
Siapapun bisa menjadi apapun, jangan sampai lengah.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น
Karena merasa ada sesuatu yang aneh, Luca pergi ke kamar Gior. Ia sangat yakin Elen keluar dari sana tadi, apa yang terjadi sebenarnya?
"Elen kenapa?" Luca yang asal masuk itu melihat Gior tersenyum sendiri.
"Kenapa?" Tanya balik.
"Dia lari gitu, abis di apain sama lo?" Tanya Luca curiga.
"Dih, gue tuh gak ngapa ngapain, dia barusan nganter gue doang." Ujar Gior, karena memang bukan dia yang melakukannya.
"Bukan gue, temen lo yang nyosor." Batinnya, ia terus saja mengingat kejadian tadi.
Luca melirik lengan Gior yang terluka, ia jadi mengerrti kenapa Elen mengantarnya kemari.
"Lo abis tauran?" Tanya Luca duduk di sofa.
"Biasalah, anak cowok." Jawabnya.
"Gue pengen lo jaga Elen, dan juga lo sendiri."
"Emang kenapa? Lo udah mau mati." Gior heran mendengar pesan Luca.
"Sebelum kita benar-benar menemukan pengirim boneka itu, kita gak boleh percaya sama siapapun. Gue cuman takut berdampak sama kalian." Luca memang tidak bisa menghilangkan kecemasannya.
"Lo tenang aja, lo yang harus lebih hati-hati."
Setelah menyampaikan hal itu, Luca pergi dari sana. Ia tidak bisa menghilangkan rasa curiga setelah bertemu dengan penguntit itu.
Mungkin ini sudah saatnya ia menemukan orang itu dengan segala kemampuannya. Meskipun ia harus mati nanti, ia ingin mati dengan orang di balik ini semua. Selama ini, tidak pernah ada yang mengganggunya, tentu orang itu menginginkan sesuatu dari Luca.
"Luca." Helen memeluk Luca setelah berlari masuk ke dalam rumah itu.
Luca terdiam, dia tidak tau kenapa perempuan itu datang tiba-tiba.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Helen lagi, melepas pelukannya.
"Helen?" Galang datang menghampiri mereka. "Kapan lo balik? Mana Bram?" Tanyanya lagi.
"Panjang ceritanya Galang." Ucapnya.
"Duduklah." Ucap Galang mempersilahkan.
Luca hanya terdiam dia sama sekali tidak mengeluarkan ekspresi apapun.
Galang memanggil ketiga saudaranya, di sanalah Helen mulai menceritakan apa yang terjadi. Dia menceritakan tentang dirinya dan Bram yang sudah putus, dan juga ancaman Bram. Bahkan, ia juga kabur dengan sembunyi melakukan penerbangan.
"Bram sahabat gue Helen, mungkin dia sangat mencitai lo." Ucap Galang.
"Tapi hubungan gak bisa berjalan sepihak kak, kalo Helen udah ngerasa gak nyaman ngapain dia terusin." Jawab Galaxi.
"Gue sih paling kesel sama nyokap lo, bisa-bisanya dia begitu." Tambah Gior.
"Gue ke kamar dulu." Luca meninggalkan meraka tanpa ikut campur pembicaraan itu.
Helen menatap sedih, Gadis itu memang tidak bisa menerima dirinya sampai kapanpun.
"Lo tinggal di sini dulu, Bram gak mungkin cari maslaah sama gue." Galang memberi solusi.
"Tapi Lang."
"Masalah Luca biar gue yang urus." Ucapnya mengerti kekhawatiran Helen.
Sementara Luca yang berada di kamarnya memilih merebahkan tubuhnya di kasur. Pikirannya terus saja berputar, ia masih tidak mengerti kenapa semua hal tejadi tiba-tiba pada dirinya.
Putusnya Helen dan Bram baginya sangat mustahil, ia sangat tau bagaimana Helen sangat menempel pada Bram selama ini. Penguntit yang tiba-tiba datang mengawasinya, dan teror boneka yang baru saja ia alami.
Sebenarnya ada apa?
Kenapa semua terjadi tiba-tiba, seseorang yang menyerangnya pasti akan mengetahui dirinya terlebih dahulu. Selama ini tidak ada orang di sekelilingnya kecuali Bram dan Helen yang terus menempel pada ayahnya. Tentu perempuan itu tau tentang boneka itu dan kematian ibunya, orang lain tidak akan mengetahui keluarga mereka secara dalam.
Bahkan Helen sudah menerima sumpah untuk tidak memberitahu siapapun tentang Luca dan keluarganya.
"Kenapa Helen datang di saat seperti ini?"
"Siapa sebenarnya yang berbohong di sini?"
.
.
.
.
.
.
Gimana nih menurut kalian?
berikan komentar dan jangan lupa like yaa..๐น๐น