LUCA

LUCA
EPISODE 50



Seseorang mengatakan, benci adalah awal dari cinta.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


"Luca kok kran kamar mandi lo gak keluar air?" Elen keluar dari kamar mandi Luca.


"Mungkin ada yang rusak, lo bisa pakai kamar mandi Galang. Kamar dia di timur, dia juga belum dateng." Jawab Luca.


Elen segera berlari keluar karena tidak tahan." Duuhh yang mana nih? Kenapa banyak?" Elen baru menyadari kamar mereka berjajar.


"Luca bilang yang timur, mungkin yang paling ujung deket tangga." Elen segera berlari menuju kamar itu dan masuk.


Tak lupa ia mengunci pintu takut ada yang masuk.


Amann..


Tidak ada orang di dalam, dia bisa segera pergi ke kamar mandi.


Krekkkkk!


Elen membuka kamar mandi." Aaaaaaaaa." Teriak Elen melihat sosok laki-laki di dalam sana.


Syukurlah lelaki itu sudah mengikat handuk di pinggangnya. Jika tidak, entah apa yang akan dia lihat.


Gior yang melihat Elen langsung menutup mulutnya dan menempelkannya di dinding.


Perlakuan Gior semakin membuat Elen kaget.


Dasar cowok mesum.


"Lo ngapain di kamar gue?" Gior melepas tangannya dari mulut Elen.


"Guuu gue mau pipis, gue pikir kamar Galang." Elen sudah hampir menangis.


"Bohong, lo pasti mau ngintip gue mandi." Gior semakin mendekatkan dirinya.


"Iiihhhh, dasar otak mesum. PD banget lo, gue cuman mau numpang pipis." Elen mendorong tubuh Gior.


"Lo bisa pake kamar mandi Luca." Gior bersedekap.


Elen menelan paksa Saliva nya, ia baru menyadari Gior sedang bertelanjang dada.


"Duuhjj roti sobek." Pikiran Elen semakin kemana-mana.


Elen menggelengkan kepala menyingirkan pikirannya." Kamar mandi Luca lagi rusak, kalo gak percaya tanya aja sana." Elen menunjuk ke arah luar.


Ia juga baru sadar mereka ada di kamar mandi, bagaimana kalau Gior macam-macam.


"Oke lo bisa pakek." Gior keluar dengan santainya.


Elen langsung mengunci pintu dan menarik nafasnya.


Dia hampir terkena serangan jantung karena lelaki itu.


Elen segera menuntaskan apa yang ia tahan sejak tadi, tak lupa ia menyalakan kran supaya kegiatannya itu tidak terdengar oleh Gior.


Dia bisa saja sedang menguping bukan?


Setelah selesai, ia langsung keluar dari kamar mandi." Makasih ya." Ucapnya tersenyum pada Gior, tapi lelaki itu belum juga memakai baju.


"Huuuh pamer sekali." Elen mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Terasa sesuatu yang bergerak jatuh di kepala Elen, ia langsung meraihnya.


"Aaaahhhhh cicak." Teriaknya melempar cicak yang ia pegang dan malah berlari memeluk Gior dan mengalungkan kakinya ke pinggang Gior.


Ia sangat jijik dengan cicak itu, jangan sampai merayap ke kakinya.


Gior hanya menatap Elen tanpa merasa terkejut.


Elen yang menyadari posisinya malah menatap Gior, dia benar-benar sudah gila hingga gendong ke pria ini.


"Lo nyari kesempatan?"


"Haahh? Gue gak sengaja, maafin gue ya." Elen berusaha turun tapi Gior menahan tubuhnya.


"Lo jangan mancing gue." Gior mendekati wajah Elen.


"Omm ampun, gue beneran gak sengaja." Elen menyatukan kedua tangannya dan hampir jatuh, untung Gior sigap memeluknya.


"Lo pikir gue setua itu?"


"Hehehe, mungkin." Elen nyengir.


"Lo harus tanggung jawab, lo udah bikin adik gue bangun." Ujar Gior.


Elen menoleh kesana-kemari." Emang lo punya adik?" Tanya Elen bingung.


"Ada kok, lo mau liat?" Gior tersenyum mencurigakan.


"Ehh nggak, gue mau turun." Elen tidak ingin berurusan dengan lelaki ini lebih jauh.


"Cium gue." Ucap Gior tanpa ragu.


Plakk!!


Elen mengeplak kepala Gior, lelaki itu benar-benar mesum.


"Aaauuu, gila lo ya." Gior melepas satu tangannya untuk menyentuh kepalanya yang kesakitan.


Elen menggunakan kesempatan itu untuk berontak, dan ia berhasil turun.


"Wleekkk." Elen mengeluarkan lidahnya meledek dan berlari dari sana.


"Awas aja lo ya." Gior mengumpat kesal, kepalanya masih terasa sakit.


.


.


.


.


.


.


CIEE GIMANA NIH?? KALIAN SETUJUNYA ELEN SAMA SIAPAA??


KOMEN YAA, LIKE JANGAN LUPA.