang tengah duduk di kursi sembari menyantap makanannya.


Ia sangat ingin menangis, sekarang dia sudah tidak punya apapun lagi termasuk sahabatnya.


"Ayo." Gior menarik Elen agar pergi dari sana.


Mereka berdua melangkah melewati Luca dan keluar rumah. Sebenarnya Luca tau bahwa gadis itu sedang menatapnya sejak tari, tapi dia harus bersikap begini.


"Jaga diri baik-baik." Gumamnya memandang punggung mereka berdua yang melewati pintu.


"Kenapa tidak menemuinya saja?" Tanya Galang duduk di samping Luca.


"Lo tau betul posisi gue." Jawabnya.


"Karena itu gue ngomong begini, lo harus hukum Kanya, bukan menghukum Elen dan diri lo sendiri." Galabg membelai rambut Luca lembut, ia harus menjelaskan ini secara perlahan agar gadia itu mau mengerti.


Luca terdiam, ia mencerna baik-baik perkataan Galang. Memang benar yang ia lakukan tidak selaras dengan hatinya, tapi dia bisa apa?




"Jangan pergi." Elen menarik lengan Gior yang akan pergi setelah mengantarnya.



Gior menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, ia harus memahami luka gadis ini.



"Baiklah, ayo kita masuk." Gior tersenyum memenuhi permintaan Elen.



Dengan riang ia segera menarik Gior ke dalam, setidaknya ia tidak akan merasa kesepian sekarang.



"Lo mau makan apa?" Elen menawarkan.



"Makan lo boleh?" Gior mendekatkan wajahnya menggoda Elen.



"Isshh, masak gue bisa di makan."



"Bisa kok, mau coba gak?" Godanya lagi.



"Gior udah ah gak mau ngomong lagi." Elen cemberut menunjukan kekesalannya.



"Yaudah diem, kita gini aja." Gior langsung menyambar bibir Elen dan membuat gadis itu terkejut.



Setelah beberapa lama, baru Elen dapat membalas ciuman Gior dan mengimbangi pagutannya.



Mereka terus saling menyesap satu sama lain sampai kesusahan bernafas karena terbakar gairah.




"Makasih." Ucapnya kembali menyesap bibir Gior, kali ini Elen terasa lebih mendominasi.



Darahnya berdesir begutu hebat, ia langsung melupakan semua kesedihannya dan malah menikmati kegiatannya.



Terasa sesuatu bergerak di bawah sana ingin berintak, Gior seperti merasa kesusahan menahannya.



"Elen, berhentilah." Ucapnya pada gadis itu.



Tapi Elen seakan tuli fan tak mau mendengar apa yang Gior katakan, ia terus mendekati lelaki itu dan mengincar bibirnya.



"Elen jangan memaksa, lo tau akibatnya." Gior menjauh dari Elen, tapi Elen malah naik ke pangkuan Gior dan mellllll,,,,uuummat kembali bibir itu.



Elen merasakan sesuatu yang merontah di bawahnya, sepertinya adik Gior sangat tersiksa terlebih saat dia tindih.



Gior membalas pagutan itu dan turun menjejaki leher milik Elen, ia menyesap habis semua bagian itu. Ingin sekali ia memberikan tanda di sana, namun ia sadar tidak boleh melakukan ini.



"Sssshhhh." Suara Elen mulai meracau, nafasnya mulai naik turun karena kegiatan itu.



Di saat mereka menikmati dalam menyalurkan perasaanya, dering telfon membelah kenikmatan mereka dan mebuat mereka saling menatap.



"Gue angkat ini dulu." Elen nyengir dan kangsung kabur ke kamarnya.



"Gadia itu." Umpat Gior, sementara dirinya malah di tinggal dalam keadaan begini.



"Aaakhhh Elen." Teriak Gior kesal karena adiknya sudah bangun sejak tadi, dan tanpa merasa bersalah gadis itu malah pergi.



Dia yang memancingnya, dia juga yang pergi begitu saja.



.


.


.


.


Iya tau lagi musim hujan😅



silahkan komen dan like ya, author masih bisa up satu bab karena author lagi sibuk banget..😭😭



Nanti author usahain lagi yaa.. makanya kalian like sama komen yang banyak🙏