LUCA

LUCA
EPISODE 128



Ingatlah, cinta adalah pemberian.


Mencintai perempuan lain bukan kesalahan, tapi membuat hubungan dengannya adalah dosa besar.


🌹🌹🌹🌹🌹


Mereka langsung bubar ke kamar masing-masing, tapi Bram mengingat bahwa ia harus menemui Helen.


Sebenarnya ia sedikit ragu, sebab bagiamanpun Helen adalah orang yang ia cintai. Tapi Helen juga adalah kesalahan yang ia ciptakan sampai kehilangan Katrina. Setidaknya, ia akan menemui dia sekali aja, untuk berterimakasih dan meminta maaf.


"Helen." Panggil bram membuka pintu.


Perempuan itu langsung terperangah kaget sekaligus bahagia melihat lelaki yang masuk ke kamarnya.


"Bram? Kau datang?" Tanya Helen mendekati Bram.


"Ya, karena aku harus menemuimu." Bram tersenyum tipis.


Helen langsung memeluk Bram, ia begitu merindukan sosok lelaki ini. Bagaimanapun juga, mereka sudah beertahun-tahun bersama. Tantu akan sulit melupakan semua kenangan meereka secepat ini.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Bram melepas pelukan Helen.


"Yaa, setidaknya mereka meengurusku dengan baik meskipun aku terkurung."


"Duduklah." Perintah Bram, ia sendiri juga duduk di tepi ranjang.


"Kau sudah tau segalanya?"


"Ya, semuanya."


Helen hanya mengangguk mengerti, ia tau apa yang selanjutnya akan terjadi sekarang.


"Helen, semua adalah kesalahanku. Tidak seharusnya aku mencari perempuan lain meski aku mungkin merasa bosan, bagaimanapun aku sudah melakukan semua kesalahan itu selama bertahun-tahun." Jelas Bram.


"Aku tau, ini juga salahku."


"Terimakasih sudah menemaniku selama ini, sudah mau mencintai semua hal yang kurang dariku."


"Apa kau sedang mengucap kalimat perpisahan?" Pandangan Helen mulai berkaca-kaca.


"Mungkin. Aku mencintaimu, tapi untuk saat ini aku hanya akan mementingkan putriku yang sudah aku sia-siakan."


"Kau tau? Aku begitu ingin dan terobsesi menjadi istrimu, aku berulang kali mencoba meluluhkan hati Luca tapi gagal. Sekarang aku tau kenapa ia tidak menerimaku, karena dia tau aku tidak tulus menyayanginya, aku hanya ingin dirimu. Aku mulai iri pada Katrina dan Luca yang mendapatkan cinta dari semua orang."Helen menghapus air mata yang jatuh.


"Itu manusiawi, tapi bagimanapun aku tidak ingin melanjutkan hubungan kita yang berawal dari kesalahan."


"Ya, aku menerimanya. Terimakasih sudah menjadikanku perempuanmu dulu."


"Aku akan memberikanmu hadiah atas semua hal waktu yang kita lewati bersama, kau akan bebas sekarang. Kita akan bertemu jika takdir menentukan, selamat tinggal." Bram bangkit dari sana dan meninggalkan kamar itu tanpa menoleh ke arah Helen lagi, ia harus bersikap tegass sekarang.


Baginya, Helen memang tidak bersalah. Mungkin dia hanya egois dan memliki rasa iri seperti wanita pada umunya, tapi dia harus meninggalkan semua kesalahan di masa lalunya.


Termasuk Helen.


~~~~~~


"Paa, sebentar lagi aku akan turun." jawab Luca sembari menghentikannya ketikannya.


"Baiklah, papa tunggu di bawah." Bram tersenyum dan menutup kembali pintunya.


Di bawah sana sudah lengkap seluruh anggota yang akan makan malam, hanya menunggu dirinya dan Luca.


"Apa rencanamu mengenai Kanya?" Tanya Bram duduk di sana.


"Entahlah, intinya hukuman dia harus sangat berat." Jawab Galang.


Sementara Gior mulai meerasa tidak enak, ia kembali mengingat Elen. Entah bagaimana caranya menjelaskan pada Elen nanti setelah Galang mengambil keputusan.


"Kak, bagaimana dengan nenek tua itu?" Tanya Galaxi pada Galang, karena sampai sekarang Helen masih di tahan di bawah tanah juga. Galang beelum juga mengambil keputuasn apapun pada perempuan itu.


"Kirim dia ke daerah terpencil, pastikan dia tidak memiliki tempat tinggal yang layak. Biar dia tau rasanya bertahan hidup sendirian tanpa uang sepeserpun di sana, lakukan besok." Jelas Galang.


"Kalau Helen?" Giliran Gerald yang bertanya.


Galang melirik Bram, ia sudah mendengar permintaan Bram yang ingin membebaskan Helen.


"Biar Bram yang mengurus perempuan itu."


Luca datang meenghampiri mereka yang sudah lumayan lama menunggu. Galang tersenyum, matanya mengikuti langkah Luca.


"Cantik." Bisik Galang pada Luca yang duduk di sebelahnya.


"Issshh buruan makan." Luca mendorong Galang agar menjauh darinya.


"Harusnya Luca duduk di sini." Bram memandang mereka tidak terima.


"Udah diem, buruan makan." Gerald menyumbat mulut Bram dengan udang yang lumayan besar.


Galang malah semakin nakal dan menggerakkan tangannya di bawah sana mengelus paha Luca.


"Galang." Luca membulatkan matanya, ia kageet Galang menyentuh pahanya. Hal itu malah membuat darahnya berdesir.


Tanpa merasa berdosa ia malah hanya teersenyum genit.


"Dasar mesum." Umpatnya sembari menyuapi nasi ke mulutnya sendiri.


Galang justru semakin bahagia melihat Luca yang kesal, ini seperti hal yang seru baginya.


.


.


.


.


.


Hay readers, menurut kalian gimana? Apa Helen dan Bram lantas berpisah?author tunggu komentar dan likenya☺