
Beginilah cinta.
🌹🌹🌹🌹🌹
“Tuan.” Panggil lelaki yang galang perintahkan untuk mengawasi Luca.
“Masuklah.” Ucap Galang saat lelaki itu hanya berdiri di depan pintu.
Lelaki itua melirik ketiga saudara Galang lainnya, ia merasa ragu berbicara ha; itu di depan mereka.
“Katakan saja.” Galang menatap lelaki itu dan mengerti aka napa yang ada di benaknya.
Lelaki itu menjelaskan semua kejadian dan masalah yang Luca alami saat ini, bahkan ia begitu detail dalam menceritakan semua kejadia itu. Ia tidak melewatkan satupun hal yang ia ketahui tentang masalah Luca, karena ini adalah tugasnya.
“Kenapa dia gak minta bantuan gue aja?” Tanyanya oada diri sendiri.
“Mohoon maaf tuan, sepertinya noona ingin mengatasi masalah ini sendiri. Noona bersikaeras ingin menyelesaikan masalah ini tanpa campur tangan tuan, meskipun Elen sudah menyarankannya.”
“Hmmmm, dia emang yang paling cantik.” Serunya sembari menopang dagu dengan tangannya membayangkan wajah Luca saat dia kesal atau menantang musuhnya.
Di otaknya, tidak ada yang lebih hebat dari keangkuhan gadis itu.
“Dih, dasar gak waras.” Gumam Gior pada kedua sadauranya melihat Galang tersenyum sendiri.
“Tapi tuan, masalahnya adalah. Ada lelaki yang tengah mendekati noona, dan sepertinya hubugan mereka cukup dekat.” Lelaki itu tak lupa memberitahu tentan Juan saat mengetahui kebersamaan mereka beberapa kali.
“Siapa?” Tanya Galang lansung menurunkan tangannya.
“Namanya Juan, dia adalah ketua basket dekolah itu. Dia lelaki yang sangat popular dan banyak di kejar wanita di sana, dan sepertinya ia menyukai noona. Terlihat beberapa kali ia membantu noona, dan ia juga selalu mentapnya diam-diam.” Jelas lelalki itu menghidupkan api kecemburuan Galang.
“Nahkan, udah gue duga kak. Mungkin sekarang Luca udah sadar diri dan memilih untuk menjalin hubungan dengan yang sepadan, bukan sama yang renta.” Celoteh Galaxi, galang langsung menatapnya tajam.
“Cepat bantu Luca menyelesaikan masalah ini, tapi jangan sampai dia tahu. Dia harus melakukan apa yang dia mau.” Perintah galang menyuruh lelaki itu pergi.
“Baik tuan.” Lelaki itu meninggalkan ruangan Galang.
“Pantesan dia gak mau nikah, udah ada yang lebih pas.” Gior masih melanjutkan perbincangan seputar Luca.
Galang melepas sepatunya dan menimpuk Gior dengan itu.
“Aaaaawww, sensi banget. Lagi pms ya?” Ujarnya setelah kena timpuk.
Gerald dan Galaxi tertawa melihat wajah jengkel Galang.
“Biasalah, takut kalah saing.” Sahut Gerald.
“Padahal gue ganteng, kaya, sukses, dewasa. Kurang apa lagi cobak?” Tanyanya pada cermin sembari memandang sisi ketampanan dirinya.
“Diem lo, buruan kerjain. Kasih ke gue satu jam lagi, awas kalau belum selesai.” Perintahnya menunjuk mereka bertiga.
Karena merasa gerah, ia beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan ruangan itu.
Entah ini adalah panas karena cuaca atau karena rasa cemburu yang membakarnya.
“Gak di awasin dikit malah ngelunjak tu anak.” Seru nya menendang kursi.
“Gue kurung juga dia di rumah.”
“Ada yang bisa saya bantu tuan?” Tanya salah satu pelayan yang melihat Galang.
“Gue mau nanyak.”
“Iya tuan?”
“Gue ganteng gak?”
“Ganteng banget tuan, baik jugak.” Serunya sembari tersenyum malu.
“Terus gue kurang apa?” Tanyanya lagi.
“Gak ada tuan, udah sempurna.” Karyawan perempuan itu mulai bingung dengan maksud pertanyaan Galang.
“Gue kelihatan tua gak?”
“Mmmmmhhh Sedikit.” Ucap setelah lumayan lama memandang wajah Galang.
“Heh beraninya kamu.”
“Maaf tuan.” Perempuan itu langsung tertunduk takut.
“Sana pergi.”
Galang menarik nafasnya lama, beraninya ada orang yang mengatakan ia tua.
.
.
.
.
ayuk tinggalkan jejak kalian.