LUCA

LUCA
EPISODE 101



Apa yang kau harapkan akan tetap menjadi sebuah harapan.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


"Apakah yang kita lakukan benar dengan menyerang rumah Galang?" Tanya perempuan itu berdiri di samping partnernya.


"Ini akan menjadi pukulan hebat bagi Luca, gadis itu sangat menyayangi mereka." Ucap Lelaki itu masih dengan baju dengan percikan darah sisa tadi.


"Galang pasti akan memburu kita setelah ini." Ucap Wanita paruh baya itu.


"Aku tau, akan lebih baik jika aku juga bisa menghancurkannya." Ucap lelaki itu dengan tenang.


"Kita kehilangan banyak anak buah kita karena perang ini, ini kerugian besar."


"Akan setimpal nanti setelah kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan, dan jika Galang benar-benar bisa kita hancurkan itu akan menjadi keuntungan dua kali lipat." Jelasnya.


"Kau benar, kita harus benar-benar berhasil." Ucap perempuan itu tersnyum puas.


"Tapi aku menginkan satu syarat lagi untukmu."


"Apa?"


"Setelah mendapatkan apa yang kau ingikan, berikan Luca padaku." Ucapnya dengan tegas.


"Tapi aku ingin menyiksanya." Tolak perempuan itu.


"Jangan pernah berani menolaknya."


"Apa kau menyukai dia Adamson? Ujar perempuan itu memastikan.


"Aku menemukan mainan yang unik, tentu aku harus mendapatkannya." Ucap pria yang di panggil Adamson itu sembari pergi dari sana.


Hari ini dia sudah berhasil memberikan pukulan pada Galang, setalah hari ini tentu suasana keluaraga mereka akan tegang.


"Sial, dia malah mengincar gadis itu." Umpat perempuan itu kesal. "Tak apa, tunggu sampai aku mendapatkannya maka aku juga akan menyingkirkan dia." Ucapnya tertawa puas, sebut saja dia adalah iblis yang bahkan ingin mengkhiatinati rekannya.


~~~~~~~~


"Hey bisakah kau mengantarku ke toilet, perutku sangat sakit." Ucap Shina yang sedang di tahan.


"Kau ini sangat berisik sejak semalam, apa perutmu penuh dengan cacing? Sudah berkali-kali aku mengantarmu." Ucap Penjaga itu kesal.


"Ini karena Luca gadis sialan itu, dia meracuniku sampai aku tidak bisa menenangkan perutku."


"Cepatlah aku sudah tidak tahan." Teriak Shina yang semakin merasa sakit pada perutnya.


"Kau ini menyusahkan sekali, ayo cepat." Penjaga bertubuh jakun itu menyeret Shina ke toilet yang dekat dengan ruangan itu.


"Aku baru tau di rumah ini ada tempat yang mengerikan." Ucapnya sembari berjalan ke toilet.


"Kau akan segera menjadi bagian dari mereka, cepat masuk." Penjaga itu mendorong Shina ke dalam.


Cukup lama Shina berada di dalam toilet itu, ia sembari berpikir bagaimana cara keluar dari sana. Tapi sakit perutnya sama sekali tidak mau bekerja sama, dia terus saja menggangu Shina dan membuatnya hampir pingsan karena terus menerus seperti ini.


"Aku sudah tidak tahan, sampai kapan cacing ini perut dari perutku?" Shina mulai merengek.


"Akkkhhhk, huaaaaaaaa." Teriak Shina yang berada di dalam.


"Ada apa?" Tanya penajaga.


Shina sedikit membuka pintunya. "Celana dalamku jatuh dan basah, apa kau bisa mengambilkannya di kamarku." Ucap Shina memelas.


"Kau pikir aku pembantumu?" Bentak lelaki itu tidak terima.


"Lalu apa aku harus keluar dan menjadi tahanan tanpa ****** *****? Kau juga tidak menahan Helen bukan? Mintalah dia membawakannya." Perintah Shina.


"Dasar nenek tua, jika tuan memintaku membunumu, aku akan menguliti kulitmu secara perlahan hingga kau menjerit dan pingsan." Ancam penjaga itu.


Shina bergidik ngeri membayangkan. "Pergilah dulu, Galang belum memintamu membunuhku." Ucap Shina kembali mengingat ****** ********.


Dengan sangat terpaksa lelaki itu menguci kamar mandi dan pergi ke kamar Helen.


"Tubuhku yang kekar dan terlatih malah harus menggotong ****** ***** nenek tua." Serunya cemas.


.


.


.


.


.


Yuk perbanyak komen dan like agar author lebih giat upnya..